Beranda Artikel Alergi Tungau Debu Tidak Menggigit, Lalu Kenapa Anak Bisa Alergi

Tungau Debu Tidak Menggigit, Lalu Kenapa Anak Bisa Alergi

2026/09/27 - 01:30:42pm     oleh Morinaga Soya
bentol gatal pada kulit anak akibat tungau debu

Ditinjau oleh: dr. Theresia Sugiarto

Banyak orang tua mengira bentol gatal pada anak setelah tidur disebabkan gigitan tungau. Padahal, tungau debu rumah tidak menggigit. Alergi muncul karena anak menghirup atau bersentuhan dengan kotoran dan sisa tubuh tungau yang menumpuk di kasur, bantal, dan karpet. Karena itu, gejalanya lebih sering berupa bersin dan hidung tersumbat di pagi hari, mata gatal, batuk, atau eksim yang mudah kambuh, bukan bentol. Jika anak justru sering bentol setelah tidur, penyebabnya perlu ditelusuri lebih lanjut, karena bisa jadi berasal dari gigitan serangga.

Tungau Debu Sebenarnya Tidak Menggigit, Ini Faktanya

Tungau debu rumah adalah makhluk mikroskopis berukuran sekitar 0,2-0,3 mm, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini memakan sel kulit mati manusia, bukan darah, dan hidup di tempat yang hangat dan lembap, seperti kasur, bantal, karpet, sofa kain, dan boneka berbulu.

Setiap tungau menghasilkan sekitar 20 butir kotoran per hari, dan satu kasur dapat dihuni ratusan ribu tungau. Kotoran dan sisa tubuh tungau yang mati terus menumpuk, sehingga paparan alergen pada anak paling tinggi saat tidur. Inilah sebabnya gejala alergi sering memberat pada kasur dan bantal yang jarang dibersihkan.

Tungau debu merupakan salah satu pemicu alergi hirup yang paling sering ditemukan pada anak dengan asma dan rinitis alergi. Suhu hangat dan kelembapan tinggi yang umum di rumah-rumah di Indonesia membuat tungau dapat berkembang biak sepanjang tahun.

Bagaimana Membedakan Bentol Alergi Tungau debu dan Gigitan Serangga

Karena alergi tungau debu jarang menimbulkan bentol, orang tua perlu mengenali penyebab lain bila anak sering bentol dan gatal setelah tidur. Yang paling sering adalah gigitan serangga.

Ciri Alergi tungau debu Gigitan serangga (nyamuk, kutu kasur, kutu hewan)
Keluhan kulit Umumnya bukan bentol, eksim kambuh berupa kulit kering, kemerahan, dan gatal Bentol gatal, kadang dengan titik kecil di tengahnya
Lokasi Lipatan siku dan lutut, leher, pada bayi sering di pipi Kulit yang tidak tertutup pakaian: lengan, kaki, leher, wajah
Pola Keluhan hilang timbul, sering memberat di pagi hari Bergerombol atau berbaris, bisa muncul segera atau beberapa jam setelah digigit
Gejala lain Bersin, hidung tersumbat, mata gatal, batuk Biasanya tidak ada
Menular? Tidak Tidak, tetapi anggota keluarga yang tidur di kasur yang sama bisa ikut digigit

Bila bentol gigitan terus berulang, periksa kasur dan sela-sela tempat tidur untuk mencari kutu kasur, pasang kelambu atau gunakan pelindung dari nyamuk, dan pastikan hewan peliharaan bebas kutu. Periksakan anak ke dokter bila bentol meluas, bernanah, atau gatalnya sangat mengganggu tidur.

Gejala Lain yang Menyertai Alergi Tungau pada Anak

Gejala alergi tungau debu paling sering muncul di saluran napas. Anak dapat mengalami bersin berulang, hidung tersumbat atau berair terutama di pagi hari, sering menggosok hidung, bernapas lewat mulut, mendengkur saat tidur, hingga tampak lingkaran gelap di bawah mata. Tungau debu juga termasuk pemicu utama rhinokonjungtivitis alergi, yaitu keluhan hidung tersebut yang disertai mata gatal dan berair.

Pada anak dengan asma, tungau debu merupakan pemicu yang sangat penting. Lebih dari separuh anak dengan asma diketahui sensitif terhadap tungau debu. Paparannya membuat saluran napas lebih mudah menyempit, sehingga anak lebih sering batuk, terutama di malam hari, atau mengalami mengi dan sesak napas. Pada anak dengan eksim, tungau debu juga dapat membuat eksim lebih mudah kambuh atau memberat.

Cara Mengurangi Paparan Tungau di Kamar Anak

  • Cuci sprei, sarung bantal, dan selimut seminggu sekali dengan air panas (sekitar 60 derajat C), lalu keringkan hingga benar-benar kering.
  • Gunakan sarung kasur dan bantal anti-tungau yang menutup seluruh permukaan kasur dan bantal.
  • Sedot debu kasur dan karpet dengan vacuum cleaner berfilter HEPA secara rutin, sebaiknya saat anak tidak berada di kamar.
  • Jaga kamar tetap kering dan berventilasi baik. Buka jendela agar sinar matahari masuk, dan gunakan AC atau dehumidifier bila tersedia.
  • Kurangi barang berbahan kain yang menumpuk debu, seperti karpet tebal, gorden berlapis, dan boneka kain. Pilih gorden yang mudah dicuci. Boneka kesayangan anak bisa dicuci dengan air panas.
  • Bersihkan area yang sering terlewat, seperti kolong tempat tidur dan bagian atas lemari.

Menggabungkan beberapa langkah di atas lebih bermanfaat dibanding hanya melakukan satu langkah saja. Bila gejala alergi anak tetap sering kambuh meski paparan tungau sudah dikurangi, konsultasikan ke dokter. Dokter dapat melakukan tes alergi untuk memastikan pemicunya dan menyesuaikan pengobatan anak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah tungau debu bisa dilihat dengan mata telanjang?

Tidak. Ukuran tungau debu hanya sekitar 0,2 sampai 0,3 mm, sehingga hanya dapat terlihat menggunakan mikroskop, berbeda dari kutu kasur yang bisa terlihat langsung.

Apakah alergi tungau bisa sembuh total?

Alergi tungau umumnya tidak hilang total, namun gejalanya bisa dikendalikan dengan mengurangi paparan alergen di rumah dan pengobatan sesuai anjuran dokter.

Apakah kasur baru bisa langsung ada tungau?

Bisa, meski populasinya biasanya masih rendah di awal. Tungau berkembang biak cepat dalam kondisi hangat dan lembap, sehingga kasur bisa terkontaminasi dalam beberapa bulan pemakaian.

Apakah alergi tungau berhubungan dengan asma anak?

Ya, lebih dari separuh anak dengan asma diketahui sensitif terhadap tungau debu rumah, dan paparannya dapat memperburuk gejala asma yang sudah ada.

Apakah menjemur kasur di bawah sinar matahari efektif membasmi tungau?

Cukup membantu karena tungau tidak tahan panas dan kelembapan rendah, namun tidak menghilangkan sepenuhnya. Kombinasi menjemur, mencuci sprei rutin, dan vacuum berfilter HEPA lebih efektif dibanding hanya salah satu cara saja.

Referensi

  • Arlian LG, Platts-Mills TAE. The biology of dust mites and the remediation of mite allergens in allergic disease. J Allergy Clin Immunol. 2001;107(3 Suppl):S406-S413.
  • Tovey ER, Chapman MD, Platts-Mills TA. Mite faeces are a major source of house dust allergens. Nature. 1981;289(5798):592-593.
  • Calderon MA, Linneberg A, Kleine-Tebbe J, et al. Respiratory allergy caused by house dust mites: what do we really know? J Allergy Clin Immunol. 2015;136(1):38-48.
  • Hernandez RG, Cohen BA. Insect bite-induced hypersensitivity and the SCRATCH principles: a new approach to papular urticaria. Pediatrics. 2006;118(1):e189-e196.
  • Doggett SL, Dwyer DE, Penas PF, Russell RC. Bed bugs: clinical relevance and control options. Clin Microbiol Rev. 2012;25(1):164-192.
  • Weidinger S, Novak N. Atopic dermatitis. Lancet. 2016;387(10023):1109-1122.
  • Bergmann KC. Biology of house dust mites and storage mites. Allergo J Int. 2022;31(8):272-278. doi:10.1007/s40629-022-00231-8
  • Gotzsche PC, Johansen HK. House dust mite control measures for asthma. Cochrane Database Syst Rev. 2008;(2):CD001187.
  • Sheikh A, Hurwitz B, Nurmatov U, van Schayck CP. House dust mite avoidance measures for perennial allergic rhinitis. Cochrane Database Syst Rev. 2010;(7):CD001563.
  • Portnoy J, Miller JD, Williams PB, et al. Environmental assessment and exposure control of dust mites: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 2013;111(6):465-507.


medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
allysca