Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto
Gatal berulang pada anak bisa disebabkan banyak hal, seperti eksim atau kulit kering. Namun bila gatalnya disertai bentol kemerahan yang bentuknya berubah-ubah, berpindah tempat, dan biasanya hilang dalam kurang dari 24 jam, kemungkinan besar itu biduran (urtikaria). Bila biduran terus hilang timbul selama lebih dari 6 minggu, kondisi ini disebut urtikaria kronik. Berbeda dengan biduran akut, yang pada anak paling sering dipicu infeksi virus, urtikaria kronik umumnya bukan disebabkan alergi. Pada banyak anak, pemicunya tidak diketahui pasti, sehingga perlu dievaluasi oleh dokter.
Bedanya Biduran Akut dan Biduran Kronik
Ciri khas biduran adalah bentolnya yang berpindah-pindah, yaitu muncul di satu area, hilang, lalu muncul lagi di area lain. Bila biduran hilang timbul kurang dari 6 minggu, kondisi ini disebut urtikaria akut. Bila terus berulang lebih dari 6 minggu, disebut urtikaria kronik. Pada sebagian anak, biduran juga dapat disertai bengkak di kelopak mata atau bibir (angioedema), yang biasanya hilang dalam 1-3 hari.
Satu bentol biduran, baik akut maupun kronik, biasanya tidak menetap lebih dari 24 jam di tempat yang sama. Orang tua bisa menandai tepi satu bentol dengan pensil. Bila keesokan harinya bentol masih ada di tempat yang sama, terasa nyeri atau panas, atau meninggalkan bekas seperti memar, kondisi ini kemungkinan bukan biduran biasa. Anak perlu diperiksakan ke dokter untuk memastikan diagnosisnya.
Apa yang Menyebabkan Biduran Berulang Tanpa Pemicu yang Jelas
Urtikaria kronik terbagi menjadi dua jenis. Urtikaria kronik terinduksi muncul akibat rangsangan tertentu, seperti garukan, dingin, atau kenaikan suhu tubuh. Salah satu contohnya adalah urtikaria kolinergik akibat kenaikan suhu tubuh. Sementara itu, urtikaria kronik spontan muncul tanpa pemicu yang jelas, dan jenis inilah yang paling sering membuat orang tua bingung.
Pada urtikaria kronik spontan, penyebab pastinya sering tidak ditemukan meski sudah dilakukan berbagai pemeriksaan. Pada sekitar separuh kasus, kondisi ini diduga berkaitan dengan reaksi autoimun, yaitu sistem imun tubuh yang membuat sel-sel di kulit lebih mudah melepaskan histamin. Alergi makanan maupun tungau debu jarang menjadi penyebabnya, sehingga pantang banyak jenis makanan tanpa arahan dokter umumnya tidak bermanfaat. Infeksi kronik, misalnya infeksi bakteri di saluran cerna, pernah dikaitkan dengan sebagian kasus, tetapi buktinya masih lemah. Beberapa hal dapat memperberat biduran, seperti infeksi, obat antinyeri tertentu, stres, dan panas, meski bukan penyebab utamanya.
Tanda yang Menunjukkan Anak Perlu Diperiksa Dokter Segera
Segera bawa ke IGD bila biduran disertai bengkak di lidah atau tenggorokan, sesak napas, suara serak, sulit menelan, atau anak tampak lemas dan pucat.
Periksakan ke dokter bila biduran berulang lebih dari 6 minggu, gatal sering mengganggu tidur atau aktivitas anak, bentol menetap lebih dari 24 jam, terasa nyeri, atau meninggalkan bekas seperti memar, biduran disertai demam berulang, nyeri sendi, lemas, atau berat badan turun, atau biduran tidak membaik dengan obat yang diberikan dokter.
Perhatikan juga dampaknya pada keseharian anak, misalnya anak jadi mudah rewel, sulit berkonsentrasi di sekolah, atau malu bergaul karena bentolnya terlihat. Dampak pada kualitas hidup ini menjadi pertimbangan penting bagi dokter dalam menentukan penanganan, bukan hanya jumlah bentolnya.
Yang Bisa Dokter Lakukan untuk Menemukan Pemicunya
Dokter biasanya meminta orang tua membuat catatan harian berisi waktu munculnya biduran, makanan yang dikonsumsi, obat, aktivitas, dan kondisi anak sebelumnya. Catatan ini membantu menemukan pola, terutama untuk membedakan urtikaria kronik terinduksi dan spontan. Foto bentol saat muncul juga sangat membantu, karena bentol sering sudah hilang saat anak diperiksa.
Pada urtikaria kronik, dokter umumnya hanya memerlukan beberapa pemeriksaan darah sederhana, seperti darah lengkap dan penanda peradangan, serta pemeriksaan lain bila ada kecurigaan tertentu.
Untuk memantau keparahan, dokter dapat menggunakan skor aktivitas urtikaria, yaitu catatan jumlah bentol dan derajat gatal setiap hari selama 7 hari. Pengobatan utamanya adalah antihistamin yang tidak menyebabkan kantuk. Bila belum terkontrol, dokter dapat menyesuaikan dosis atau memberikan terapi lain. Jangan menaikkan dosis obat sendiri tanpa arahan dokter. Setelah gejala terkontrol, dokter akan mengevaluasi secara berkala untuk menurunkan dosis obat bertahap.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa lama bentol dianggap kronis pada anak?
Bentol yang hilang timbul lebih dari enam minggu dikategorikan sebagai urtikaria kronis, berbeda dari urtikaria akut yang berlangsung kurang dari enam minggu.
Apakah urtikaria kronis pada anak berbahaya?
Umumnya tidak mengancam jiwa, namun bisa sangat mengganggu kenyamanan dan kualitas tidur anak jika tidak ditangani, sehingga tetap perlu evaluasi dokter untuk menemukan pemicunya.
Apakah stres bisa memicu urtikaria berulang pada anak?
Ya, stres emosional dapat memperparah rasa gatal dan menjadi salah satu faktor yang memperpanjang siklus kekambuhan urtikaria kronis pada anak.
Apakah urtikaria kronis pada anak bisa sembuh total?
Banyak kasus dapat terkendali dengan baik setelah pemicu ditemukan dan dihindari, meski pada sebagian anak butuh waktu lebih lama dan pemantauan berkelanjutan dari dokter.
Apakah urtikaria berulang pada anak bisa dipengaruhi oleh stres di sekolah?
Bisa. Stress emosional, termasuk tekanan di sekolah atau perubahan rutinitas, tercatat sebagai salah satu faktor yang memperparah siklus gatal pada anak dengan urtikaria kronis, sehingga pengelolaan stres turut membantu mengendalikan gejala.
Referensi
- Zuberbier T, Abdul Latiff AH, Abuzakouk M, et al. The international EAACI/GA2LEN/EuroGuiDerm/APAAACI guideline for the definition, classification, diagnosis, and management of urticaria. Allergy. 2022;77(3):734-766. doi:10.1111/all.15090
- Caffarelli C, Paravati F, El Hachem M, et al. Management of chronic urticaria in children: a clinical guideline. Ital J Pediatr. 2019;45(1):101. doi:10.1186/s13052-019-0695-x
- Chansakulporn S, Pongpreuksa S, Sangacharoenkit P, et al. The natural history of chronic urticaria in childhood: a prospective study. J Am Acad Dermatol. 2014;71(4):663-668. doi:10.1016/j.jaad.2014.05.069