Beranda Artikel Alergi Kenapa Anak Sering Biduran Saat Cuaca Panas, Kenali Urtikaria Kolinergik

Kenapa Anak Sering Biduran Saat Cuaca Panas, Kenali Urtikaria Kolinergik

2026/09/27 - 01:30:13pm     oleh Morinaga Soya
anak biduran akibat kepanasan

Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto

Biduran yang muncul saat anak kepanasan atau berkeringat bisa jadi urtikaria kolinergik. Kondisi ini dipicu oleh naiknya suhu tubuh, misalnya saat berolahraga, mandi air panas, makan makanan pedas, stres, atau demam. Gejalanya berupa bentol kecil berukuran 1-3 mm yang gatal dengan kemerahan di sekitarnya, muncul dalam beberapa menit, dan biasanya hilang sendiri dalam kurang dari satu jam. Pada kasus yang jarang, kondisi ini dapat disertai gejala berat seperti sesak napas.

Urtikaria kolinergik bukan alergi terhadap makanan atau debu. Kondisi ini termasuk urtikaria terinduksi, yaitu biduran yang dipicu rangsangan tertentu, dalam hal ini kenaikan suhu inti tubuh. Kondisi ini lebih sering dialami remaja dan dewasa muda. Pada anak kecil, ruam saat kepanasan lebih sering disebabkan biang keringat, yaitu bintik-bintik kecil yang menetap selama anak kepanasan, bukan bentol yang cepat hilang.

Apa yang Terjadi pada Kulit Saat Urtikaria Kolinergik Muncul

Bentol urtikaria kolinergik muncul tersebar, terutama di dada, punggung atas, leher, wajah, dan lengan, sedangkan telapak tangan dan kaki umumnya tidak terkena. Bentolnya kecil, seperti titik-titik kemerahan yang sedikit menonjol, dan dikelilingi kulit yang tampak memerah. Bila jumlahnya banyak, bentol-bentol ini bisa berdekatan hingga menyatu menjadi bercak kemerahan yang lebih luas.

Keluhan biasanya diawali rasa gatal, hangat, atau seperti tertusuk-tusuk saat anak mulai berkeringat, lalu diikuti munculnya bentol. Begitu tubuh anak kembali sejuk dan berhenti berkeringat, bentol perlahan memudar tanpa meninggalkan bekas.

Ciri inilah yang membedakannya dari biduran biasa. Pada biduran biasa, bentolnya cenderung lebih besar, bentuknya tidak beraturan, dan tidak berkaitan dengan keringat atau kenaikan suhu tubuh. Orang tua bisa memperhatikan polanya: bila bentol kecil selalu muncul saat anak berlari, bermain di luar, atau selesai mandi air hangat, lalu hilang setelah anak beristirahat, kemungkinan besar itu urtikaria kolinergik. Foto bentol saat muncul juga akan sangat membantu dokter, karena biasanya sudah hilang saat anak diperiksa.

Pada sebagian anak, bentol dapat disertai keluhan lain seperti air liur berlebih, kram perut, atau sakit kepala, terutama saat beraktivitas fisik berat. Catat keluhan ini untuk didiskusikan dengan dokter.

Kenapa Kenaikan Suhu Tubuh Bisa Memicu Biduran

Saat suhu tubuh naik, misalnya karena berolahraga, berada di tempat panas, atau stres, tubuh berusaha mendinginkan diri dengan berkeringat. Sinyal saraf yang memicu keringat ini (melalui zat bernama asetilkolin) pada sebagian orang juga merangsang sel imun di kulit untuk melepaskan histamin. Histamin inilah yang memunculkan bentol dan rasa gatal. Jadi, biduran muncul bukan karena panas merusak kulit, melainkan karena respons tubuh terhadap kenaikan suhu yang berlebihan.

Urtikaria kolinergik paling sering dialami remaja dan dewasa muda, dan sedikit lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Hal ini berbeda dari biduran kronik yang muncul tanpa pemicu jelas, yang lebih banyak dialami perempuan dewasa. Pada anak yang lebih kecil, ruam saat kepanasan lebih sering disebabkan biang keringat, sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Tingkat keparahan gejala tidak selalu sebanding dengan seberapa panas suhu di sekitar anak. Sebagian anak sudah bereaksi dengan aktivitas ringan yang membuat tubuh sedikit berkeringat, sementara anak lain baru bereaksi setelah aktivitas fisik yang cukup berat. Karena ambang pencetusnya berbeda pada tiap anak, mencatat situasi yang memicu gejala akan lebih bermanfaat dibanding hanya mengikuti panduan umum.

Cara Meredakan Biduran Saat Anak Kepanasan

  • Pindahkan anak ke ruangan sejuk atau berkipas begitu bentol muncul, dan beri minum air sejuk
  • Kompres dingin area yang gatal dengan kain basah atau es yang dibungkus kain, jangan menempelkan es langsung ke kulit
  • Kenakan pakaian longgar dan menyerap keringat, hindari pakaian ketat atau tebal
  • Jaga agar anak tidak menggaruk, supaya kulit tidak lecet
  • Bila gatal cukup mengganggu, dokter dapat meresepkan antihistamin yang tidak menyebabkan kantuk. Jangan memberikan obat biduran untuk dewasa tanpa anjuran dokter.

Bagi anak yang senang berolahraga atau bermain aktif, pemanasan ringan secara bertahap sebelum aktivitas berat dapat membantu sebagian anak mengurangi munculnya bentol mendadak. Segera ganti baju yang basah oleh keringat untuk mencegah iritasi tambahan pada kulit.

Pilih waktu bermain di luar pada jam yang lebih sejuk, seperti pagi atau sore hari. Anak tetap bisa aktif bergerak, asalkan orang tua memperhatikan tanda awal kepanasan dan memberi waktu istirahat di tempat sejuk sebelum bentol meluas.

Konsultasikan ke dokter bila biduran sering kambuh, tidak membaik dengan langkah di atas, atau mengganggu aktivitas dan tidur anak.

Kapan Biduran Saat Kepanasan Perlu Diwaspadai

Meski jarang, sebagian anak dengan urtikaria kolinergik dapat mengalami reaksi berat (anafilaksis). Hentikan aktivitas anak dan segera bawa ke IGD bila biduran disertai sesak napas atau mengi, suara serak, bengkak di bibir, wajah, atau tenggorokan, muntah, atau anak tampak lemas, pucat, hingga pingsan.

Bila reaksi berat muncul saat anak berolahraga, dokter juga akan mempertimbangkan kemungkinan anafilaksis yang dipicu olahraga. Pada sebagian anak, reaksi ini hanya muncul bila olahraga dilakukan setelah makan makanan tertentu. Karena itu, catat apa yang dimakan anak beberapa jam sebelum gejala muncul.

Bila biduran berulang lebih dari 6 minggu, terutama tanpa pemicu panas atau keringat yang jelas, kondisinya perlu dievaluasi sebagai kemungkinan biduran (urtikaria).

Diagnosis urtikaria kolinergik umumnya dapat ditegakkan dari riwayat gejala. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan uji provokasi di bawah pengawasan, misalnya dengan meminta anak berolahraga ringan atau berendam air hangat, lalu mengamati apakah bentol khas muncul. Pemeriksaan ini membantu membedakan urtikaria kolinergik dari jenis urtikaria terinduksi lain maupun anafilaksis yang dipicu olahraga.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah urtikaria kolinergik berbahaya bagi anak?

Sebagian besar kasus ringan dan mereda sendiri dalam waktu singkat. Namun pada kasus yang jarang, kondisi ini bisa memicu anafilaksis, sehingga tetap perlu diwaspadai bila muncul sesak napas atau bengkak wajah.

Berapa lama biduran akibat panas biasanya hilang?

Bentol akibat urtikaria kolinergik umumnya memudar dalam waktu sekitar satu jam setelah anak berhenti berkeringat atau berada di tempat sejuk.

Apakah urtikaria kolinergik bisa dicegah?

Belum ada cara mencegah total, namun menghindari pemicu seperti olahraga berat di cuaca sangat panas, pakaian ketat, dan makanan pedas dapat membantu mengurangi frekuensi kambuhnya.

Apakah anak dengan alergi makanan lebih rentan mengalami ini?

Anak dengan riwayat alergi lain, seperti alergi makanan atau eksim, memang cenderung lebih rentan terhadap berbagai jenis reaksi alergi kulit, termasuk urtikaria kolinergik.

Apakah urtikaria kolinergik lebih sering terjadi pada anak laki-laki?

Beberapa penelitian menemukan urtikaria kolinergik sedikit lebih banyak dialami laki-laki, tetapi hasilnya belum konsisten, dan kondisi ini tetap bisa dialami anak perempuan. Yang lebih jelas, urtikaria kolinergik paling sering muncul pada usia remaja hingga dewasa muda.

Referensi

  • Siannoto, M. (2017). Diagnosis dan Tatalaksana Urtikaria. Cermin Dunia Kedokteran, CDK-250, 44(3), 190-194.
  • Fitria. (2013). Aspek Etiologi dan Klinis pada Urtikaria dan Angioedema. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 13(2), 96-104.
  • Octavia, N., & Nasser, M. (2018). Hubungan Antara Remisi Urtikaria Kronis dengan Eradikasi Helicobacter Pylori. Media Dermato-Venereologica Indonesiana (MDVI), 45(4), 202-206.
  • Zuberbier T, et al. The international EAACI/GA2LEN/EuroGuiDerm/APAAACI guideline for the definition, classification, diagnosis, and management of urticaria. Allergy. 2022;77(3):734-766.
  • Magerl M, et al. The definition, diagnostic testing, and management of chronic inducible urticarias - EAACI/GA2LEN/EDF/UNEV consensus recommendations 2016 update and revision. Allergy. 2016;71(6):780-802.
  • Fukunaga A, et al. Cholinergic urticaria: epidemiology, physiopathology, new categorization, and management. Clin Auton Res. 2018;28(1):103-113.
  • Magerl M, et al. EAACI/GA2LEN/EDF/UNEV consensus recommendations on chronic inducible urticarias. Allergy. 2016;71(6):780-802.
  • Zuberbier T, Althaus C, Chantraine-Hess S, Czarnetzki BM. Prevalence of cholinergic urticaria in young adults. J Am Acad Dermatol. 1994;31(6):978-981.
  • Nakamizo S, Egawa G, Miyachi Y, Kabashima K. Cholinergic urticaria: pathogenesis-based categorization and its treatment options. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2012;26(1):114-116.
  • Church MK, Maurer M, Simons FER, et al. Risk of first-generation H1-antihistamines: a GA2LEN position paper. Allergy. 2010;65(4):459-466.


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca