Beranda Artikel 0-12 Bulan Bayi Baru Lahir Sering BAB, Wajar Nggak Sih?

Bayi Baru Lahir Sering BAB, Wajar Nggak Sih?

2022/02/16 - 10:03:12am     oleh Morinaga Soya
Bayi baru lahir sering BAB

Bayi yang baru lahir sering buang air besar (BAB) adalah kondisi yang wajar, terutama setelah minum air susu ibu (ASI). Bahkan frekuensi BAB bisa sampai 10 kali dalam sehari Bun. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa Si Kecil menerima cukup asupan makanan dan cairan. Sering BAB juga menunjukan bahwa Si Kecil tidak mengalami dehidrasi ataupun sembelit. Kondisi ini biasanya berlangsung selama 6 minggu pertama setelah Si Kecil lahir.

Awalnya, saat ia lahir, Si Kecil akan mengeluarkan kotoran pertamanya yang biasa disebut dengan mekonium selama 24-48 jam pertama. Feses atau kotoran pertama Si Kecil akan berwarna hijau gelap dan memiliki tekstur seperti oli yang cenderung lengket. Barulah setelah melewati tahap ini, feses Si Kecil perlahan akan berubah, tekstur dan bentuknya.

Frekuensi BAB Bayi Baru Lahir

Ada beberapa hal yang perlu Bunda ketahui saat Si Kecil baru lahir, terutama bila ini adalah pertama kalinya Bunda memiliki momongan. Salah satu hal yang perlu diketahui adalah seputar BAB. Tinja merupakan buangan sisa makanan yang tidak tercerna dan diserap oleh tubuh. Pada Si Kecil yang masih bayi, kondisi feses yang dikeluarkan menggambarkan kondisi kesehatannya. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk perlu mengetahui kondisi seputar BAB Si Kecil agar bisa mendeteksi dan melakukan pencegahan dini terhadap suatu penyakit.

Menurut lama IDAI, normal atau tidaknya BAB sangat bergantung pada usianya. Bayi dengan usia 0-1 bulan normalnya akan BAB lebih sering, bahkan bisa sampai 10 kali dalam sehari. Hal ini terjadi akibat refleks gastrokolik yang masih kuat pada Si Kecil. Refleks tersebut terjadi ketika lambung diisi, usus besar akan terangsang sehingga menimbulkan sensasi ingin BAB.

Jangan langsung cemas bila tinja Si Kecil berwujud cair, berbusa, hingga berbau asam. Menurut laman Web MD, Kondisi ini terjadi lantaran usus bayi belum berfungsi sempurna, sehingga gula susu (laktosa) pun tidak tercerna dengan baik. Gas berbuih yang timbul pada tinja terbentuk karena proses BAB Si Kecil mirip dengan proses fermentasi pada tape ketan. Laktosa yang tidak sempurna dicerna usus halus kemudian masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri. Sementara, bau asam yang timbul terjadi karena asam-asam organik yang terbentuk akibat fermentasi tersebut. Selama Si Kecil menunjukan kenaikan berat badan yang cukup signifikan, dan ia tampak sehat, maka hal tersebut masih normal. Bila berlarut dan Si Kecil kerap rewel serta tidak nyaman, maka segeralah periksakan ke dokter.

Menginjak usia dua bulan, frekuensi BAB pada Si Kecil akan menjadi berkurang. Hal ini cukup normal, karena pada usia tersebut, saluran cerna Si Kecil sedang berkembang. Refleks Gastrokolik mulai kendur, enzim laktase untuk mencerna laktosa sudah mencukupi, fermentasi laktosa juga semakin berkurang sehingga tekstur tinja Si Kecil mulai kental. Meski demikian karena koordinasi otot yang belum sempurna di sekitar anus, maka tekstur tinjanya tetap lembek. Semua hal ini akhirnya akan membuat frekuensi BAB nya menjadi berkurang.

Frekuensi BAB Si Kecil yang baru lahir berbeda-beda tergantung jenis makanan atau susu yang diberikan. Dengan kata lain, Si Kecil yang diberi ASI dan susu formula bisa memiliki frekuensi BAB yang berbeda. Berikut ini adalah perbedaan ciri dan frekuensi BAB Si Kecil yang baru lahir berdasarkan jenis susu yang ia konsumsi:

  • Frekuensi BAB Bayi yang Diberi ASI

Selama 6 minggu pertama, frekuensi BAB saat Si Kecil baru lahir akan cukup sering, terutama setelah diberi ASI. Setidaknya Si Kecil akan BAB 3 kali sehari, tapi frekuensinya terkadang bisa lebih sering hingga 4-12 kali dalam sehari.

Bila fesesnya nampak encer, jangan langsung panik ya Bunda. Hal ini menandakan bahwa ia baru menyerap nutrisi yang terkandung dalam ASI dengan baik. Feses Si Kecil yang diberi ASI memang cenderung lebih encer selama 3 bulan pertama.

Saat kolostrum atau merupakan cairan susu yang keluar sebelum produksi ASI dimulai telah berubah menjadi ASI matang, yaitu sekitar 2-3 hari setelah proses melahirkan, Si Kecil setidaknya akan BAB 2-5 kali dalam sehari. Dan setelah fase mengeluarkan mekonium, warna feses Si Kecil yang diberi ASI akan berubah menjadi hijau kekuningan.

  • Frekuensi BAB Bayi yang Diberi Susu Formula

Bila Si Kecil diberikan susu formula sedari lahir, maka normalnya ia akan memiliki frekuensi BAB 1-4 kali sehari. Namun seiring bertambahnya umur, frekuensinya akan menurun menjadi 2 hari sekali. Konsistensi tinja nya pun kadang berbeda dengan Si Kecil yang diberi ASI. Si Kecil yang mengonsumsi susu formula memiliki tinja yang lebih lengket dan padat menyerupai selai kacang. Jika teksturnya lebih keras, Bunda mungkin bisa mengecek apakah Si Kecil mengalami sembelit.

Usai mengeluarkan mekonium, warna feses Si Kecil yang meminum susu formula juga kana berubah menjadi hijau kekuningan, dan hal ini merupakan hal yang wajar.

Penyebab Perubahan Frekuensi BAB Si Kecil

Ketika Si Kecil memasuki usia 6 bulan, Si Kecil kemungkinan besar sudah mulai diperkenalkan dengan makanan padat (MPASI). Peralihan ini tentu akan membuat frekuensi BAB serta tekstur feses menjadi berubah. Bukan hanya itu, namun peralihan pemberian ASI ke susu formula juga bisa menyebabkan perubahan pada frekuensi BAB, tekstur tinja, ataupun warna BAB pada Si Kecil.

Jika Si Kecil sebelumnya diberi ASI, frekuensi BABnya akan lebih sering saat sudah mengonsumsi makanan padat. Sedangkan pada Si Kecil yang diberi susu formula, frekuensi BAB akan menjadi 1-2 kali dalam sehari setelah diperkenalkan dengan makanan padat.

Ketika memulai MPASI, konsistensi feses yang awalnya mungkin encer akan mulai berbentuk seperti selai kacang, tekstur lebih keras dibanding sebelumnya, dan baunya akan tercium lebih kuat.

Tanda-tanda Pada BAB Bayi yang Harus Diwaspadai

Meskipun merupakan hal yang normal bagi Si Kecil untuk memiliki frekuensi BAB yang sering, namun Bunda juga tidak boleh lengah dan memastikan Si Kecil tetap sehat dan tidak sedang menunjukan gejala ia tengah sakit. Segera bawa Si Kecil untuk menemui dokter bila Si Kecil memiliki gejala berikut ini:

  • Fesesnya berwarna kehitaman, cerah atau berwarna putih, merah marun atau bahkan mengeluarkan darah

  • BAB 3-4 kali lebih banyak dari biasanya dan mengandung lendir atau mencret

  • Lemas dan kurang mau minum atau makan

  • Tidak aktif seperti biasanya

  • Bibir terlihat kering

  • Menangis dan rewel

Bunda juga harus waspada saat frekuensi BAB Si Kecil yang sebelumnya sering menjadi jarang. Apalagi jika disertai dengan konsistensi feses yang keras, kering, dan Si Kecil terlihat sulit mengeluarkannya.

Bila Bunda merasa frekuensi BAB Si Kecil berhubungan erat dengan reaksi alergi yang mungkin dimilikinya, maka ada baiknya bila Bunda segera memeriksakannya ke dokter.

Bunda bisa memeriksakannya secara gratis di Tes Alergi Morinaga Soya untuk mengetahui seberapa besar resiko Si Kecil mengalami alergi. Setelah mengetahuinya akan lebih mudah bagi Bunda untuk mengantisipasi kondisi Si Kecil. Yuk coba tes alergi pada Si Kecil, dengan klik halaman berikut: https://morinagasoya.com/id/cek-alergi/cegah





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu