Beranda Artikel 0-12 Bulan Bayi Sering BAB Sedikit-Sedikit? Ini Penyebabnya

Bayi Sering BAB Sedikit-Sedikit? Ini Penyebabnya

2023/10/28 - 04:49:47pm     oleh Morinaga Soya
Penyebab bayi sering BAB

Diperbarui: 27 September 2026

Bayi sering BAB sedikit-sedikit bisa terjadi karena refleks pencernaan setelah menyusu dan tidak selalu menandakan masalah kesehatan. Namun, Bunda perlu memperhatikan kondisi Si Kecil secara menyeluruh, termasuk tekstur feses, frekuensi BAB, kemampuan menyusu atau makan, jumlah popok basah, serta ada atau tidaknya demam, muntah, darah, dan tanda dehidrasi.

Jika BAB menjadi sangat cair, jauh lebih sering dari pola biasanya, atau Si Kecil tampak lemas dan sulit menyusu, segera konsultasikan kepada dokter.

Bayi Sering BAB Apakah Normal?

Bayi sering BAB dapat menjadi hal yang normal, terutama bila Si Kecil tetap aktif, menyusu dengan baik, dan berat badannya bertambah sesuai pemantauan. Pada bayi, BAB juga dapat keluar sedikit-sedikit setelah menyusu karena refleks gastrokolik, yaitu respons alami ketika lambung terisi dan usus mulai bergerak.

Namun, frekuensi BAB tidak dapat menjadi satu-satunya patokan. Bunda juga perlu memperhatikan apakah feses sangat cair, terdapat darah atau lendir dalam jumlah banyak, serta apakah Si Kecil mengalami demam, muntah, atau tanda dehidrasi.

Penyebab Bayi Sering BAB Sedikit-Sedikit

Sering BAB itu normal, sebab memang sebagian besar waktu Si Kecil dihabiskan dengan tidur dan menyusu. Bahkan, tidak jarang juga ia BAB saat sedang disusui, lalu kemudian BAB lagi ketika sudah selesai menyusu.

Selama ia terlihat nyaman, keinginan menyusu tetap kuat, dan berat badannya pun bertambah secara sehat, maka Bunda tidak perlu khawatir mengenai frekuensi BAB si Kecil.

Jika ia diberikan ASI, tinjanya akan menjadi lebih encer daripada feses bayi yang minum susu formula.

Sebaliknya, Bunda perlu waspada apabila Si Kecil terlihat rewel, dan fesesnya lebih keras, berbuih atau berbau asam, berlendir, atau bahkan berdarah. Kondisi tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa hal, seperti:

Refleks gastrokolik setelah menyusu

Bayi dapat BAB tidak lama setelah menyusu karena gerakan usus meningkat ketika lambung terisi.

Sistem pencernaan yang masih berkembang

Pada bayi, pola BAB dapat berubah-ubah seiring perkembangan saluran pencernaan.

Perubahan asupan atau mulai MPASI

Pada bayi 6 bulan ke atas, makanan baru dapat mengubah frekuensi, warna, dan tekstur BAB.

Diare atau infeksi saluran cerna

Lebih perlu dicurigai bila feses menjadi sangat cair, frekuensinya meningkat tajam, atau disertai demam dan muntah. Bila BAB Si Kecil tampak berwarna hijau dan encer, Bunda bisa mengecek dulu panduannya agar tidak panik.

Sensitivitas terhadap asupan tertentu

Bila keluhan muncul berulang setelah susu atau makanan tertentu, konsultasikan kepada dokter. Bunda bisa mengenali lebih dulu tanda bayi alergi susu formula agar tidak tertukar dengan keluhan biasa. Jangan langsung mengganti susu atau menghilangkan makanan tanpa arahan tenaga kesehatan.

Jika kondisi ini terjadi, maka sebaiknya Bunda segera berkonsultasi pada dokter. Dari gejala-gejala tadi, Bunda juga perlu mengantisipasi bahwa Si Kecil mengalami intoleransi laktosa, sehingga mengalami BAB yang demikian.

Kenali juga seperti apa gejala bayi yang mengalami intoleransi laktosa, Bun: Intoleransi Laktosa pada Bayi: 6 Gejala yang Harus Diketahui.

Dalam beberapa kasus, bayi yang BAB terus-menerus, meskipun dalam jumlah kecil, bisa dipicu oleh sistem pencernaan yang masih beradaptasi. Khususnya pada minggu-minggu awal setelah lahir, usus bayi sedang dalam tahap pembentukan flora normal yang akan membantu proses pencernaan.

Proses ini bisa menyebabkan bayi BAB lebih sering dari biasanya. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan masih tergolong normal, apalagi jika bayi tetap tampak aktif dan tidak menunjukkan tanda dehidrasi. Namun, bila frekuensi BAB terlihat meningkat drastis dalam sehari dan disertai perubahan tekstur menjadi sangat cair, maka sebaiknya Bunda memeriksakan Si Kecil ke dokter. Bisa jadi, ini merupakan gejala awal diare atau ketidakcocokan dengan asupan makanan tertentu.

Warna BAB Bayi

Warna feses Si Kecil berkaitan erat dengan kondisi kesehatannya. Berikut beberapa warna feses yang sering ditemui.

Merah. Jika Bunda mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna makanan dan beberapa jenis obat-obatan tertentu dan Bunda masih menyusui, maka feses Si Kecil dapat menjadi berwarna merah. Namun, warna merah juga dapat disebabkan adanya darah dalam saluran cerna yang terjadi karena sembelit.

Kuning. Warna ini merupakan warna feses yang normal pada bayi yang mengonsumsi ASI. Tetapi jika rona kuningnya memucat, umumnya ini merupakan warna khas anak yang mengonsumsi susu formula.

Hijau Gelap. Feses dengan warna ini disebut mekonium atau feses pertama bayi. Kondisi warna feses ini termasuk normal

Hitam. Warna hitam menandakan perdarahan internal yang perlu segera ditolong dokter.

Putih. Warna feses ini menunjukkan masalah kesehatan, seperti gangguan liver yang menyebabkan sumbatan cairan empedu.

Apakah Bayi Sering BAB Tanda Diare?

Bayi yang sering BAB belum tentu mengalami diare. Pada bayi, terutama yang mendapat ASI, feses memang dapat lebih lunak dan frekuensi BAB dapat lebih sering. Diare lebih perlu dicurigai bila terjadi perubahan mendadak dari pola biasanya, feses menjadi sangat cair, frekuensinya meningkat, atau disertai muntah, demam, darah pada feses, sulit menyusu, dan tanda dehidrasi.

Jika Si Kecil mengalami diare, lanjutkan pemberian ASI. Untuk cairan tambahan atau oralit, ikuti petunjuk tenaga kesehatan. Jangan memberikan obat antidiare atau antibiotik tanpa resep dokter. WHO dan UNICEF merekomendasikan agar pemberian ASI tetap dilanjutkan selama diare serta tanda dehidrasi dipantau.

Tanda-Tanda pada BAB yang Perlu Diwaspadai

Baik frekuensi maupun konsentrasi feses Si Kecil akan cenderung dinamis seiring dengan pertambahan usia juga kebiasaan makan mereka. Namun, ada beberapa tanda yang bisa Bunda waspadai bahwa Si Kecil mungkin sedang jatuh sakit, antara lain:

  • Diare
  • Feses Si Kecil yang berwarna kehitaman, merah, atau putih
  • Bibir yang tampak kering
  • Menangis tanpa mengeluarkan air mata
  • Tidak mau makan ataupun minum

Apabila Si Kecil menunjukkan tanda-tanda ini, Bunda harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat untuk ditangani dengan dengan tepat. Bila Si Kecil juga muntah atau rewel berkepanjangan, catat waktu munculnya gejala untuk membantu dokter menegakkan diagnosis.

Peran Bakteri Baik Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Melansir dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), perlu dipahami bahwa saluran pencernaan Si Kecil merupakan benteng pertahanan dari pengaruh lingkungan luar tubuh. Sebagai pertahanan, saluran pencernaan ini berfungsi menghadapi mikroba yang dapat menyebabkan penyakit. Selain itu, saluran ini juga mengatur tubuh agar lebih toleran terhadap alergen.

Untuk menjalankan fungsi pertahanan ini, di dalam saluran pencernaan, terdapat banyak bakteri baik seperti Bifidobacteria dan Lactobacillus yang mendukung kesehatan pencernaan. Apabila Si Kecil mengonsumsi ASI, ia akan memperoleh tambahan Bifidobacteria, karena bakteri ini juga terdapat di dalam ASI.

Keberadaan Bifidobacteria membantu daya tahan Si Kecil terhadap mikroba, dengan mencegah infeksi yang dapat menyebabkan diare. Jadi, apabila Si Kecil mendapatkan asupan yang penuh nutrisi, terutama ASI eksklusif, maka umumnya pencernaannya akan selalu sehat.

Bunda, apapun frekuensi BAB bayi, selama ia masih aktif dan tampak gembira serta mengalami peningkatan pertumbuhan berat badan yang teratur, maka sebetulnya Bunda tak perlu mengkhawatirkannya. Namun, kadang-kadang Bunda dapat menjadi risau apabila buang air besarnya baik-baik saja, dan Bunda merasa telah memberikan ASI dengan rutin dan mengonsumsi banyak nutrisi, tetapi berat badan Si Kecil tidak kunjung bertambah.

Bunda dapat mencoba beberapa cara untuk meningkatkan berat badannya agar ia dapat bertumbuh dengan optimal meskipun ia masih menyusu eksklusif. Yuk, ketahui cara menambah berat badannya di sini: Cara Aman Menaikkan Berat Badan Bayi ASI Eksklusif.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah bayi sering BAB sedikit-sedikit itu normal?

Bisa normal, terutama jika bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan feses tidak sangat cair. Kondisi ini dapat terjadi karena refleks alami setelah menyusu.

Kenapa bayi sering BAB tapi sedikit?

Penyebabnya dapat berupa refleks gastrokolik, sistem pencernaan yang masih berkembang, perubahan asupan, atau diare. Perhatikan tekstur feses dan kondisi bayi secara keseluruhan.

Bayi sering BAB apakah selalu diare?

Tidak. Bayi dapat BAB sering tanpa mengalami diare. Diare lebih dicurigai bila feses sangat cair, frekuensinya meningkat jelas dari pola biasanya, atau disertai muntah, demam, dan tanda dehidrasi.

Bayi 4 bulan sering BAB apakah normal?

Bisa normal bila bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan feses tidak sangat cair. Jika ada darah, muntah, demam, atau bayi tampak lemas, konsultasikan kepada dokter.

Bayi 6 bulan sering BAB setelah MPASI apakah normal?

Perubahan makanan saat mulai MPASI dapat mengubah frekuensi dan tekstur BAB. Perkenalkan makanan secara bertahap dan pantau gejala penyerta.

Referensi

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI. Tinja Bayi: Normal atau Tidak? https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/tinja-bayi-normal-atau-tidak-bagian-1
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI. Saluran Cerna, Benteng Kesehatan Anak (Bagian 1). https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/saluran-cerna-benteng-kesehatan-anak-bagian-i
  • Baby Center. Is it normal that my newborn poops after every feeding? https://www.babycenter.com/baby/diapering/is-it-normal-for-my-baby-to-poop-after-every-feeding_3652446
  • American Academy of Pediatrics. Baby's First Days: Bowel Movements & Urination. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/babys-first-days-bowel-movements-and-urination.aspx
  • American Academy of Pediatrics. Infant Constipation. Updated May 12, 2022. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Infant-Constipation.aspx
  • World Health Organization and UNICEF. Clinical Management of Acute Diarrhoea. https://data.unicef.org/wp-content/uploads/2021/07/WHO-UNICEF_JOint-Statement_clinical-management-of-acurte-diarrhoea.pdf
  • Children's Hospital Colorado. Baby Poop Guide. https://www.childrenscolorado.org/just-ask-childrens/articles/baby-poop-guide/


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca