Diperbarui: 27 September 2026
BAB bayi berbusa tidak selalu berbahaya dan sering kali terjadi karena gas yang bercampur dengan feses. Pada sebagian bayi, kondisi ini dapat berkaitan dengan pola menyusu atau perubahan sementara pada pencernaan. Namun, Bunda perlu waspada bila BAB berbusa disertai diare, muntah, demam, bayi sulit menyusu, tampak lemas, atau frekuensi pipis berkurang.
Untuk mengetahui penyebabnya, Bunda perlu memperhatikan kondisi Si Kecil secara keseluruhan, bukan hanya tampilan fesesnya. BAB berbusa dapat berkaitan dengan pola menyusu, infeksi saluran cerna, atau gangguan pencernaan tertentu. Jika keluhan berulang atau disertai gejala lain, konsultasikan dengan dokter anak.
Apa Penyebab BAB Bayi Berbusa
Beberapa faktor dapat menyebabkan feses berbusa pada bayi. Faktor-faktor ini termasuk ketidakseimbangan antara foremilk dan hindmilk, infeksi, serta intoleransi laktosa. Memahami penyebab-penyebab ini akan membantu Bunda mengenali apakah kondisi ini tergolong normal atau memerlukan perhatian medis lebih lanjut.
Foremilk dan Hindmilk yang Tidak Seimbang
Pada saat menyusui, penting bagi Si Kecil untuk mendapatkan keseimbangan yang tepat antara foremilk dan hindmilk. Foremilk adalah ASI yang lebih encer dan kaya akan air, sedangkan hindmilk adalah ASI yang lebih kental, mengandung lebih banyak lemak dan kalori. Jika Si Kecil hanya mengkonsumsi foremilk karena berhenti menyusu terlalu cepat, ia mungkin mengalami pencernaan yang kurang sempurna.
Ketika Si Kecil mendapat lebih banyak foremilk daripada hindmilk, pencernaannya bisa terganggu. ASI yang lebih encer mengandung lebih banyak laktosa yang belum tercerna dengan baik, menghasilkan gas berlebih di usus. Gas ini akhirnya keluar bersama feses, menyebabkan feses berbusa. Bunda bisa membantu mengurangi kondisi ini dengan membiarkan Si Kecil menyusu lebih lama di satu payudara untuk mendapatkan hindmilk.
Meskipun feses berbusa akibat ketidakseimbangan ini biasanya tidak berbahaya, Bunda perlu memastikan bahwa Si Kecil tidak mengalami gejala lain seperti diare atau demam. Jika Si Kecil tampak nyaman, Bunda tidak perlu khawatir berlebihan.
Infeksi yang Memicu Busa pada Feses
Infeksi dalam saluran pencernaan seringkali memicu pup berbusa pada bayi. Infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit dapat menyebabkan peradangan pada usus, yang akhirnya mempengaruhi proses pencernaan dan menyebabkan gas berlebih. Biasanya, infeksi disertai dengan gejala lain seperti demam, diare, atau muntah.
Parasit seperti Giardia adalah penyebab infeksi yang kerap dikaitkan dengan pup berbusa. Infeksi ini dapat terjadi ketika bayi memasukkan tangan yang kotor ke dalam mulut. Selain busa pada feses, gejala infeksi bisa berupa perut kembung, demam, dan diare berulang.
Intoleransi Laktosa pada Si Kecil
Intoleransi laktosa adalah salah satu penyebab umum feses berbusa pada bayi, terutama setelah mereka mulai mengenal makanan padat. Pada bayi yang mengalami intoleransi laktosa, tubuh mereka kekurangan enzim laktase yang diperlukan untuk mencerna laktosa, gula alami dalam susu. Ketika laktosa tidak tercerna dengan baik, bakteri di usus akan memfermentasinya, menghasilkan gas yang keluar bersama feses.
Gejala lain yang sering muncul akibat intoleransi laktosa termasuk perut kembung, diare, dan rasa tidak nyaman setelah menyusu. Jika Si Kecil mulai menunjukkan gejala-gejala ini setelah mengkonsumsi susu formula atau produk yang mengandung laktosa, intoleransi laktosa bisa menjadi penyebabnya. Untuk mengatasinya, Bunda dapat mengganti susu formula dengan yang bebas laktosa dan memantau reaksi tubuh Si Kecil. Bila Si Kecil muntah atau tampak tidak nyaman setelah minum susu, catat polanya untuk didiskusikan dengan dokter.
Memantau asupan susu dan makanan Si Kecil sangat penting untuk memastikan mereka tidak mengalami gangguan pencernaan lebih lanjut. Jika gejala berlanjut, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran dan pemeriksaan lebih lanjut.
Alergi Susu Sapi
Alergi susu sapi pada bayi merupakan reaksi imun tubuh terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Ini adalah salah satu alergi makanan yang paling sering ditemui pada bayi, terutama yang baru diperkenalkan dengan susu formula atau produk susu sapi. Ketika bayi mengkonsumsi susu sapi, sistem kekebalan tubuh menganggap protein dalam susu sebagai ancaman dan memproduksi antibodi untuk melawan zat tersebut. Akibatnya, bisa muncul berbagai gejala, termasuk feses berbusa. Kenali lebih jauh tanda alergi susu sapi pada bayi agar tidak tertukar dengan keluhan biasa.
Feses berbusa pada bayi yang mengalami alergi susu sapi biasanya disebabkan oleh kesulitan pencernaan terhadap protein susu sapi yang tidak tercerna dengan baik. Selain itu, bayi dengan alergi susu sapi juga dapat mengalami gejala lain seperti diare, perut kembung, muntah, dan bahkan pembengkakan pada bibir atau wajah. Reaksi ini mengindikasikan bahwa tubuh bayi kesulitan mengolah susu sapi, yang menyebabkan pencernaan terganggu dan menghasilkan gas berlebih, yang keluar bersama feses dalam bentuk busa. Bila Si Kecil minum susu formula, perhatikan apakah keluhan muncul setelah waktu minum susu.
Untuk menangani alergi susu sapi yang menyebabkan feses berbusa, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghindari semua produk yang mengandung susu sapi. Bunda bisa mengganti susu formula dengan susu formula yang bebas dari protein susu sapi atau memilih susu berbasis kedelai yang aman bagi bayi dengan alergi susu sapi.
Kapan Busa dalam Feses Bisa Dianggap Normal?
Busa pada feses bayi tidak selalu berarti ada masalah serius. Pada bayi yang masih menyusui eksklusif, busa pada pup bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan antara foremilk dan hindmilk. Feses yang berbusa ini bisa dianggap normal selama Si Kecil tidak menunjukkan gejala lain seperti demam, diare, atau rewel.
Bayi yang menyusui eksklusif biasanya mengeluarkan feses berwarna kuning atau kehijauan, tergantung pada pola makan mereka. Feses bayi yang sehat biasanya bertekstur lunak dan tidak berbau tajam.
Frekuensi BAB bayi dapat bervariasi, namun umumnya bayi yang menyusu eksklusif akan BAB 4-6 kali sehari. Setelah memulai MPASI, frekuensi BAB akan berkurang dan tekstur feses akan berubah sesuai dengan makanan yang dimakan. Untuk memahami apakah frekuensi BAB Si Kecil tergolong normal, Bunda dapat membaca artikel ini: Normalkah bayi sering BAB. Bila feses tampak berwarna hijau, Bunda juga bisa mengecek panduan BAB hijau untuk memastikan kondisinya masih normal.
Kemungkinan Intoleransi Laktosa yang Baru Muncul Setelah 6 Bulan
Setelah usia 6 bulan, Si Kecil mulai mengenal makanan padat, dan pada fase ini intoleransi laktosa bisa mulai muncul. Biasanya, gejala intoleransi laktosa muncul ketika asupan laktosa dari susu formula, keju, atau produk lain yang mengandung susu bertambah. Pada beberapa kasus, bayi yang sebelumnya tidak memiliki masalah dengan ASI bisa mulai menunjukkan gejala intoleransi setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung lebih banyak laktosa.
Gejala-gejala ini meliputi BAB berbusa, perut kembung, dan diare. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk mengamati reaksi tubuh Si Kecil terhadap susu atau produk susu lainnya setelah mereka mulai mengkonsumsi makanan padat.
Kapan BAB Berbusa Perlu Diperiksakan?
BAB berbusa yang muncul sesekali dapat tidak berbahaya bila Si Kecil tetap aktif, mau menyusu dengan baik, dan tidak memiliki gejala lain. Namun, Bunda perlu membawa Si Kecil ke dokter jika BAB berbusa disertai diare yang sering atau menetap, muntah berulang, demam, darah atau lendir pada feses, bayi menolak menyusu, atau tampak sangat lemas.
Segera cari pertolongan medis jika Si Kecil menunjukkan tanda dehidrasi, seperti frekuensi pipis atau popok basah jauh berkurang, mulut kering, tidak ada air mata saat menangis, mata atau ubun-ubun tampak cekung, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan.
Jika Si Kecil mulai menunjukkan gejala intoleransi laktosa, mengganti susu formula dengan susu bebas laktosa bisa menjadi solusi yang tepat. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran lebih lanjut tentang bagaimana mengatur pola makan Si Kecil dan memilih produk susu yang sesuai untuk menghindari gejala intoleransi laktosa. Sebagai rekomendasi, temukan dua rekomendasi susu bebas laktosa yang aman dan terpercaya untuk Si Kecil di sini: Dua Rekomendasi Susu Bebas Laktosa yang Aman untuk Si Kecil.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah BAB bayi berbusa selalu berbahaya?
Tidak selalu. BAB berbusa dapat terjadi sementara dan tidak selalu menandakan masalah serius, terutama bila bayi tetap aktif, mau menyusu, dan tidak memiliki gejala lain. Namun, bila keluhan menetap atau disertai diare, muntah, demam, darah pada feses, atau tanda dehidrasi, periksakan Si Kecil ke dokter.
Apakah BAB bayi berbusa berarti intoleransi laktosa?
Belum tentu. Intoleransi laktosa primer pada bayi jarang terjadi, dan feses berbusa saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Keluhan juga dapat berkaitan dengan perubahan sementara pada pencernaan, pola menyusu, atau infeksi saluran cerna.
Apakah bayi dengan BAB berbusa harus ganti susu?
Tidak selalu. Jangan mengganti ASI atau formula, termasuk ke formula bebas laktosa maupun formula soya, hanya berdasarkan tampilan feses. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan pilihan nutrisi yang sesuai.
Apakah alergi susu sapi dapat menyebabkan BAB bayi berbusa?
Alergi protein susu sapi dapat menimbulkan keluhan pencernaan seperti muntah, diare, lendir atau darah pada feses. Namun, BAB berbusa saja tidak cukup untuk memastikan adanya alergi susu sapi dan perlu dinilai bersama gejala lain oleh dokter.
Referensi
- Pregnancy, Birth & Baby. Milk allergy and lactose intolerance in babies and children. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/milk-intolerance-in-babies-and-children
- Nall, R. (2018, March 22). What causes foamy bowel movements? Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com
- Newborn baby pooping many times with foam. (2019). Vinmec.com. https://www.vinmec.com - Newborn Baby Pooping Many Times With Foam
- Is it dangerous for a baby to have foamy stools? (2019). Vinmec.com. https://www.vinmec.com - Is It Dangerous For A Baby To Have Foamy Stools
- CHOC. Your child's poop: An ultimate guide. https://health.choc.org/your-childs-poop-an-ultimate-guide