Beranda Artikel Alergi Alergi pada Anak, Mengenali Beragam Jenis, Pemicu, dan Cara Memastikannya

Alergi pada Anak, Mengenali Beragam Jenis, Pemicu, dan Cara Memastikannya

2026/09/27 - 01:28:50pm     oleh Morinaga Soya
anak menunjukkan gejala alergi pada kulit

Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto

Alergi pada anak adalah reaksi berlebihan sistem imun terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, mulai dari makanan tertentu, tungau debu, hingga perubahan suhu tubuh. Berdasarkan survei berbasis daring terhadap anak usia di bawah 3 tahun di Jakarta, prevalensi alergi makanan tercatat 6-8% persen, dengan susu sapi sebagai pemicu paling sering (Sari Pediatri, 2016). Pemicu utamanya seringkali sama, yaitu makanan tertentu, namun gejalanya bisa muncul di berbagai bagian tubuh mulai dari mata, kulit, saluran cerna, hingga saluran napas. Mengenali jenis dan pemicunya sejak awal membantu orang tua memberikan penanganan yang tepat dan tidak salah kira dengan kondisi lain.

Ragam Jenis Alergi yang Umum Dialami Anak

Alergi pada anak tidak hanya soal makanan. Untuk memahaminya, alergi dapat dilihat dari dua sisi: apa pemicunya, dan di bagian tubuh mana gejalanya muncul.

Berdasarkan pemicunya, alergi makanan misalnya terhadap protein susu sapi, telur, ikan, kacang-kacangan, kedelai, dan gandum. Alergen lain yang sering memicu gejala pada anak antara lain tungau debu rumah, bulu hewan peliharaan, serbuk sari, sengatan atau gigitan serangga, serta obat-obatan tertentu.

Berdasarkan lokasi gejalanya, alergi dapat muncul di kulit berupa dermatitis atopik (eksim) atau biduran (urtikaria), di saluran napas berupa rinitis alergi (bersin, hidung tersumbat atau berair) dan asma, di mata berupa konjungtivitis alergi (mata merah, gatal, berair), serta di saluran cerna berupa muntah, diare, kolik, atau BAB berdarah yang sering dikaitkan dengan alergi susu sapi pada bayi.

Satu pemicu dapat menimbulkan gejala di lebih dari satu organ. Contohnya, alergi susu sapi dapat muncul sebagai eksim sekaligus gangguan pencernaan.

Kenapa Anak Bisa Mengalami Alergi

Alergi terjadi ketika sistem imun gagal membentuk toleransi terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, misalnya protein susu sapi, lalu bereaksi berlebihan terhadapnya. Pada sebagian alergi, reaksi ini melibatkan antibodi IgE dan pelepasan histamin, sehingga gejala muncul cepat, dalam hitungan menit hingga dua jam. Namun, banyak kasus alergi susu sapi pada bayi tidak melibatkan IgE, sehingga gejalanya muncul lebih lambat, dalam hitungan jam hingga hari, dan sering berupa gangguan pencernaan.

Riwayat alergi dalam keluarga, seperti asma, rinitis alergi, atau eksim pada orang tua maupun saudara kandung, merupakan faktor risiko terkuat. Risiko makin tinggi bila kedua orang tua memiliki riwayat alergi. Bayi dengan eksim, terutama yang berat dan muncul sejak dini, juga lebih berisiko mengalami alergi makanan, karena kulit yang meradang memudahkan alergen masuk dan memicu sensitisasi.

Faktor lingkungan turut berperan, seperti paparan asap rokok dan polusi. Sebagian ahli juga mengaitkan meningkatnya kasus alergi dengan kurangnya keragaman paparan mikroba sejak dini, misalnya jarang bersentuhan dengan alam, hewan, atau anak lain. Konsep ini masih terus diteliti dan tidak berarti kebersihan dasar boleh diabaikan.

Tanda Alergi yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Gejala alergi bisa muncul di berbagai organ tubuh, dan sering mirip dengan keluhan umum anak sehingga mudah disalahartikan.

  • Kulit: kemerahan, bentol gatal (biduran), eksim yang sulit sembuh atau sering kambuh, bengkak di sekitar mata atau bibir
  • Saluran cerna: muntah, gumoh berlebihan, diare, sembelit, nyeri perut, BAB berlendir atau berdarah
  • Saluran napas: bersin, hidung tersumbat atau berair, batuk atau mengi berulang tanpa demam
  • Mata: merah, gatal, dan berair, biasanya pada kedua mata

Pada bayi, alergi susu sapi juga dapat ditandai dengan rewel atau menangis berlebihan yang menetap, menolak minum susu, dan berat badan yang sulit naik. Gejalanya tidak selalu muncul segera. Pada sebagian bayi, keluhan baru timbul beberapa jam hingga beberapa hari setelah minum susu, sehingga sulit dikaitkan dengan pemicunya.

Segera bawa anak ke IGD bila muncul sesak napas atau napas berbunyi, bengkak pada bibir, lidah, atau wajah, suara serak atau sulit menelan, muntah berulang, atau anak tampak lemas, pucat, hingga tidak sadar. Ini bisa menjadi tanda reaksi alergi berat (anafilaksis).

Sebagian gejala di atas juga dapat disebabkan kondisi lain, seperti intoleransi laktosa, infeksi saluran cerna, gumoh yang normal pada bayi, atau iritasi kulit akibat produk perawatan. Alergi umumnya muncul berulang setiap kali anak terpapar pemicu yang sama. Namun, gejala tidak selalu langsung membaik setelah pemicu dihindari. Pada alergi susu sapi, perbaikan bisa memerlukan waktu hingga beberapa minggu.

Apakah Alergi Bisa Dicegah

Alergi tidak selalu bisa dicegah, terutama bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain menghindarkan anak dari asap rokok sejak dalam kandungan, memulai MPASI sekitar usia 6 bulan dan tidak menunda pengenalan makanan yang sering memicu alergi seperti telur dan kacang (bila anak memiliki eksim berat, konsultasikan dulu ke dokter), serta tidak memantang makanan tertentu bagi ibu hamil dan menyusui kecuali atas anjuran dokter.

ASI tetap menjadi pilihan terbaik untuk bayi karena manfaatnya yang luas bagi kesehatan dan daya tahan tubuh.

Cara Memastikan Anak Mengalami Alergi, Bukan Sekadar Reaksi Biasa

Langkah pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah mencatat food and activity diary, yaitu mencatat makanan atau aktivitas yang dilakukan anak sebelum gejala muncul, termasuk jaraknya waktu. Catatan ini sangat membantu dokter menemukan pemicu yang sebenarnya.

Langkah selanjutnya adalah konsultasi ke dokter anak atau dokter spesialis alergi imunologi anak. Dokter akan mengevaluasi riwayat klinis dan bila diperlukan melakukan eliminasi-provokasi, yaitu menghentikan sementara makanan yang dicurigai lalu mengamati perubahan gejala. Untuk kasus alergi protein susu sapi, dokter kerap merekomendasikan susu formula pengganti berbasis isolat protein soya seperti Morinaga Soya selama masa eliminasi, sebagai bagian dari pemenuhan gizi harian yang tetap harus dipantau bersama dokter.

Selain eliminasi-provokasi, dokter juga bisa melengkapi diagnosis dengan uji tusuk kulit atau pemeriksaan darah untuk melihat kadar IgE spesifik terhadap alergen tertentu, terutama jika riwayat klinis anak mengarah pada reaksi yang diperantarai IgE. Kedua pemeriksaan ini membantu mempersempit kemungkinan pemicu, namun hasilnya tetap perlu dikonfirmasi lewat pengamatan gejala langsung, karena hasil tes darah atau kulit yang positif tidak selalu berarti anak pasti akan bereaksi saat benar-benar terpapar alergen tersebut.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda alergi dan intoleransi makanan pada anak?

Alergi makanan melibatkan sistem imun. Gejalanya bisa berupa reaksi di kulit, saluran napas, atau saluran cerna, dan pada kasus tertentu dapat berat hingga menyebabkan sesak napas. Intoleransi tidak melibatkan sistem imun. Contohnya intoleransi laktosa, yaitu kesulitan mencerna gula susu yang menyebabkan kembung, perut bergas, dan diare. Karena alergi susu sapi pada bayi juga sering hanya bergejala di saluran cerna, keduanya mudah tertukar. Penanganannya berbeda: pada alergi susu sapi, protein susu sapi perlu dihindari sepenuhnya, sedangkan pada intoleransi laktosa anak sering masih bisa menoleransi laktosa dalam jumlah kecil. Karena itu, diagnosis perlu dipastikan oleh dokter.

Berapa lama alergi makanan pada anak biasanya sembuh?

Banyak anak dengan alergi susu sapi dan telur akan toleran seiring bertambahnya usia, tetapi tidak selalu. Sebagian tetap alergi hingga remaja atau dewasa. Alergi kacang, ikan, serta udang dan kepiting lebih sering menetap seumur hidup, sehingga perlu evaluasi berkala oleh dokter.

Kapan anak perlu dibawa ke dokter alergi?

Bawa anak ke dokter jika gejala berulang lebih dari beberapa kali, mengganggu tumbuh kembang, atau muncul tanda berat seperti bengkak wajah dan sesak napas. Dokter akan menentukan apakah anak perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Apakah semua anak dengan riwayat alergi keluarga pasti alergi juga?

Tidak selalu. Riwayat alergi keluarga meningkatkan risiko, namun bukan kepastian. Faktor lingkungan dan pola pemberian makan juga berperan dalam menentukan apakah alergi benar-benar muncul pada anak.

Apakah anak bisa mendapat lebih dari satu jenis alergi sekaligus?

Bisa. Anak dengan kecenderungan atopik sering menunjukkan lebih dari satu penyakit alergi, misalnya alergi makanan yang disertai eksim, lalu rinitis alergi atau asma saat lebih besar. Anak juga dapat alergi terhadap lebih dari satu jenis makanan.

Referensi

  • Siregar, S. P. (2001). Alergi Makanan pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri, 3(3), 168-174.
  • Tanukusumah, M., Kurniati, N., & Amelia C, N. (2015). Prevalensi Alergi Makanan pada Anak Usia Kurang dari 3 Tahun di Jakarta Berbasis Survei dalam Jaringan/Online. Sari Pediatri, 16(5), 365-374.
  • Wistiani, & Notoatmojo, H. (2011). Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi pada Anak. Sari Pediatri, 13(3), 186-191.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia, UKK Alergi Imunologi. (2014). Rekomendasi Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi (Edisi ke-2). Jakarta: IDAI.
  • Siregar, S. P., & Zakiudin, M. (2006). Pentingnya Pencegahan Dini dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Sari Pediatri, 7(4), 237-243.
  • Akib, A. A. P. (2002). Asma pada Anak. Sari Pediatri, 4(2), 78-82.
  • Aldakheel FM. Allergic Diseases: A Comprehensive Review on Risk Factors, Immunological Mechanisms, Link with COVID-19, Potential Treatments, and Role of Allergen Bioinformatics. Int J Environ Res Public Health. 2021 Nov 18;18(22):12105.
  • Vandenplas Y, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow's milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413.


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca