Beranda Artikel 13-36 Bulan Alergi Tungau Pada Anak: Gejala, Penyebab & Cara Menanganinya

Alergi Tungau Pada Anak: Gejala, Penyebab & Cara Menanganinya

2022/01/28 - 04:48:18pm     oleh Morinaga Soya
Alergi Tungau Pada Anak: Gejala, Penyebab & Cara Menanganinya

Alergi merupakan kondisi dimana sistem tubuh memberikan reaksi berlebih sebagai bentuk perlindungan atau pertahanan tubuh terhadap benda asing yang umumnya mungkin tidak akan menimbulkan reaksi apapun pada orang lain tapi malah bereaksi berbeda di tubuh Si Kecil. Banyak hal yang bisa menjadi pemicu alergi pada setiap orang, diantaranya debu, serbuk sari yang berasal dari bunga, makanan, ataupun alergi terhadap tungau.

Tungau sendiri adalah salah satu jenis serangga yang ukurannya sangat kecil sehingga hampir tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Meskipun berukuran kecil, nyatanya tungau bisa menjadi cukup berbahaya karena dapat menggigit kulit dan menyebabkan sensasi gatal, perih, hingga iritasi. Sayangnya, keberadaan hewan mikroskopis ini di dalam rumah tidak dapat dihindarkan karena tungau pasti akan selalu ada di setiap sudut atau di perabotan yang tidak terjaga kebersihannya. Maka dari itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan rajin menjaga kebersihan rumah.

Penyebab Alergi Tungau

Pemicu alergi bisa jadi bukan karena tungau itu sendiri, melainkan protein pada feses dan serpihan badan tungau yang sudah mati. Karena berukuran sangat kecil, baik tungau yang masih hidup ataupun mati akan sangat mudah terhirup masuk ke dalam tubuh Si Kecil. Inilah salah satu hal yang bisa menimbulkan reaksi alergi terutama bila Si Kecil cukup sensitif dan memiliki alergi terhadap tungau. Bukan hanya saat terhirup masuk ke dalam tubuh, namun tungau juga bisa menimbulkan reaksi alergi ketika menempel di kulit.

Selain karena antibodi yang bereaksi berlebihan terhadap tungau sehingga menimbulkan reaksi alergi, ada juga beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab Si Kecil mengalami alergi ini, antara lain:

  • Faktor Keturunan

Beberapa jenis alergi bisa menurun dari orangtua. Peluang memiliki alergi akan lebih tinggi bila Bunda dan suami atau beberapa anggota keluarga lainnya memiliki kondisi ini.

  • Sering Terpapar Tungau

Sering terpapar tungau terutama dalam jumlah banyak sedari dini membuat peluang Si Kecil menderita alergi tungau semakin tinggi

  • Usia

Pada usia kanak-kanak, Si Kecil akan lebih rentan mengalami alergi lantaran sistem imun yang belum sempurna dan masih cukup sensitif terhadap lingkungan sekitar.

Gejala Alergi Tungau Pada Anak

Walaupun sudah dijaga dan dibersihkan secara berkala, rumah yang bersih sekalipun tidak akan luput dari serangan tungau. Serangga ini umumnya hidup di kasur, bantal, karpet, serta perabot berlapis kain. Lingkungan seperti inilah yang mendukung pertumbuhan tungau debu. Hewan ini juga bertahan hidup dengan memakan sisa kulit mati dan ketombe yang menumpuk dan tentunya paling banyak ditemui di tempat tidur.

Gejala alergi tungau hampir mirip dengan gejala alergi debu pada umumnya. Sistem imun akan melepaskan berbagai sel dan zat kimia yang bisa menyebabkan peradangan pada bagian tubuh tertentu sebagai respon terhadap benda asing yang dianggap ancaman. Pada kasus ini, peradangan terjadi pada saluran hidung dan cenderung membuat Si Kecil mengalami hal-hal berikut ini:

  • Bersin bersin
  • Hidung mampet atau meler
  • Gatal pada hidung, langit-langit mulut, atau tenggorokan
  • Mata gatal, merah, atau berair
  • Batuk
  • Terdapat lendir di belakang kerongkongan
  • Nyeri pada wajah
  • Muncul bengkak berwarna kebiruan di bawah mata

Bila Si Kecil menderita asma, maka paparan tungau terhadap dirinya juga akan menimbulkan reaksi berupa:

  • Sesak nafas
  • Dada terasa sesak atau nyeri
  • Napas terdengar nyaring (mengi) terutama saat mengeluarkan udara
  • Susah tidur akibat sesak napas, batuk, atau mengi
  • Batuk atau mengi juga akan semakin parah ketika terserang pilek

Karena dapat menggigit kulit manusia, bekas gigitan tungau akan terlihat cukup jelas di permukaan kulit berupa bintil yang bisa mengeras atau meradang. Hal ini juga bisa membuat Si Kecil merasa gatal, mengalami iritasi, atau bahkan menyebabkan kulit kering. Biasanya bekas gigitan akan hilang dengan sendirinya.

Penyakit Kulit Akibat Alergi Tungau

Tungau terdiri dari banyak jenis. Penyakit serta reaksi alergi yang ditimbulkannya pun akan berbeda-beda. Penanganan yang diperlukan tentunya juga bervariasi. Berikut merupakan beberapa jenis tungau dan penyakit yang diakibatkan beserta dengan cara penanganan yang bisa Bunda terapkan

Sarcoptes Scabiei

Sarcoptes scabiei menggigit dan dapat masuk hingga ke bawah permukaan kulit hingga menimbulkan kudis atau scabies. Adapun ciri-ciri bila Si Kecil digigit tungau jenis ini adalah

  • Gatal, terutama di bagian lipatan kulit dan akan terasa semakin gatal pada malam hari
  • Muncul ruam atau lepuhan yang berisi cairan
  • Kulit kemerahan dan bersisik

Gigitan tungau scabies bisa menyebabkan rasa gatal yang parah sehingga membuat Si Kecil akan terus ingin menggaruk area yang bermasalah. Namun menggaruk hanya akan membuat kulit terluka dan bisa terinfeksi. Hal ini bisa juga memicu terjadinya impetigo atau infeksi kulit menular yang kerap diderita anak-anak ataupun bayi.

Bila rasa gatal semakin mengganggu dan tak kunjung hilang, salah satu cara yang bisa Bunda lakukan untuk mengobati gigitan tungau jenis ini adalah menggunakan obat oles yang memiliki kandungan anti tungau. Bunda bisa mendapatkan krim ini melalui resep dokter dan mengaplikasikannya kepada Si Kecil sesuai dengan anjuran dokter juga. Selain itu, Bunda juga bisa memberikan obat kepada Si Kecil. Namun pastikan Bunda sudah berkonsultasi dengan dokter dan hanya memberikan obat karena dokter yang menyarankannya.

Guna mencegah gigitan tungau kembali terjadi, Bunda cukup melakukan cara pencegahan yang dapat membunuh tungau scabies seperti mencuci pakaian, sprei, dan handuk menggunakan air panas secara rutin. Selanjutnya, jemur di bawah sinar matahari untuk memastikan seluruh tungau mati.


Tungau Debu

Tungau debu atau tungau rumahan sering ditemukan hidup dan berkembang biak di lingkungan hangat dan lembab seperti kasur, tempat tidur, karpet, tirai, dan sofa. Makhluk ini hidup dengan cara memakan serpihan kulit manusia dan hewan peliharaan. Tungau debu baik yang masih hidup atau sudah mati bisa menyebabkan reaksi alergi dan memicu kambuhnya gejala sesak napas pada penderita asma. Selain itu tungau jenis ini bisa saja menimbulkan gejala sesak napas, nyeri dada, dan nafas berbunyi atau mengi.

Gejala yang muncul akibat gigitan tungau debu umumnya dapat diatasi dengan obat yang disarankan oleh dokter anak. Bunda dapat membasmi tungau debu atau meminimalisasi keberadaanya agar seluruh anggota keluarga terutama Si Kecil tidak terekspos terhadap tungau dengan cara berikut:

  • Membersihkan debu atau perabot rumah tangga menggunakan lap basah dan pastikan Bunda selalu mengenakan masker saat membersihkannya
  • Melapisi atau membungkus alas tidur, bantal, dan guling dengan bahan yang dapat menahan debu
  • Mencuci sprei, sarung bantal, guling, serta selimut dengan air panas dan detergen setidaknya seminggu sekali
  • Mengganti seluruh pelapis alat tidur Si Kecil secara berkala agar tungau dan debu tidak menumpuk
  • Menggunakan air conditioner (AC) bila memungkinkan untuk mengurangi kelembaban udara supaya keberadaan populasi tungau di rumah bisa berkurang atau dihindari.

Demodex

Demodex adalah salah satu jenis tungau yang kerap ditemukan di folikel rambut, kulit, dan wajah. Gigitan tungau ini bisa menimbulkan iritasi, kemerahan, serta gatal, dan perih di kulit. Bila Si Kecil sering terkena gigitan tungau demodex, maka ia juga akan lebih berisiko mengalami eksim, terutama bila ia memiliki kulit sensitif.

Adapun beberapa metode pengobatan yang bisa Bunda coba untuk mengatasi gigitan tungau ini adalah:

  • Menggunakan obat oles bentuk krim atau losion, seperti larutan benzil benzoat, krim permethrin, salep belerang, atau obat krim lainnya yang memang sudah disarankan oleh dokter
  • Menggunakan sampo berbahan lembut. Misalnya saja sampo khusus bayi untuk mencuci rambut
  • Mengoleskan tea tree oil untuk membasmi sisa telur tungau di kulit dan rambut
  • Membersihkan wajah Si Kecil dengan air hangat ataupun pembersih wajah yang disarankan dokter
  • Menghindari penggunaan produk tubuh, wajah, atau rambut yang memiliki bahan dasar minyak

Tidak lupa, salah satu cara yang paling simpel adalah dengan menjaga kebersihan rumah, terutama tempat tidur. Pastikan untuk membersihkan lingkungan rumah terutama area di mana Si Kecil sering bermain secara berkala guna mengeliminasi kemungkinan bertumpuknya tungau.

Memastikan Si Kecil Alergi Tungau

Dalam beberapa kasus, beberapa jenis alergi memiliki gejala yang mirip sehingga Bunda mungkin bisa salah mengenali alergi tungau sebagai alergi makanan. Salah satu indikasi yang bisa Bunda lakukan adalah melihat tempat di mana alergi tersebut muncul. Jika Si Kecil sedang makan di luar rumah dan alergi kerap muncul, maka hampir dipastikan ini merupakan reaksi alergi makanan. Namun bila reaksi alergi hanya muncul ketika Si Kecil makan di dalam rumah, bisa jadi ia mengidap alergi tungau. Pasalnya tungau hidup di perabot rumah tangga dan dapat berkembang biak dalam suhu 2-25 derajat celcius. Tungau akan mati di suhu ekstrim ataupun saat terkena cahaya matahari.

Bunda bisa melakukan pengecekan secara gratis di Tes Alergi Morinaga Soya untuk mengetahui seberapa besar resiko Si Kecil terkena alergi sebelum Bunda melakukan langkah penanganan berikutnya.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu