Beranda Artikel 13-36 Bulan Si Kecil Alergi Protein? Kenali Penyebab & Cara Menanganinya

Si Kecil Alergi Protein? Kenali Penyebab & Cara Menanganinya

2021/10/11 - 12:41:35pm     oleh Morinaga Soya
Si Kecil Alergi Protein? Kenali Penyebab & Cara Menanganinya

Protein merupakan salah satu nutrisi penting bagi tubuh baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Protein sendiri memiliki peranan cukup penting bagi tumbuh kembang anak. Sayangnya, bagi sebagian anak tidak semua zat makanan dapat diterima dengan baik oleh tubuhnya. Ada kalanya Si Kecil ternyata memiliki alergi terhadap protein, terutama protein hewani.

Kondisi alergi protein ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh Si Kecil memberikan respon berlebihan terhadap protein dari makanan yang dikonsumsi. Reaksi alergi ini sendiri pada setiap anak akan berbeda, namun umumnya dapat menimbulkan beberapa gejala pada kulit, pencernaan, hingga pernapasan. Terkadang, hal ini bisa membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan menjadi rewel.

Anak dengan gejala alergi berat membutuhkan lebih banyak nutrisi yang bisa didapat dari makanan yang tidak menimbulkan alergi baginya. Hal ini dikarenakan anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dari pembatasan makanan yang merupakan sumber alergi baginya. Bila tidak diganti dengan alternatif makanan yang tidak menimbulkan alergi, hal ini malah bisa membuat Si Kecil kekurangan asupan nutrisi.

Penyebab Alergi Protein

Alergi merupakan salah satu reaksi tubuh yang berlebih terhadap sesuatu di sekeliling. Gejala yang ditimbulkan bisa berupa gangguan pernapasan atau tanda yang cukup terlihat di kulit. Alergi protein pada bayi membuat sistem imun tubuhnya memberikan reaksi berlebihan pada protein makanan tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa alergi ini bisa terjadi, antara lain:

  • Pencernaan Sensitif

Alergi protein hewani yang terjadi pada bayi umumnya dikarenakan pencernaan yang sensitif. Pencernaan sensitif dapat mengganggu proses penyerapan kandungan makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini justru membuat beberapa kandungan makanan tidak dapat diterima oleh pencernaan, dan salah satunya adalah makanan berprotein.

  • Reaksi Imun Tubuh

Sistem imun memiliki peran cukup penting sebagai alat proteksi alami tubuh yang menghalangi masuknya zat asing ke dalam tubuh. Tapi, sama seperti pencernaan, maka sistem imun tubuh dapat keliru dalam mengenali makanan ataupun zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Meskipun Si Kecil mengonsumsi makanan yang aman baginya, namun reaksi imun yang kurang tepat ini akan menimbulkan reaksi alergi pada Si Kecil.

  • Alergi Protein Hewani Lewat ASI

Bila Si Kecil masih dalam proses penerimaan ASI, maka ia juga bisa mengalami alergi protein hewani lewat ASI. atau lebih tepatnya, akibat protein yang Bunda konsumsi. Bila Bunda terlalu banyak mengonsumsi protein hewani, ini dapat memicu terjadinya alergi protein pada bayi. Kondisi ini dapat terjadi karena sistem pencernaan Si Kecil yang masih dalam tahap perkembangan. Namun, seiring berjalannya waktu, alergi yang diakibatkan melalui ASI ini akan menghilang seiring berjalannya waktu. Bila dirasa masih tidak membaik, sudah saatnya Bunda memeriksakan Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut.

  • Reaksi Tubuh Berlebih

Ada kalanya tubuh bereaksi secara berlebih dalam mengidentifikasi dan mendeteksi zat asing. Hal ini otomatis akan memicu tubuh mengeluarkan zat histamin dan bahan kimia lain sebagai upaya pencegahan zat asing tersebut menginfeksi tubuh. Histamin serta zat kimia lain yang bereaksi terhadap sumber yang diduga sebagai alergen inilah yang membuat munculnya gejala alergi. Reaksi yang terjadi umumnya berupa gatal-gatal, hidung berair, bengkak, diare, atau dalam beberapa kasus menimbulkan syok anafilaktik.

  • Tubuh Belum Terbiasa Dengan Makanan Tertentu

Si Kecil memerlukan berbagai jenis zat dan nutrisi yang terkandung dalam makanan. Selain dapat mencukupi beragam kebutuhan untuk tumbuh kembangnya, hal ini bisa menguatkan sistem imun yang mampu mencegah terjadinya alergi. Bila Bunda terlalu banyak membatasi makanannya sejak kecil, maka akan lebih mudah baginya untuk terkena alergi ketika mengkonsumsinya. Pasalnya, tubuh masih belum bisa mengidentifikasi makanan baru atau asing sebagai makanan bermanfaat. American Academy of Pediatrics (AAP) juga menyatakan bahwa variasi makanan diperlukan terutama dalam masa tumbuh kembang Si Kecil. Ini bisa mencegah resiko muncul dan berkembangnya alergi di kemudian hari.

Sumber Makanan Alergi Protein

Semua makanan yang mengandung protein berpotensi menyebabkan reaksi alergi pada penderita alergi protein. Namun ada beberapa jenis makanan berprotein yang cukup umum menyebabkan alergi, yakni:

  • Telur

Baik kuning maupun putih telur, keduanya mengandung protein yang tentunya bisa memicu reaksi alergi. Alergi protein telur bisa dialami oleh siapa saja, tetapi cenderung umum dialami oleh anak-anak. Selain itu, bila Bunda masih menyusui Si Kecil, maka reaksi alergi bisa terjadi pada bayi apabila Bunda mengonsumsi telur.

  • Ikan

Reaksi alergi terhadap ikan biasanya diakibatkan karena adanya protein dalam jenis ikan tertentu, baik ikan laut maupun air tawar. Reaksi alergi dapat dipicu bila Si Kecil mengonsumsi atau bersentuhan dengan ikan.

  • Makanan Laut atau Seafood

Beberapa makanan laut seperti udang, kepiting, tiram, lobster, cmi-cumi, dan gurita memiliki protein yang berpotensi menjadi alergen. Gejalanya akan muncul seketika atau dalam hitungan menit usai mengkonsumsinya. Si Kecil bisa saja mengalami alergi terhadap salah satu jenis makanan laut atau malah semua jenis makanan laut. Jadi Bunda harus lebih hati-hati dalam memilih makanan laut bagi Si Kecil bila memang ia memiliki riwayat alergi.

  • Kacang

Protein yang terdapat pada beberapa jenis kacang seperti pistachio, walnut, kacang mede, dan kacang tanah nyatanya juga bisa memicu alergi protein pada pada Si Kecil loh, Bunda. Pastikan untuk lebih berhati-hati terhadap pemilihan produk makanan, cek ulang apakah makanan yang dikonsumsi Si Kecil tidak mengandung sumber protein ini.

  • Susu

Protein dalam susu atau produk susu seperti keju, yoghurt, dan lainnya bisa juga menimbulkan alergi. Alergi protein hewani sering terjadi pada bayi atau anak-anak. Kondisi ini membuat mereka tidak dapat mengonsumsi susu sapi. Walau gejala alergi susu dan intoleransi laktosa hampir mirip, namun keduanya merupakan hal berbeda. Karena susu memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, pastikan Bunda bisa menemukan alternatif pengganti susu sapi untuk memenuhi nutrisi Si Kecil. Umumnya, Bunda akan disarankan untuk menggunakan susu soya sebagai alternatif pengganti susu sapi. Bunda bisa cari tahu rekomendasi susu soya yang bebas laktosa, melalui artikel berikut ya: Susu Bebas Laktosa yang Aman untuk Si Kecil

Penanganan alergi protein

Gejala alergi protein akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein bisa bersifat ringan hingga parah. Ciri-ciri alergi protein yang umum terjadi adalah:

  • Gatal-gatal dan ruam merah di kulit
  • Bibir bengkak
  • Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, kram perut, atau bahkan diare
  • Gangguan pernapasan, bersin, hidung tersumbat
  • Mata berair, merah, dan gatal

Ketika Si Kecil mengonsumsi makanan tertentu dan mulai menunjukan ciri alergi tersebut, maka ada beberapa penanganan pertama yang bisa Bunda praktikan

Mengenal dan menghindari zat pemicu alergi

Bila Si Kecil sudah dipastikan memiliki riwayat alergi, maka satu-satunya hal yang dapat Bunda lakukan adalah melakukan pencegahan atau menghindarinya dari zat pemicu alergi. Pasalnya, belum ada studi yang menyatakan bahwa alergi dapat disembuhkan. Oleh karenanya, penting bagi Bunda untuk mengetahui apa saja yang dapat memicu timbulnya reaksi alergi pada Si Kecil sehingga dapat menghindarkannya dari alergen.

Membaca label kemasan produk dengan teliti

Pastikan Bunda tidak pernah lupa untuk membaca label kemasan produk makanan yang akan diberikan kepada Si Kecil. Cek ulang apakah produk memang tidak mengandung alergen yang bisa memicu kambuhnya alergi pada anak. Bunda mulai bisa mencari produk-produk alternatif yang bisa diberikan kepada Si Kecil guna memenuhi kebutuhan harian gizinya.

Memeriksakan Si Kecil ke Dokter

Bila reaksi alergi terus berlanjut walaupun Bunda sudah melakukan pencegahan, maka segeralah bawa Si Kecil untuk diperiksakan ke dokter. Umumnya, dokter akan memberikan beberapa alternatif obat jika memang diperlukan. Ada beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk mengatasi reaksi alergi pada Si Kecil. Namun penggunaan obat ini haruslah dengan sesuai dengan anjuran dan izin dokter yang memang mengetahui keadaan Si Kecil ya, Bunda.

Demikian beberapa hal yang harus Bunda perhatikan mengenai seputar alergi protein pada Si Kecil. Selalu teliti dalam mengenali tanda-tandanya beserta pencetusnya agar Bunda bisa melakukan pencegahan bila Si Kecil memiliki gejala alergi terhadapi protein. Semoga bermanfaat.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu