Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto
Gejala alergi susu sapi pada bayi dan anak sering disangka kolik atau rewel biasa, bahkan kerap tertukar dengan intoleransi laktosa. Padahal, alergi susu sapi dan intoleransi laktosa adalah dua kondisi yang berbeda, dengan penanganan yang berbeda pula. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat prevalensi alergi susu sapi pada anak berkisar 2 hingga 7,5 persen. Gejalanya paling sering muncul di kulit dan saluran cerna, tetapi juga dapat mengenai saluran napas. Karena gejalanya mirip dengan keluhan umum bayi, dan pada sebagian anak baru muncul beberapa jam hingga hari setelah minum susu, banyak orang tua terlambat menyadarinya.
Gejala Alergi Susu Sapi yang Sering Dikira Hal Biasa
| Ciri | Alergi susu sapi | Kolik biasa |
|---|---|---|
| Waktu muncul | Beberapa menit hingga 2 jam setelah minum susu, atau baru muncul beberapa jam hingga hari kemudian | Tidak berkaitan dengan waktu minum susu, tangisan sering muncul sore atau malam hari |
| Pola menangis | Rewel berkepanjangan, sering disertai keluhan lain | Menangis lama tanpa sebab yang jelas pada bayi yang tampak sehat, dimulai sebelum usia 5 bulan |
| Kulit | Dapat disertai ruam, bentol, atau eksim | Tidak ada keluhan kulit |
| Pencernaan | Muntah, gumoh berlebihan, diare, sembelit, BAB berlendir atau berdarah | BAB normal |
| Pertumbuhan | Berat badan bisa sulit naik | Tumbuh baik sesuai usia |
| Perjalanan | Membaik saat susu sapi dihindari di bawah arahan dokter, dokter biasanya menilai perbaikan dalam 2-4 minggu | Membaik sendiri, umumnya pada usia 3-4 bulan |
Selain kolik, alergi susu sapi juga sering tertukar dengan intoleransi laktosa, karena keduanya dapat menyebabkan kembung dan diare setelah minum susu. Intoleransi laktosa terjadi karena tubuh kekurangan enzim untuk mencerna gula susu (laktosa) dan tidak melibatkan sistem imun. Kondisi ini jarang terjadi pada bayi, dan bila ada, biasanya bersifat sementara, misalnya setelah diare. Sementara itu, alergi susu sapi merupakan reaksi sistem imun terhadap protein susu. Gejalanya bisa muncul di kulit atau saluran napas, tetapi pada banyak bayi hanya berupa keluhan pencernaan. Karena itu, tidak adanya ruam belum berarti anak tidak alergi, dan diagnosis tetap perlu dipastikan oleh dokter.
Alergi susu sapi juga dapat terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, yaitu pada sekitar 0,5% bayi. Protein susu sapi dari makanan atau minuman ibu dapat masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan memicu reaksi pada sebagian bayi. Karena itu, riwayat makan ibu perlu ditelusuri. Pada kondisi ini, pemberian ASI tetap dilanjutkan karena ASI tetap merupakan pilihan terbaik. Bila diperlukan, dokter akan memandu ibu untuk menghindari susu sapi dan produk olahannya dari menu makannya.
Kenapa Alergi Susu Sapi Sulit Dikenali Sejak Awal
Reaksi alergi susu sapi terbagi menjadi dua tipe. Pada tipe yang diperantarai IgE, gejala muncul cepat, umumnya dalam 30 menit hingga 1 jam setelah minum susu, sehingga orang tua relatif mudah mengaitkannya dengan susu. Sebaliknya, pada tipe non-IgE, gejala muncul lebih lambat, yaitu lebih dari 1 jam, bahkan hingga beberapa hari kemudian.
Tipe non-IgE inilah yang paling sering membuat alergi susu sapi terlambat dikenali. Selain waktunya yang lama, gejalanya juga sering berupa keluhan pencernaan seperti rewel, gumoh, diare, atau BAB berlendir, yang mirip dengan keluhan umum bayi. Menurut IDAI, tidak ada satu gejala pun yang khas untuk alergi susu sapi. Karena itu, diagnosis perlu ditegakkan oleh dokter, biasanya melalui diet eliminasi yang dilanjutkan dengan uji provokasi.
Cara Memastikan Apakah Ini Alergi atau Sekadar Rewel Biasa
Langkah pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah mencatat waktu munculnya gejala dibandingkan dengan waktu minum susu, termasuk perubahan pola BAB dan keluhan kulit yang menyertai. Catatan ini sangat membantu dokter.
Menurut IDAI, cara paling akurat untuk memastikan alergi susu sapi adalah diet eliminasi yang dilanjutkan dengan uji provokasi. Pada tahap eliminasi, protein susu sapi dihindari selama 2-4 minggu, tergantung berat ringannya gejala. Bayi yang menyusu tetap mendapat ASI, dan bila diperlukan ibu akan dipandu untuk menghindari susu sapi dari menu makannya. Bayi yang minum susu formula akan diberikan susu pengganti khusus sesuai anjuran dokter. Bila gejala tidak membaik selama masa eliminasi, kemungkinan besar keluhan anak bukan disebabkan alergi susu sapi, dan dokter akan mencari penyebab lain.
Bila gejala membaik, dokter akan melakukan uji provokasi, yaitu memberikan kembali susu sapi dalam jumlah kecil yang ditingkatkan bertahap sambil memantau reaksi anak. Bila gejala muncul kembali, diagnosis alergi susu sapi dapat ditegakkan. Bila tidak, anak dapat kembali mengonsumsi susu sapi. Uji provokasi harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, dan pada anak dengan riwayat reaksi berat perlu dilakukan di fasilitas kesehatan yang siap menangani reaksi alergi.
Dokter juga dapat melakukan uji tusuk kulit atau pemeriksaan darah (IgE spesifik) untuk membantu diagnosis alergi susu sapi tipe IgE. Namun, tes ini tidak dapat mendeteksi tipe non-IgE, dan hasil positif belum tentu berarti anak benar-benar alergi.
Pilihan Nutrisi Pengganti Selama Proses Eliminasi
Setelah diagnosis alergi susu sapi ditegakkan, anak perlu menghindari protein susu sapi hingga dokter mengevaluasi kembali apakah anak sudah toleran. Selama masa ini, bayi yang menyusu tetap mendapat ASI. Bila anak membutuhkan susu pengganti, dokter akan memilih jenisnya sesuai kondisi anak.
Pada anak yang tidak alergi kedelai, susu formula berbasis isolat protein soya, seperti Morinaga Soya, dapat menjadi pilihan susu pengganti sesuai anjuran dokter. Penelitian menunjukkan sebagian besar anak dengan alergi susu sapi tipe IgE dapat menoleransi protein kedelai. Susu pengganti ini menjadi bagian dari menu seimbang, dan pemberiannya tetap dipantau dokter anak.
Selama masa penghindaran, orang tua juga perlu teliti membaca label kemasan. Selain produk yang jelas terbuat dari susu seperti keju, yoghurt, dan mentega, protein susu sapi sering tersembunyi di roti, biskuit, saus, dan makanan olahan lain. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi anak juga penting untuk memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa?
Tidak. Alergi susu sapi melibatkan reaksi sistem imun terhadap protein susu, sementara intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan mencerna gula susu akibat kekurangan enzim laktase. Gejalanya bisa mirip namun mekanismenya berbeda.
Kapan anak biasanya sembuh dari alergi susu sapi?
Sebagian besar anak mulai bisa menoleransi susu sapi kembali di usia 3 sampai 5 tahun, seiring sistem pencernaan dan imun yang semakin matang, meski tetap perlu dipastikan lewat evaluasi dokter.
Apakah susu soya aman untuk semua anak alergi susu sapi?
Umumnya aman selama anak tidak memiliki alergi tambahan terhadap kedelai. Meski begitu, pemberiannya tetap sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter anak.
Apakah ASI juga bisa memicu reaksi alergi susu sapi?
Bisa, dalam kasus tertentu, jika ibu menyusui mengonsumsi produk susu sapi dan sebagian protein ikut terserap ke dalam ASI. Namun kasus ini tergolong lebih jarang dibanding reaksi dari susu formula langsung.
Apakah alergi susu sapi bisa terjadi pada bayi yang full ASI?
Bisa, meski lebih jarang. Jika protein susu sapi yang dikonsumsi ibu menyusui ikut terserap ke ASI dalam jumlah cukup, bayi tetap berisiko menunjukkan gejala alergi, sehingga ibu mungkin perlu sementara menghindari produk susu sapi sambil tetap menyusui.
Referensi
- IDAI. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia: Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2014.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellof M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow's milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413.
- Heyman MB; AAP Committee on Nutrition. Lactose intolerance in infants, children, and adolescents. Pediatrics. 2006;118(3):1279-1286.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia: Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2014.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellof M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow's milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897
- Zeiger RS, Sampson HA, Bock SA, et al. Soy allergy in infants and children with IgE-associated cow's milk allergy. J Pediatr. 1999;134(5):614-622. doi:10.1016/S0022-3476(99)70249-0
- Siregar, S. P., & Zakiudin, M. (2006). Pentingnya Pencegahan Dini dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Sari Pediatri, 7(4), 237-243.
- Purnamawati, I. A. P., & Wiartika, I. G. N. K. A. (2023). Alergi Susu Sapi. Ganesha Medicina Journal, 3(1), 29-40.
- Surya, A. S., & Salmiyanti, S. (2023). Anak dengan Alergi Susu Sapi. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JUMKES), STIKes Ibnu Sina.