Beranda Artikel Alergi Alergi Protein Hewani dan Nabati pada Anak, Kenali Bedanya

Alergi Protein Hewani dan Nabati pada Anak, Kenali Bedanya

2026/09/27 - 01:29:44pm     oleh Morinaga Soya
Perbandingan alergi protein hewani dan nabati pada anak

Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto

Alergi protein pada anak terjadi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu, baik protein hewani seperti susu sapi, telur, dan ikan, maupun protein nabati seperti kedelai dan kacang tanah. Membedakan keduanya penting karena makanan yang perlu dihindari dan pilihan penggantinya bisa berbeda.

Alergi Protein Hewani, Jenis yang Paling Sering Ditemukan

Pada anak kecil, sebagian besar alergi makanan dipicu oleh protein hewani, terutama susu sapi, telur, dan ikan. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensi alergi susu sapi pada anak berkisar 2 hingga 7,5 persen. Gejalanya bisa muncul di kulit, saluran cerna, hingga saluran napas.

Pembahasan lengkap seputar gejala dan cara mengenali alergi susu sapi yang sering disalahartikan sebagai rewel biasa. Sementara untuk alergi ikan, orang tua perlu memahami Anak Alergi Ikan, Apa Masih Boleh Makan Ikan Lain?.

Alergi telur cukup sering ditemukan pada anak usia di bawah 3 tahun, dan biasanya dipicu protein pada putih telur. Seperti alergi susu sapi, banyak anak akan toleran terhadap telur seiring bertambahnya usia, meski tidak selalu. Kerang dan udang juga termasuk protein hewani, tetapi alergen utamanya berbeda dari alergen utama ikan bersirip. Karena itu, anak yang alergi ikan tidak otomatis alergi kerang atau udang.

Perlu dicatat, satu anak juga bisa alergi terhadap lebih dari satu protein hewani, misalnya susu sapi dan telur sekaligus. Kondisi ini membuat eliminasi makanan lebih rumit, karena orang tua perlu menghindari beberapa pemicu tanpa mengurangi variasi gizi anak. Pada kasus seperti ini, pendampingan dokter dan ahli gizi anak menjadi semakin penting.

Apakah Alergi Protein Nabati Lebih Jarang Terjadi pada Anak

Pada anak kecil, alergi kedelai umumnya lebih jarang ditemukan dibanding alergi susu sapi dan telur. Anak yang alergi susu sapi juga tidak otomatis alergi kedelai, karena keduanya berasal dari sumber protein yang berbeda. Penelitian menunjukkan sebagian besar anak dengan alergi susu sapi tipe IgE dapat menoleransi protein kedelai. Karena itu, susu berbasis isolat protein soya, seperti Morinaga Soya, dapat menjadi pilihan susu pengganti bagi anak dengan alergi susu sapi sesuai anjuran dokter, selama anak tidak memiliki alergi terhadap kedelai.

Meski lebih jarang ditemukan pada anak Indonesia, alergi kacang tanah dan kacang kenari (seperti almond) termasuk alergi yang paling berisiko memicu reaksi berat, termasuk anafilaksis. Alergi susu sapi dan kedelai pada banyak anak membaik seiring usia, sedangkan alergi kacang lebih sering menetap, bahkan seumur hidup. Karena itu, kewaspadaan terhadap kacang tetap penting, terutama saat anak mulai mengonsumsi camilan atau makanan olahan di luar rumah.

Cara Mengenali Gejala Alergi Protein pada Anak

Gejala alergi protein, baik hewani maupun nabati, umumnya muncul di tiga sistem tubuh berikut, meski persentasenya berbeda menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Sistem Tubuh Persentase Kasus Gejala yang Muncul
Saluran cerna 50 sampai 60% Muntah, diare, nyeri perut, kolik
Kulit 50 sampai 60% Urtikaria, ruam, dermatitis atopik
Saluran napas 20 sampai 30% Pilek, batuk, bronkospasme

Langkah Penanganan Setelah Anak Terdiagnosis Alergi Protein

Setelah dokter memastikan jenis protein pemicunya, langkah utama adalah eliminasi terarah, yaitu menghindari makanan pemicu di bawah pengawasan dokter, sambil memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi. Untuk alergi protein susu sapi, susu dengan berbasis isolat protein soya dapat menjadi bagian dari susu pengganti selama masa eliminasi, sebagai pelengkap menu harian, bukan solusi tunggal. Konsultasi rutin dengan dokter anak tetap diperlukan untuk memantau tumbuh kembang dan menentukan kapan anak bisa mulai dicoba kembali dengan protein susu sapi.

Selama masa eliminasi berlangsung, orang tua juga perlu jeli membaca label kemasan makanan, karena protein pemicu alergi sering tersembunyi dalam bahan olahan seperti biskuit, roti, atau saus kemasan yang mengandung susu bubuk atau turunan telur. Mengganti satu jenis makanan saja sering tidak cukup, karena protein yang sama bisa muncul dalam berbagai bentuk olahan. Berkonsultasi dengan dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, selain dokter spesialis anak konsultan alergi, juga bisa membantu memastikan menu eliminasi tetap seimbang secara nutrisi selama proses ini berlangsung.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah anak yang alergi susu sapi otomatis alergi kedelai?

Tidak. Susu sapi dan kedelai berasal dari sumber protein yang berbeda, sehingga anak yang alergi susu sapi belum tentu alergi kedelai. Meski begitu, tetap perlu pengawasan dokter saat pertama kali mengenalkan susu berbasis kedelai.

Berapa lama anak alergi protein hewani biasanya sembuh?

Alergi protein susu sapi dan telur pada banyak anak mereda menjelang usia 3 sampai 5 tahun seiring matangnya sistem pencernaan. Namun sebagian anak, terutama dengan alergi ikan atau kacang, bisa bertahan lebih lama.

Apa beda alergi protein dan intoleransi laktosa?

Alergi protein melibatkan reaksi sistem imun terhadap protein susu, sedangkan intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan mencerna gula susu akibat kekurangan enzim laktase. Gejalanya bisa mirip, namun penanganannya berbeda.

Apakah anak dengan alergi protein hewani boleh minum susu soya?

Selama anak tidak memiliki alergi tambahan terhadap kedelai, susu berbasis isolat protein soya umumnya aman menjadi pilihan pengganti, namun tetap sebaiknya dikonsultasikan ke dokter anak sebelum diberikan rutin.

Apakah alergi kacang tanah sama risikonya dengan alergi susu sapi?

Tidak. Meski jumlah kasusnya lebih kecil, alergi kacang tanah berisiko memicu reaksi yang lebih berat termasuk anafilaksis, dan cenderung menetap lebih lama dibanding alergi susu sapi yang sering mereda sebelum usia sekolah.

Referensi

  • Siregar, S. P. (2001). Alergi Makanan pada Bayi dan Anak. Sari Pediatri, 3(3), 168-174.
  • Tanukusumah, M., Kurniati, N., & Amelia C, N. (2015). Prevalensi Alergi Makanan pada Anak Usia Kurang dari 3 Tahun di Jakarta Berbasis Survei dalam Jaringan/Online. Sari Pediatri, 16(5), 365-374.
  • Siregar, S. P., & Zakiudin, M. (2006). Pentingnya Pencegahan Dini dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Sari Pediatri, 7(4), 237-243.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia, UKK Alergi Imunologi. (2014). Rekomendasi Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi (Edisi ke-2). Jakarta: IDAI.
  • Purnamawati, I. A. P., & Wiartika, I. G. N. K. A. (2023). Alergi Susu Sapi. Ganesha Medicina Journal, 3(1), 29-40.
  • Wistiani, & Notoatmojo, H. (2011). Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi pada Anak. Sari Pediatri, 13(3), 186-191.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: a review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58.
  • Nwaru BI, Hickstein L, Panesar SS, et al. Prevalence of common food allergies in Europe: a systematic review and meta-analysis. Allergy. 2014;69(8):992-1007.
  • Savage JH, Kaeding AJ, Matsui EC, Wood RA. The natural history of soy allergy. J Allergy Clin Immunol. 2010;125(3):683-686.
  • Zeiger RS, Sampson HA, Bock SA, et al. Soy allergy in infants and children with IgE-associated cow's milk allergy. J Pediatr. 1999;134(5):614-622.
  • Fiocchi A, et al. WAO DRACMA Guidelines. World Allergy Organ J. 2010;3(4):57-161.
  • Shek LP, Cabrera-Morales EA, Soh SE, et al. A population-based questionnaire survey on the prevalence of peanut, tree nut, and shellfish allergy in 2 Asian populations. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(2):324-331.
  • Bock SA, Munoz-Furlong A, Sampson HA. Further fatalities caused by anaphylactic reactions to food, 2001-2006. J Allergy Clin Immunol. 2007;119(4):1016-1018.


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca