Beranda Artikel 13-36 Bulan Alergi Telur Pada Anak: Kenali Ciri-Ciri Dan Cara Mengatasinya

Alergi Telur Pada Anak: Kenali Ciri-Ciri Dan Cara Mengatasinya

2021/12/22 - 11:36:07am     oleh Morinaga Soya
Alergi Telur Pada Anak: Kenali Ciri-Ciri Dan Cara Mengatasinya

Anak yang mengalami alergi terhadap makanan bukanlah hal yang langka. Melansir dari Hopkins Medicine, setidaknya sebanyak 5% dari seluruh anak berusia di bawah 5 tahun memiliki alergi terhadap makanan. Beberapa jenis makanan yang kerap menimbulkan reaksi alergi pada anak adalah telur, susu sapi, kacang-kacangan, dan makanan laut.

Mengidap alergi terhadap makanan ini membuat Bunda harus memikirkan alternatif pengganti yang bisa diberikan kepada Si Kecil supaya kebutuhan nutrisi hariannya terjaga tanpa harus menimbulkan reaksi alergi. Lalu bagaimana bila Si Kecil mengidap alergi terhadap makanan serbaguna dan kaya protein seperti telur? Apa saja ciri-cirinya dan bagaimana cara mengatasinya?

Penyebab Alergi Telur Pada Anak

Dalam kebanyakan kasus, alergi terhadap telur ini seringnya terjadi kepada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Melansir dari Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy, semua bentuk alergi baik terhadap makanan ataupun partikel lainnya diakibatkan oleh sistem imun tubuh yang bereaksi berlebih terhadap partikel pemicu alergi atau yang biasa disebut dengan alergen.

Sistem kekebalan tubuh Si Kecil mendeteksi zat yang masuk ke dalam tubuh sebagai ancaman dan melepaskan antibodi yang pada akhirnya menimbulkan reaksi peradangan dan pelepasan zat kimia yang dikenal juga dengan nama histamin yang berguna untuk melindungi tubuh. Zat inilah yang akhirnya menimbulkan beberapa reaksi seperti gatal-gatal, demam, dan gejala alergi lainnya sebagai upaya untuk mengeluarkan zat berbahaya tersebut dari dalam tubuh.

Dari sekian banyak makanan, nyatanya telur adalah salah satu makanan yang paling umum menyebabkan alergi pada anak-anak. Alergi telur ini sendiri bisa terjadi selang beberapa menit ataupun jam setelah Si Kecil mengkonsumsi telur atau makanan lain yang memiliki telur sebagai salah satu bahannya. Baik putih maupun kuning telur bisa menjadi sumber pencetus alergi Si Kecil. Dan bukan hanya telur ayam, namun Si Kecil bisa juga memiliki alergi terhadap telur bebek ataupun lainnya.

Baik putih ataupun kuning telur memiliki protein yang bisa memicu reaksi alergi pada sistem kekebalan tubuh. Protein yang dimiliki oleh putih telur disebut juga dengan ovomucoid, ovalbumin, ovotransferrin, dan lisozim. Di samping lain, pada kuning telur ada livetin, lipovitellin, dan phosvitin. Kandungan putih telur ini sendiri lebih sering menjadi penyebab alergi pada Si Kecil.

Selain itu, penyebab lain Si Kecil mengalami kondisi alergi terhadap telur adalah akibat ketidakmampuan sistem imun tubuh dalam membedakan protein yang dimiliki telur terhadap patogen yang menyebabkan penyakit. Sehingga ketika mendeteksi keberadaan protein telur, sistem kekebalan tubuh segera melakukan serangan dengan melepaskan antibodi.

Ciri-ciri Alergi Telur Pada Anak

Si Kecil dapat mengalami alergi terhadap berbagai jenis olahan telur, baik telur mentah, direbus, dimasak setengah matang, ataupun digunakan sebagai bahan campuran dalam mengkreasikan makanan. Si Kecil yang belum mengonsumsi makanan padat dan masih menyusu kepada Bunda pun bisa mengalami gejala alergi bila Bunda mengonsumsi telur.

Mengutip dari laman Mayo Clinic, tanda-tanda serta gejala Si Kecil yang mengidap alergi telur ini cukup bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga berat. Gejala umum yang akan sering muncul biasanya muncul ruam di area kulit, gatal-gatal, hidung terasa tersumbat, hingga mengalami masalah pencernaan dan muntah-muntah.

Mengutip dari jurnal yang bertajuk Pediatrics Clinics of North America disebutkan lebih lanjut bahwa balita dan anak-anak akan mengalami reaksi alergi dalam hitungan menit hingga setidaknya 2 jam setelah memakan telur. Tingkat keparahannya sendiri tidak bisa diprediksi secara akurat. Namun yang pasti reaksi alergi bisa sampai berpotensi mengancam kesehatan Si Kecil apalagi bila tidak segera ditangani dengan sigap.

Untuk memastikannya Bunda bisa melihat apakah Si Kecil menunjukan gejala-gejala berikut ini setiap kali usai memakan telur.

1. Ruam Merah

Salah satu bentuk reaksi alergi telur yang paling umum muncul pada anak-anak adalah timbulnya ruam merah di area kulit. Biasanya hal ini akan ditandai dengan warna kulit yang berubah kemerahan, dan makin lama makin terasa gatal dan tak jarang menimbulkan sensasi panas. Reaksi ini walaupun tidak fatal namun tentu saja akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan menjadi rewel karenanya

Terkadang, kontak kulit yang tidak disengaja dengan alergen juga bisa menyebabkan timbulnya ruam ini loh, Bunda. Jadi berhati-hati juga ya dalam meletakan makanan atau benda yang bisa memicu alergi Si Kecil. Selain itu, bila ruam terlalu lama didiamkan, gejala alergi ini malah bisa memburuk hingga menjadi eksim kulit. Meskipun akan sulit, pastikan supaya Si Kecil tidak menggaruk ruam ini supaya tidak muncul masalah infeksi lainnya di area kulit.

Bunda bisa memakaikan sarung tangan kecil yang berbahan lembut supaya tidak ada luka kulit yang bermasalah. Bila memang diperlukan, aplikasikan salep anjuran dokter ataupun salep khusus seperti petroleum jelly yang dapat membantu Si Kecil meredakan rasa gatal dan tidak nyaman yang dialaminya.

2. Bengkak di Area Bibir dan Mata

Anak-anak yang mengalami alergi telur akan mengalami pembengkakan di area wajah, terutama di area bibir dan mata. Hal ini tentu akan membuat Si Kecil Merasa tidak nyaman. Pembengkakan ini bisa membuat bibirnya terasa perih, gatal, sakit, dan panas. Tak jarang, lidahnya juga akan ikut bengkak.

3. Mata Berair

Selain bengkak, mata Si Kecil akan menjadi merah dan berair saat gejala alergi mulai menyerang, biasanya Si Kecil akan terlihat berusaha menggaruk area matanya. Pastikan supaya area mata Si Kecil yang sedang sensitif ini tidak tergaruk atau terkena tangan Si Kecil ya Bunda. Pakaikan Si Kecil sarung tangan berbahan lembut sebagai langkah pencegahan.

4. Pembengkakan di Tenggorokan dan Hidung Tersumbat

Reaksi alergi lain adalah tenggorokan yang membengkak sehingga Si Kecil akan kelihatan sulit untuk menelan ketika diberikan makanan ataupun susu. Begitu juga dengan hidung yang akan terasa tersumbat disertai dengan keluarnya lendir bening.

5. Sakit Perut dan Muntah

Sakit perut maupun diare bisa terjadi sebagai bentuk gejala alergi Si Kecil terhadap telur. Lebih parahnya, diare bisa disertai dengan muntah dan mual. Dalam kondisi ini tentu Si Kecil akan terlihat lebih lesu dan tak bertenaga. Pastikan Bunda untuk selalu memenuhi kebutuhan cairannya supaya ia tidak dehidrasi.

6. Sulit Bernapas

Tanda ini mungkin sering disalahartikan sebagai tanda bahwa Si Kecil akan pilek atau sekadar merasa kedinginan. Tapi ternyata ini bisa menjadi tanda alergi loh Bunda. Si Kecil akan terlihat seperti sulit bernapas atau napasnya akan berbunyi ‘ngik’. Karena memang dalam beberapa kasus yang cukup gawat, gejala alergi bisa mengembangkan reaksi alergi lebih parah berupa asma atau mengi.

7. Demam

Salah satu upaya tubuh dalam menghilangkan virus ataupun substansi berbahaya dari tubuh adalah dengan meningkatkan suhu tubuh. Tak terkecuali bila Si Kecil mengalami reaksi alergi. Tubuh otomatis akan menunjukan reaksi demam beberapa saat setelah telur masuk ke dalam tubuh. Coba perhatikan apakah Si Kecil menunjukan gejala lain seperti sulit bernapas, mata dan bibir bengkak, adanya ruam di kulit atau tidak. Bila iya, sudah pasti Si Kecil mengalami reaksi alergi.

8. Anafilaksis

Pada kasus gejala alergi yang cukup gawat, akan muncul anafilaksis, atau reaksi alergi ekstrem yang bisa berakibat fatal ataupun mengancam nyawa Si Kecil. Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang cukup parah dan bisa terjadi hanya dalam waktu singkat.

Gejala awal mungkin tidak akan berbeda dengan gejala alergi pada umumnya. Namun hanya dalam waktu singkat, anafilaksis ini akan membuat Si Kecil menjadi sulit untuk bernapas hingga jantung yang berdebar terlalu kencang dan kemungkinan terburuk yang terjadi adalah jantung yang berhenti tiba-tiba.

Bila Bunda masih ragu, Bunda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Mengatasi Alergi Telur pada Bayi

Ada beberapa cara yang tentunya bisa Bunda lakukan ketika alergi Si Kecil kambuh ataupun untuk mencegahnya datang kembali, caranya antara lain:

1. Menghindari Faktor Pencetus

Hal paling pasti yang perlu dilakukan dalam upaya mencegah timbulnya reaksi alergi terhadap Si Kecil adalah dengan menghindarkannya dari sumber alergen. Bunda bisa memilih beberapa makanan alternatif pengganti telur sebagai sumber protein bagi Si Kecil. Namun bila Bunda masih dalam tahap memberikan ASI pada bayi, maka Bunda juga harus menghindari telur.

2. Memberikan Alternatif Pengganti

Mengatasi alergi telur, ada beberapa makanan tertentu yang cukup baik diberikan sebagai pengganti. Antara lain adalah

3. Daging

Daging dari unggas seperti ayam adalah salah satu alternatif yang cukup baik untuk menggantikan telur. Daging unggas merupakan sumber seng dan mineral makanan yang dapat membantu Si Kecil tumbuh secara optimal. Bunda bisa memberi makan dalam bentuk bubur atau di puree bersama dengan beberapa bahan makanan lain. Setelah Si Kecil cukup umur dan sudah lebih kuat untuk dapat mengunyah, Bunda bisa memberikan daging seukuran nugget.

4. Kacang-kacangan

Kacang merupakan sumber vitamin serta kolesterol baik sehingga sangat disarankan untuk menjadi pengganti telur. Tapi tentu saja pastikan terlebih dahulu bahwa Si Kecil tidak memiliki alergi terhadap kacang ya, Bunda.

Pilihlah beberapa jenis kacang seperti almond, pistachio, kacang kenari, dan kacang kedelai yang kaya akan vitamin sehingga bisa membantu melengkapi nutrisi harian Si Kecil supaya tetap terpenuhi.

5. Sayuran berdaun

Sayuran berdaun seperti bayam, kangkung, bok choy, dan lainya merupakan sumber mineral serta vitamin yang baik dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian Si Kecil.

6. Tahu dan Tempe

Baik tahu dan tempe merupakan dua jenis makanan yang terbuat dari kacang kedelai. Kedua makanan ini terkenal kaya akan protein nabati sehingga merupakan salah satu sumber protein baik bagi tubuh dan sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang Si Kecil.

Bagaimana Bunda, ada banyak cara yang bisa Bunda lakukan untuk mencukupi kebutuhan protein Si Kecil meskipun ia tidak bisa mengonsumsi telur. Apabila Si Kecil tidak sengaja memakan telur dan reaksi alerginya kambuh, segera hubungi dokter terutama bila gejala alergi kerap bertambah parah dan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman.

Biasanya dalam beberapa kasus, ketika Bunda membawa Si Kecil ke dokter, Si Kecil mungkin akan diberikan resep obat untuk meringankan gejala alerginya. Cobalah untuk hanya mengonsumsi obat bila memang terpaksa. Pasalnya, penggunaan obat sejak dini tentu tidak memiliki efek baik bagi kesehatan Si Kecil dalam jangka panjang.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu