Beranda Artikel 0-12 Bulan Penyebab Alergi Protein Pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Penyebab Alergi Protein Pada Bayi dan Cara Mengatasinya

2022/05/13 - 08:05:59pm     oleh Morinaga Soya
Penyebab Alergi Protein Pada Bayi dan Cara Mengatasinya

Apakah Si Kecil menunjukkan gejala alergi setelah mengonsumsi makanan yang mengandung susu sapi, Bun? Bunda perlu mewaspadai adanya alergi protein pada bayi. Beberapa bayi memang ada yang menunjukkan reaksi alergi pada susu sapi dan produk olahannya. Akan tetapi kondisi ini biasanya akan hilang seiring bertambahnya usia.

Protein merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan untuk membangun organ-organ tubuh. Nutrisi ini ada yang berasal dari hewan dan ada juga yang berasal dari tumbuhan. Protein sangat diperlukan oleh tubuh terutama pada bayi dan anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Sayangnya, beberapa bayi kerap mengalami masalah dalam mencerna protein sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Secara umum, alergi protein disebabkan oleh protein hewani yang berasal dari susu sapi. Jadi risiko alergi protein pada bayi yang mengonsumsi ASI sangat jarang terjadi. Lalu apa sebenarnya penyebab alergi protein ini dan bagaimana juga cara mengatasinya? Simak ulasan berikut ini, Bun!

Apa Itu Alergi Protein Hewani?

Alergi protein hewani atau intoleransi protein susu merupakan kondisi dimana pencernaan bayi sensitif atau tidak bisa menerima protein hewan yang ada di dalam susu atau produk olahannya. Kondisi ini akan menyebabkan cedera usus sehingga menimbulkan berbagai gejala alergi seperti diare hingga tinja berdarah.

Bayi di bawah usia tiga tahun biaya lebih rentan terhadap alergi protein hewani ini. Akan tetapi seiring bertambahnya usia, biasanya reaksi alergi yang ditimbulkan akan menurun bahkan bisa hilang dan sembuh secara total.

Penyebab Alergi Protein

Dilansir dari KlikDokter, penyebab alergi protein pada bayi hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Perlu Bunda ketahui, alergi protein ini merupakan reaksi terhadap susu sapi. Dalam hal ini belum ada bukti yang menyebutkan bahwa pengenalan susu dini ataupun terlambat bisa menyebabkan kondisi ini.

Dibanding bingung mencari penyebab alergi protein hewani pada bayi, ada baiknya Bunda lebih waspada terhadap gejala dari kondisi tersebut. Jadi jika bayi menunjukkan gejala alergi protein, Bunda bisa langsung mencari pemicu alergi (allergen) tersebut dan menghentikannya. Beberapa gejala alergi protein yang dialami oleh bayi antara lain:

  • Diare
  • Muntah
  • Rewel
  • Konstipasi
  • Menangis setelah diberi susu
  • Tinja berdarah

Pada umumnya, bayi yang mengalami kondisi alergi protein hewani tidak ada masalah dengan ASI. Akan tetapi jika Bunda mengonsumsi protein hewani, bisa memicu munculnya reaksi alergi dari ASI yang diminum oleh bayi. Jadi bagi Bunda yang memiliki bayi dengan kondisi tersebut, ada baiknya pilih makanan untuk anak alergi protein dengan lebih bijak.

Makanan Pemicu Alergi

Munculnya reaksi alergi protein pada bayi biasanya hanya pada protein hewani saja. Maka dari itu, sebagai alternatif untuk memenuhi asupan nutrisi bayi, Bunda bisa memberikannya susu kedelai atau susu soya sebagai alternatif pengganti protein dari susu sapi karena susu soya mengandung protein nabati.

Selain menghindari susu sapi dan produk olahan turunannya, ada baiknya Bunda juga perlu menghindari makanan yang bisa memicu alergi protein hewani pada bayi seperti berikut ini:

  • Telur
  • Ikan
  • Kacang tanah
  • Kacang pohon
  • Gandum
  • Kerang

Bayi yang terdiagnosa mengalami alergi terhadap protein hewani perlu menghindari atau membatasi beberapa jenis makanan di atas. Termasuk juga pada bayi yang minum ASI. Jadi selain memperhatikan asupan makanan bayi, Bunda juga perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi jika masih menyusui bayi yang alergi protein hewani.

Penegakan Diagnosis Alergi Protein

Mendiagnosis alergi protein hewani pada bayi tidak bisa dilakukan dengan mudah karena gejalanya bisa menyerupai banyak kondisi lainnya. Namun jika bayi mengalami gejala diatas dan mencurigai susu sapi adalah penyebabnya maka dokter akan melakukan penegakan diagnosa alergi protein ini dengan langkah sebagai berikut:

  • Menanyakan riwayat perjalanan alergi pada bayi atau orangtua yang meliputi makanan dan minuman apa saja yang pernah dikonsumsi, gejala alergi apa saja yang timbul, dan apakah alergi berkurang saat makanan atau minuman dihentikan.
  • Pemeriksaan fisik bayi untuk mengetahui indikasi alergi pada tubuhnya
  • Pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar antobodi Imunoglobulin E dalam darah bayi
  • Pemeriksaan melalui kulit, biasanya dilakukan dengan membuat luka kecil pada permukaan kulit bayi kemudian akan diletakkan sejumlah kecil protein hewani. Jika muncul benjolan kecil dan gatal pada daerah tersebut, maka hal tersebut menandakan adanya indikasi alergi protein hewani.

Cara Mengatasi Alergi Protein pada Bayi

Alergi protein hewani pada bayi bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani dengan tepat. Maka dari itu, Bunda perlu tahu cara mengatasi alergi protein pada bayi agar kondisi tersebut tidak mengancam jiwa dan keselamatan si kecil.

Pasalnya jika dibiarkan, bayi bisa mengalami dehidrasi akut akibat banyaknya cairan yang keluar baik dari muntah maupun dari diare. Alergi yang terus dibiarkan juga dapat mengganggu tumbuh kembang Si Kecil lho, Bun!

Jika Bunda memberikan ASI eksklusif pada bayi yang alergi terhadap protein hewani, maka sebaiknya Bunda menghindari semua produk susu dan olahan turunannya hingga bayi disapih atau tidak minum ASI lagi.

Dan jika bayi mengonsumsi susu formula, maka pastikan susu yang diminum tidak mengandung protein hewani sama sekali. Sebagai pengganti, biasanya dokter akan menyarankan untuk mengganti susu sapi dengan susu yang berbahan dasar kedelai atau biasa disebut dengan susu soya. Salah satunya adalah Morinaga Chil Kid Soya.

Morinaga Chil Kid Soya tidak hanya mengandung protein nabati yang bebas dari allergen, namun juga merupakan solusi dari alergi Si Kecil. Susu soya ini mengandung Bifidobacterium M-16V yang mampu mencegah alergi pada kulit, Bifidobacterium BB536 serta Bifidobacterium M-63 yang mengurangi gejala alergi pada saluran cerna.

Selain memperhatikan pilihan susu formula dan asupan makanan yang Bunda konsumsi, penting juga untuk menghindarkan bayi dari produk olahan susu sapi seperti keju, butter hingga es krim. Langkah ini perlu Bunda lakukan hingga anak benar-benar toleran terhadap protein hewani sehingga tidak menimbulkan reaksi alergi jika mengonsumsinya. Selain itu, Bunda juga perlu menghindari makanan yang bisa memicu reaksi alergi protein seperti telur, ikan, kacang dan juga seafood.

Demi menghindari munculnya reaksi alergi protein pada bayi, pastikan asupan makanan pada bayi yang telah MPASI juga aman dari kandungan protein hewani. Bunda juga bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan alternatif makanan MPASI yang bernutrisi meskipun tanpa protein hewani.

Nah, itulah ulasan lengkap seputar penyebab hingga cara mengatasi alergi protein pada bayi yang perlu Bunda ketahui. Bayi dan anak-anak memang membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk menunjang masa pertumbuhannya. Akan tetapi jika Si Kecil ternyata memiliki reaksi alergi terhadap protein hewani, maka Bunda perlu tahu alternatif pengganti agar nutrisi Si Kecil tetap terpenuhi dan risiko munculnya gejala alergi protein hewani bisa dihindari.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu