Beranda Artikel Alergi Anak Alergi Ikan, Apa Masih Boleh Makan Ikan Lain?

Anak Alergi Ikan, Apa Masih Boleh Makan Ikan Lain?

2026/09/27 - 01:29:58pm     oleh Morinaga Soya
anak menghindari ikan karena alergi

Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto

Jika anak terdiagnosis alergi terhadap satu jenis ikan, sebaiknya jangan langsung mencoba jenis ikan lain tanpa arahan dokter. Protein pemicu alergi ikan (parvalbumin) mirip pada banyak jenis ikan bersirip, sehingga sekitar separuh anak yang alergi satu jenis ikan juga bereaksi terhadap ikan lain, misalnya salmon, kakap, atau lele. Meski begitu, tidak semua anak alergi ikan harus menghindari semua jenis ikan. Dokter dapat mengevaluasi jenis ikan tertentu yang mungkin masih aman dikonsumsi melalui tes alergi dan uji provokasi, sehingga anak tetap bisa mendapat manfaat gizi dari ikan.

Kenapa Alergi Satu Ikan Bisa Merembet ke Ikan Lain?

Penyebab utamanya adalah parvalbumin, protein pemicu alergi ikan yang strukturnya sangat tahan panas dan tahan terhadap enzim pencernaan. Karena itu, merebus, menggoreng, atau memanggang ikan tidak menghilangkan kemampuannya memicu alergi. Parvalbumin juga memiliki struktur yang mirip pada banyak jenis ikan, sehingga sekitar separuh anak yang alergi satu jenis ikan juga bereaksi terhadap ikan lain.

Meski begitu, risikonya tidak sama untuk semua ikan. Kadar dan kemiripan struktur parvalbumin berbeda antarspesies. Ikan seperti kod dan ikan mas memiliki kadar parvalbumin tinggi, sedangkan tuna relatif rendah. Semakin mirip strukturnya dan semakin tinggi kadarnya, semakin besar kemungkinan anak bereaksi. Inilah sebabnya dokter perlu mengevaluasi jenis ikan mana yang masih mungkin aman bagi anak.

Alergi ikan bersirip juga perlu dibedakan dari alergi makanan laut lain seperti udang, kepiting, kerang, dan cumi. Kelompok ini memicu alergi melalui protein berbeda, yaitu tropomiosin. Karena itu, anak yang alergi ikan tidak otomatis alergi udang atau kerang. Namun, sebagian anak bisa alergi terhadap keduanya, sehingga pengenalan makanan laut tersebut sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter.

Dokter biasanya memulai dengan uji tusuk kulit atau pemeriksaan darah untuk beberapa jenis ikan. Hasilnya membantu memilih ikan yang layak dicoba, tetapi hasil positif belum tentu berarti anak pasti bereaksi. Untuk memastikannya, dokter melakukan uji provokasi oral, yaitu memberikan ikan dalam jumlah kecil yang ditingkatkan bertahap di fasilitas kesehatan yang siap menangani reaksi berat. Jangan mencobanya sendiri di rumah, karena reaksi yang muncul bisa lebih berat dari perkiraan.

Dokter dapat memastikan status alergi anak melalui tes alergi dan uji provokasi yang tepat.

Tanda yang Menunjukkan Anak Perlu Segera ke Dokter

Waspadai gejala berikut sebagai tanda reaksi yang memerlukan penanganan medis segera, bukan sekadar reaksi ringan.

  • Bengkak pada wajah, bibir, lidah, atau kelopak mata
  • Sesak napas, suara serak, atau kesulitan menelan
  • Muntah dan diare hebat yang muncul cepat setelah makan ikan
  • Pusing atau lemas mendadak, tanda kemungkinan anafilaksis

Berbeda dengan alergi susu pada bayi yang kerap menghilang di usia balita, alergi ikan pada anak umumnya berlangsung lebih lama, bahkan bisa seumur hidup, sehingga kewaspadaan jangka panjang tetap diperlukan.

Karena sifatnya yang cenderung menetap, orang tua dan sekolah anak sebaiknya sama-sama mengetahui riwayat alergi ini sejak dini, termasuk saat anak mulai ikut kegiatan di luar rumah seperti kelas memasak, kunjungan lapangan ke pasar ikan, atau acara makan bersama. Membawa catatan alergi sederhana yang mudah diakses guru atau pengasuh dapat membantu respons lebih cepat jika terjadi kontak tidak sengaja dengan ikan.

Pengganti Sumber Protein Jika Anak Harus Menghindari Semua Ikan

Ketika anak perlu menghindari seluruh jenis ikan, kebutuhan protein harian tetap harus terpenuhi dari sumber lain, seperti daging ayam atau telur bila tidak ada alergi tambahan. Susu tinggi protein juga dapat menjadi pelengkap menu harian untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, selama tetap sesuai anjuran dokter dan tidak menggantikan sumber protein dari makanan utama. Penjelasan lebih detail seputar perbedaan alergi protein hewani dan nabati bisa membantu orang tua memilih pengganti yang tepat.

Orang tua juga perlu berhati-hati terhadap sumber ikan tersembunyi dalam makanan olahan, seperti kaldu, kerupuk, atau bumbu masak berbasis ikan yang sering digunakan dalam masakan Indonesia sehari-hari. Membiasakan membaca label kemasan dan menanyakan bahan baku saat membeli makanan jadi atau makan di luar rumah menjadi langkah pencegahan yang sama pentingnya dengan menghindari ikan secara langsung, karena kontaminasi tidak sengaja tetap bisa memicu reaksi meski dalam jumlah kecil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah alergi udang sama dengan alergi ikan?

Tidak selalu. Udang termasuk kelompok krustasea, berbeda dari ikan bersirip. Anak yang alergi ikan tidak otomatis alergi udang atau makanan laut lain, namun tetap perlu dipastikan lewat pemeriksaan dokter.

Anak alergi tuna, apakah pasti alergi salmon juga?

Belum pasti, namun risikonya cukup tinggi karena reaktivitas silang antar ikan bersirip lebih dari 50 persen. Dokter biasanya menyarankan uji alergi khusus sebelum mencoba jenis ikan lain.

Apakah memasak ikan bisa menghilangkan alergennya?

Tidak. Protein parvalbumin pada ikan sangat tahan panas, sehingga proses merebus, menggoreng, atau memanggang tidak menghilangkan potensi alerginya.

Berapa lama alergi ikan pada anak biasanya berlangsung?

Berbeda dari alergi susu yang sering hilang di usia balita, alergi ikan pada anak cenderung menetap lebih lama dan pada banyak kasus berlangsung seumur hidup.

Apakah reaksi alergi ikan bisa terjadi hanya karena mencium baunya?

Bau ikan sendiri tidak memicu alergi. Namun, pada anak dengan alergi ikan yang sensitif, menghirup uap atau asap saat ikan sedang dimasak dapat memicu gejala seperti bersin, batuk, mengi, atau mata gatal, karena uap tersebut membawa partikel protein ikan. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi sebaiknya anak dijauhkan dari dapur saat ikan dimasak dan ruangan dijaga agar berventilasi baik.

Referensi

  • Siregar, S. P. (2001). Alergi Makanan pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri, 3(3), 168-174.
  • Wistiani, & Notoatmojo, H. (2011). Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi pada Anak. Sari Pediatri, 13(3), 186-191.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia, UKK Alergi Imunologi. (2014). Rekomendasi Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi (Edisi ke-2). Jakarta: IDAI.
  • Sicherer SH. Clinical implications of cross-reactive food allergens. J Allergy Clin Immunol. 2001;108(6):881-890.
  • Sharp MF, Lopata AL. Fish allergy: in review. Clin Rev Allergy Immunol. 2014;46(3):258-271.
  • Kuehn A, Scheuermann T, Hilger C, Hentges F. Important variations in parvalbumin content in common fish species: a factor possibly contributing to variable allergenicity. Int Arch Allergy Immunol. 2010;153(4):359-366.
  • Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: an update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17.
  • Ruethers T, et al. Seafood allergy: a comprehensive review of fish and shellfish allergens. Mol Immunol. 2018;100:28-57.
  • Lopata AL, O'Hehir RE, Lehrer SB. Shellfish allergy. Clin Exp Allergy. 2010;40(6):850-858.


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca