Beranda Artikel 13-36 Bulan Kenali Gejala Diare Pada Anak Sebelum Bertambah Parah

Kenali Gejala Diare Pada Anak Sebelum Bertambah Parah

2022/01/26 - 02:56:16pm     oleh Morinaga Soya
Kenali Gejala Diare Pada Anak Sebelum Bertambah Parah

Diare merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar atau BAB. Konsistensi tinja pun cenderung menjadi lebih cair. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, setidaknya ada sekitar 525.000 anak balita yang meninggal setiap tahunnya akibat diare. Maka dari itu diare pada anak tidak boleh dianggap enteng oleh orang tua.

Dibandingkan orang dewasa, diare lebih rentan menyerang anak-anak di kisaran usia di bawah lima tahun (balita). Selama diare, tubuh kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. Hal ini disebabkan karena selama mengalami diare, saluran cerna menjadi sulit untuk menyerap cairan dan elektrolit. Akibatnya, anak yang mengalami diare berisiko tinggi mengalami dehidrasi. Jika tidak ditangani, dapat mengakibatkan munculnya komplikasi serius seperti penurunan kesadaran, kejang, kerusakan otak, hingga bahkan kematian.

Penting untuk diketahui bahwa bayi yang masih menerima ASI eksklusif dikatakan diare bila Si Kecil BAB sebanyak tiga hingga sepuluh kali dalam sehari. Sedangkan bayi yang sudah memulai program MPASI atau anak yang lebih besar lagi baru dikatakan diare jika BAB cair terjadi tiga kali atau lebih dalam sehari.

Kenali Penyebab Diare Pada Bayi

Infeksi Virus

Umumnya, diare menyebar melalui kontaminasi air dan makanan, tangan yang kotor, atau kotoran manusia yang tersentuh. Sebagian besar penyebab diare pada anak balita seringnya dikarenakan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, atau parasit.

Bakteri Salmonella atau Escherichia (E.Coli)

Bakteri ini sebenarnya hidup dalam usus manusia guna menjaga kesehatan sistem pencernaan. Walau umumnya tidak bersifat membahayakan, namun ada jenis E. Coli tertentu yang malah menghasilkan racun dan berbalik menyerang sistem pencernaan dan mengakibatkan diare.

Si Kecil bisa saja terpapar bakteri ini melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Tidak menutup kemungkinan juga terpapar akibat kontak dengan orang yang tidak mencuci tangan usai buang air besar atau BAB atau usai mencuci tangan. Paparan E.Coli akan menimbulkan gejala berupa sakit perut, diare, mual, dan muntah.

Virus Norovirus

Di seluruh dunia, virus ini kerap dianggap sebagai penyebab paling umum dari penyakit gastroenteritis akut yang menyebabkan diare dan muntah. Virus ini juga sering disebut sebagai keracunan makanan karena ditularkan melalui makanan yang telah terkontaminasi virus ini.

Proses kontaminasi bisa terjadi akibat mengkonsumsi makanan yang telah terpapar seperti makanan mentah atau yang belum matang sepenuhnya. Bisa juga akibat penyemprotan pestisida pada buah dan sayur yang tidak dicuci sebelum dikonsumsi atau karena menyentuh benda yang terkontaminasi virus ini dan menyentuh mata serta mulut.

Virus Rotavirus

Di samping norovirus, rotavirus juga menjadi virus yang menular sekaligus menyebabkan diare pada balita di seluruh dunia. Virus ini kerap kali menular akibat kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi, feses, ataupun melalui konsumsi makanan serta minuman, hingga mainan anak tak luput jadi media yang berpotensi menularkan virus ini. Infeksi akibat rotavirus umum dialami anak berusia 3 hingga 35 bulan dan berpotensi untuk menularkannya kepada orang dewasa.

Gejala awal akan ditandai dengan muntah, diare cair, selama 3 hingga 8 hari. Cara pengobatannya umumnya adalah dengan memberikan vaksinasi. Tapi jangan mengira bahwa Si Kecil akan imun setelah diberikan vaksin, pasalnya banyak sekali jenis rotavirus yang mungkin saja tetap akan menginfeksi Si Kecil, hanya saja dengan gejala lebih ringan.

Parasit Giardia Intestinalis

Parasit ini menyebabkan giardiasis yaitu gangguan pencernaan akibat infeksi parasit di usus halus. Giardiasis dapat menular melalui air atau makanan yang terkontaminasi parasit ataupun melalui kontak langsung dengan penderita.

Giardiasis sendiri sering ditemukan di wilayah padat penduduk dengan sanitasi buruk atau kualitas air tidak bersih. Umumnya, gejala giardiasis muncul 1-3 minggu setelah terinfeksi. Gejala bisa berupa diare dengan tinja berminyak, sering buang gas atau kentut, mual dan muntah, lemas, sakit perut. Gejala ini bisa berlangsung selama 2-6 minggu atau bahkan lebih lama. Oleh sebab itulah giardiasis memerlukan penanganan lanjut dari dokter.

Status Gizi Kurang Baik

Bila Si Kecil memiliki status gizi kurang yang kurang baik maka ia akan lebih mudah terkena diare berat, berkepanjangan dan berulang. Lapisan saluran cerna yang mengalami malnutrisi akan cenderung mudah terserang infeksi yang diakibatkan daya tahan tubuh kurang baik. Selain itu, ketika mengalami diare akan ada kemungkinan status gizinya mengalami penurunan. Menurut WHO, ada sekitar 129 juta anak balita di dunia memiliki berat badan kurang dibandingkan anak normal lain seusianya.

Jarang Cuci tangan

Kebiasaan mencuci tangan yang buruk baik pada Bunda atau pengasuh Si Kecil beresiko menyebabkan diare akut 2,45 kali lebih besar dibandingkan dengan Bunda atau pengasuh yang memiliki perilaku cuci tangan yang baik. Mencuci tangan secara reguler dengan menggunakan sabun terbukti dapat menurunkan resiko Si Kecil terserang diare sebanyak 47%. Inilah pentingnya mengajari Si Kecil sejak dini sebelum dan sesudah beraktivitas, sebelum dan sesudah makan, sesudah main, dan sesudah buang air.

Kurangnya Sarana Air Bersih

Kuman penyebab diare pada anak umum ditularkan melalui makanan, minuman, maupun benda yang tercemar oleh tinja yang sudah terkontaminasi. Contohnya saja, air yang terkontaminasi kuman dapat dikonsumsi secara umum untuk minum, cuci tangan, wadah makanan dan minuman dapat menyebabkan diare melalui aktivitas tersebut. Oleh karenanya, penting sekali untuk menjamin kebersihan air di lingkungan tempat tinggal Bunda. Minumlah air matang yang direbus hingga mendidih selama 1-3 menit, simpan air kontainer bersih dan tertutup, dan selalu ingat untuk membersihkan peralatan makan menggunakan air bersih.

Alergi Obat

Penggunaan obat, salah satunya antibiotik terhadap anak dapat menyebabkan gangguan pencernaan selama mengkonsumsinya. Tak heran bila Si Kecil akan mengalami diare selama mengkonsumsi obat tersebut.

Intoleransi Laktosa

Reaksi alergi terhadap susu sapi terjadi karena tubuh tidak mampu mencerna laktosa (gula dalam susu) dalam jumlah banyak. Faktor utama yang menyebabkan hal ini karena kurangnya enzim laktase di dalam tubuh yang bertugas untuk mencerna laktosa. Kondisi ini bisa menyebabkan diare berbusa, mual, serta muntah.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, di negara berkembang, 50-60% diare disebabkan oleh infeksi bakteri dan 35% disebabkan oleh virus. Sebenarnya cukup banyak rentetan resiko yang mempengaruhi mengapa anak terserang diare, diantaranya juga termasuk musim atau cuaca seperti kekeringan di mana air cukup sulit untuk dijangkau, higienitas, tidak mendapat ASI eksklusif atau penghentian pemberian ASI oleh Bunda secara dini. Kasus diare lebih sering terjadi pada Si Kecil yang berusia di bawah 6 bulan, penderita gizi buruk, serta penderita penyakit kronis seperti defisiensi imun.

Mengatasi Diare Pada Anak

Banyak sekali faktor yang tidak dapat dihindari yang dapat membuat anak terkena diare. Satu hal yang bisa Bunda lakukan ketika hal ini terjadi adalah dengan mengambil langkah sigap untuk mengatasi kondisi diare pada Si Kecil. Berikut hal-hal yang bisa Bunda lakukan:

Mencegah Dehidrasi pada Anak Diare

Selama terkena diare, Si Kecil akan memiliki frekuensi buang air lebih banyak dibandingkan biasanya. Salah satu yang penting untuk diperhatikan Bunda adalah untuk mengganti kehilangan cairan yang dialami selama diare agar terhindar dari dehidrasi. Dehidrasi merupakan kondisi yang perlu diwaspadai.

Pada bayi yang sedang diare, upayakan untuk menyusuinya lebih sering karena Si Kecil pasti membutuhkan cairan pengganti yang mengandung nutrisi penting agar ia terhindar dari dehidrasi. Bila biasanya Bunda menyusui setiap 2 jam sekali, ketika mengalami diare, ada baiknya berikan ASI kepada bayi setiap jam sesuai dengan kebutuhannya.

Sementara bagi anak-anak, penting untuk memberinya cairan rehidrasi oral seperti oralit. Oralit terdiri dari campuran air dengan gula dan garam yang berfungsi menggantikan gula, elektrolit, dan mineral penting lainnya yang hilang.

Antisipasi Malnutrisi

Walaupun mengalami diare, perlu diingat bahwa Si Kecil tetap membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Berikan makanan dalam porsi kecil, namun sering. Bunda juga tetap perlu berhati-hati dan meneliti lebih dalam memberi makanan ataupun minuman pasalnya ada beberapa makanan yang malah membuat diare pada anak berlangsung lebih lama.

Misalnya saja susu, bagi anak yang mengalami intoleransi laktosa, maka mengkonsumsi susu akan memperparah kondisi diare. Alternatif makanan yang dapat Bunda gunakan adalah makanan yang dapat dicerna dengan mudah oleh tubuh anak, antara lain nasi putih, pisang, serta berbagai rebusan daging, ayam, atau ikan. Hindari memberikan makanan dengan kandungan lemak, gula berlebih, makanan pedas, berserat tidak larut (tomat, seledri, timun, bayam, brokoli,kacang, wortel, dan gandum utuh)

Konsultasi Dokter

Bila gejala diare pada anak terlihat mengkhawatirkan atau tidak terlihat membaik dalam kurun waktu 3 hari, maka sudah saatnya Bunda membawanya untuk diperiksakan lebih lanjut ke dokter. Terlebih bila Si Kecil juga menunjukan gejala demam, muntah, lemas, dan tampak pucat. Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut juga ke dokter sebelum memutuskan untuk memberikan Si Kecil obat anti diare.

Demikian hal-hal yang bisa Bunda lakukan ketika untuk mencegah Si Kecil supaya tidak terkena diare. Segera lakukan tindakan preventif yang disebutkan di atas bila Si Kecil mulai menunjukan tanda-tanda terkena diare.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu