Beranda Artikel 37-72 Bulan ISPA pada Anak, Ketahui Gejala dan Cara Penanganannya

ISPA pada Anak, Ketahui Gejala dan Cara Penanganannya

2022/01/28 - 05:39:25pm     oleh Morinaga Soya
ISPA pada Anak, Ketahui Gejala dan Cara Penanganannya

ISPA atau singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. ISPA pada anak bisa membuat Si Kecil menjadi cenderung lesu, rewel, dan kurang mau makan. Penyakit ini sendiri terjadi karena virus ataupun bakteri. ISPA akan menimbulkan peradangan pada saluran pernapasan, mulai dari hidung, hingga paru-paru. ISPA sendiri merupakan penyakit menular sehingga membutuhkan penanganan tepat ketika Si Kecil mengidap penyakit ini supaya tidak menularkan ke orang lain.

Penyebab ISPA pada Anak

Mengutip dari buku panduan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terbitan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, ISPA umumnya menular lewat droplet atau cairan air liur karena berada terlalu dekat dengan penderita ISPA. secara umum, penyakit ini disebabkan oleh virus dan bakteri. Jenis virus yang menyebabkan penyakit ini pada anak adalah

  • Rhinovirus
  • Adenovirus
  • Virus coxsackie
  • Human metapneumovirus
  • parainfluenza

Sementara, jenis-jenis bakteri yang menyebabkan ISPA pada anak adalah

  • Corynebacterium diphtheria (diphtheria)
  • Neisseria gonorrhoeae (gonore)
  • Chlamydia pneumoniae (klamidia)
  • Kelompok C beta-hemolytic streptococci

Adapun beberapa hal yang membuat Si Kecil dapat terkontaminasi atau terpapar virus serta bakteri ini karena beberapa hal antara lain:

  • Si Kecil melakukan kontak dengan penderita ISPA atau berada di dekat penderita sehingga memungkinkannya menghirup droplet dari penderita. Infeksi akan mudah tertular ketika droplet atau cairan masuk ke sistem tubuh melalui hidung dan mata
  • Penderita ISPA bersin dan batuk tanda menutup mulut dan hidung
  • Anak berada di ruangan tertutup dan penuh sesak dengan orang yang terinfeksi
  • Kekebalan tubuh Si Kecil sedang lemah
  • Penularan penyakit infeksi pernapasan ini juga lebih sering terjadi saat musim hujan. Pasalnyam virus dan bakteri lebih mudah berkembang biak saat udara di sekitarnya lembab

Gejala ISPA

ISPA terjadi karena adanya infeksi pada saluran pernapasan. Penyakit ISPA pada anak umumnya sering menyerang saluran pernapasan atas (upper respiratory tract infections) saluran ini meliputi hidung, rongga hidung dan sinus, tenggorokan, (faring) dan kotak pita suara (laring). Biasanya gejala yang dialami akan berbeda pada anak, tergantung organ yang terinfeksi. Namun, gejala yang paling umum ditemui adalah:

  • Hidung tersumbat baik di sinus hidung maupun paru-paru
  • Pilek
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Pegal-pegal
  • Kelelahan

Tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan akut biasanya akan menetap selama 1-2 minggu. Selama mengalami gejala, usahakan agar Si Kecil tetap berada di rumah selama masa pemulihan agar dapat beristirahat dengan nyaman. Karena merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai, maka Bunda disarankan untuk segera membawa anak ke dokter bila menemukan gejala berikut pada Si Kecil:

  • Demam tinggi lebih dari 39 derajat celcius
  • Sulit bernapas
  • Napas berbunyi
  • Gangguan pencernaan seperti muntah, mual, dan diare
  • Pusing
  • Hilang kesadaran

Macam-macam ISPA pada Anak

Ada beberapa macam organ di saluran napas yang tentunya akan menimbulkan gejala serta reaksi yang berbeda ketika mulai terinfeksi virus atau bakteri. Beberapa jenis penyakit infeksi saluran pernafasan yang akan umum Bunda temui pada Si Kecil adalah

  • Selesma Atau Common Cold

Salah satu masalah kesehatan paling sering dialami oleh Si Kecil adalah selesma, yang dikenal dengan sebutan common cold atau rinitis virus. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dilaporkan bahwa kebanyakan anak akan mengalami 6 hingga 8 kali pilek per tahunnya. Menurut informasi dari St. Louis Children’s Hospital, 6-8 kali pilek selama setahun merupakan hal yang normal. Frekuensi ini juga akan makin berkurang seiring dengan bertambahnya usia Si Kecil.

Gejala selesma sendiri umumnya akan muncul dalam jangka waktu 1-3 hari setelah terpapar virus. Seringnya, gejala akan meliputi bersin, demam ringan, keluar ingus, tenggorokan gatal, hidung tersumbat, sakit kepala, nafsu makan berkurang, dan mudah lelah.

Istirahat yang cukup, berikan cukup cairan, dan makan secara teratur bisa membantu Si Kecil merasa lebih baik dengan cepat. Hindari memberikan Si Kecil obat flu yang dijual bebas di pasaran, terutama jika anak masih berusia di bawah dua tahun. Selalu periksakan ke dokter bila keadaan tidak kunjung membaik, dan hanya gunakan obat yang dianjurkan oleh dokter sesuai dengan dosis yang ditentukan.

  • Sinusitis

Atau disebut juga infeksi sinus merupakan peradangan atau pembengkakan jaringan yang melapisi sinus. Cairan dapat menumpuk di kantung yang biasanya berisi udara di belakang hidung dan mata dan menyebabkan infeksi. Kondisi sinusitis juga sering disertai dengan batuk, pilek, ataupun flu yang mungkin dipicu oleh alergi.

Hal ini dikonfirmasi oleh Columbia University Department of Otolaryngology, Head, and Neck Surgery yang menyatakan bahwa infeksi pada sinus biasanya terjadi karena anak mengalami selesma ataupun dipicu oleh reaksi alergi. Tak hanya virus, namun sinusitis juga bisa terjadi karena struktur hidung yang abnormal, infeksi gigi, cedera hidung, GERD (gastroesophageal reflux disease) atau asam lambung, dan juga karena ada objek yang masuk ke dalam hidung.

Bila terkena infeksi ini, biasanya Si Kecil akan mengalami gejala seperti hidung tersumbat, ingus kental dan berwarna, tetesan lendir di bagian belakang tenggorokan, sakit kepala, batuk, demam, juga rasa sakit di sekitar area sinus. Sinusitis juga bisa membuat Si Kecil mengalami hal ini

  • Rasa sakit dan seperti ada tekanan di bagian wajah, terutama di belakang mata dan hidung
  • Merasa sesak
  • Batuk dan pilek
  • Tetesan post-nasal yang dapat menyebabkan sakit tenggorokan, bau mulut, mual, hingga muntah

Dibandingkan dengan orang dewasa, sinus pada anak-anak bisa bertahan lebih lama. Bila memang diperlukan segera konsultasikan ke dokter, terutama bila Si Kecil merasa sangat tidak nyaman dan gejala berlangsung cukup lama. Jika ada infeksi bakteri, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik atau menyarankan pembedahan bila Si Kecil mengalami sinusitis persisten untuk membersihkan area yang tersumbat.

  • Faringitis atau Radang Tenggorokan

Faringitis atau radang tenggorokan biasanya terjadi bersamaan dengan tipe infeksi saluran pernapasan akut lain pada Si Kecil, misalnya selesma. Menurut jurnal Acute Respiratory Infection in Childrens, dalam kasus faringitis yang dilaporkan, 70% nya disebabkan oleh virus. Kemerahan ringan dan pembengkakan serta pembesaran tonsil adalah gejalanya.

Faringitis akut hampir selalu disebabkan oleh corynebacterium diphteriae di negara berkembang seperti Indonesia. Namun dengan adanya vaksinasi DTP (difteri-tetanus-pertussis), difteri jarang terjadi. Meski demikian, segera bawa Si Kecil ke dokter bila radang tenggorokan yang dialaminya membuat Si Kecil sulit bernapas dan menelan, leher terasa kaku atau tampak tengkak, serta kesulitan membuka mulut.

  • Otitis Media atau Infeksi Telinga Tengah

Pasti Bunda berpikir bahwa telinga rasanya tidak identik dengan saluran pernapasan, bukan? Namun menurut studi yang dirilis oleh National Institute of Health, telinga bagian tengah masih termasuk dalam saluran pernapasan atas. Otitis media juga terjadi akibat virus atau bakteri yang masuk ke dalam bagian tengah telinga sehingga nanah menumpuk di dalam dan menekan gendang telinga yang tentunya akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman.

Selain rasa nyeri di telinga, tipe infeksi ini juga ditandai dengan demam, sakit saat mengunyah dan menelan, telinga terasa sakit saat berbaring, dan terkadang ada sensasi suara berdenging di telinga. Bila tak tertahankan, jangan ragu untuk membawa Si Kecil ke dokter untuk diperiksakan.

Mencegah ISPA pada Anak

Memang bukan perkara mudah untuk selalu dapat membuat Si Kecil terbebas dari penyakit. Tapi ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk membantu Si Kecil agar meminimalisasi kemungkinan ia terjangkit dari penyakit yang mengintai. Hal simpel yang bisa Bunda lakukan untuk mencegah terjadinya ISPA pada anak adalah dengan langkah berikut

  • Hindari kontak langsung dengan orang yang sakit
  • Ingatkan dan tanamkan kebiasaan untuk selalu mencuci tangan secara rutin pada Si Kecil, terutama setelah beraktivitas di luar rumah, menyentuh benda kotor, sehabis buang air kecil ataupun besar, dan sebelum makan
  • Ajari Si Kecil untuk selalu menutup mulut atau hidung ketika batuk dan bersin
  • Hindari berbagi mainan, peralatan makan, atau handuk dengan orang yang sedang memiliki gejala sakit
  • Rutin membersihkan rumah dan benda-benda di kamar tidur Si Kecil, seperti sprei, selimut, sarung bantal dan guling, serta mainan Si Kecil
  • Lengkapi imunisasi Si Kecil

Penanganan ISPA pada Anak

ISPA pada Si Kecil akan membaik dengan sendirinya apabila ditangani dengan baik, namun tentu penyakit ini akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman dan kerap rewel. Hal ini pasti membuatnya sulit beristirahat. Untuk membantu proses pemulihan serta membuat Si Kecil dapat beristirahat dengan baik untuk proses penyembuhan saat berada di rumah, Bunda bisa membantunya dengan melakukan langkah perawatan berikut ini:

  • Berikan Anak Cukup Makan dan Minum

Saat terjangkit ISPA, Si Kecil pasti kehilangan nafsu makan dan minum. Jangan dibiarkan berlarut ya Bunda, karena Si Kecil malah bisa mengalami dehidrasi. Cobalah untuk memberikan Si Kecil air putih secara berkala agar ia tetap terhidrasi. Air putih sendiri juga bisa membantu mengencerkan dahak sehingga saluran pernapasannya terasa lebih lega.

Jika tidak mau minum air putih, coba siasati dengan air lemon dan teh hangat yang dicampur madu. Namun, pemberian madu tidak boleh diberikan pada anak berusia di bawah 1 tahun ya Bunda karena bisa berpotensi menimbulkan keracunan botulisme.

Saat tengah sakit, Si Kecil juga membutuhkan energi dan asupan nutrisi serta gizi yang cukup untuk menjaga imunnya. Jadi, pastikan ia makan secara teratur. Bila sulit bagi Si Kecil untuk menghabiskan makanannya, coba berikan ia porsi lebih sedikit namun sering. Bila perlu, lengkapi kebutuhan gizinya dengan suplemen atau vitamin anjuran dokter.

Atau, Bunda bisa melengkapinya dengan memberikan susu formula. Misalnya saja Morinaga Chil Kid Soya MoriCare Triple Bifidus. Kandungan nukleotida, prebiotik FOS, serta probiotik Triple Bifidusnya bisa membantu Bunda menjaga sistem daya tahan tubuh Si Kecil sekaligus membantu mengurangi gejala alergi pada Si Kecil. Formulasi AA, DHA, omega 3 dan 6, serta zat besi di dalamnya disinyalir dapat mendukung kecerdasan Si Kecil. Tak kalah penting, adanya protein, kalsium, 14 vitamin, serta 9 mineral di dalamnya sangat bermanfaat untuk menunjang tumbuh kembang Si Kecil.

  • Istirahat Cukup

Salah satu obat paling mujarab untuk Si Kecil yang sedang sakit adalah beristirahat dengan cukup. Setidaknya pastikan ia tidur selama 9-10 jam setiap malam. Ciptakan suasana yang bisa membuat Si Kecil menjadi nyaman sebelum waktunya beristirahat. Bunda bisa membacakan buku cerita ataupun memeluk Si Kecil hingga tertidur.

Pastikan kamar Si Kecil juga selalu dibersihkan secara berkala, bebas debu dan kotoran. Bunda juga bisa menggunakan pelembab ruangan (humidifier) untuk menjaga kebersihan udara sehingga ia bisa beraktivitas dan tidur dengan nyenyak.

  • Berkumur Air Garam

Saat terkena ISPA, Si Kecil mungkin akan mengalami batuk dan sakit tenggorokan. Keluhan ini bisa diatasi dengan berkumur menggunakan air garam hangat. Cukup campurkan segelas air hangat dengan 2 sendok teh garam dan larutkan. Walau bisa meredakan batuk dan rasa tidak nyaman di tenggorokan, namun cara ini hanya boleh dilakukan bila Si kecil berusia di atas 8 tahun, dan sudah dikonsultasikan dengan dokter.

Umumnya, gejala akan sembuh dengan sendirinya secara perlahan bila imun Si Kecil kuat. Namun, bila gejala berlangsung berhari-hari tanpa ada tanda membaik dan malah semakin parah, Bunda disarankan untuk langsung membawanya ke dokter untuk penanganan yang lebih tepat.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu