Beranda Artikel 13-36 Bulan 8 Jenis Batuk Pada Bayi Dan Cara Mengatasinya. Apa Saja?

8 Jenis Batuk Pada Bayi Dan Cara Mengatasinya. Apa Saja?

2021/08/20 - 10:50:54am     oleh Morinaga Soya
8 Jenis Batuk Pada Bayi Dan Cara Mengatasinya. Apa Saja?

Batuk sebenarnya adalah salah satu upaya tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang ada dalam saluran pernapasan. Batuk merupakan salah satu gejala peradangan yang terjadi pada saluran napas. Tapi sayangnya, berbeda dengan kasus batuk pada orang dewasa, Si Kecil belum bisa mengambil keputusan sendiri untuk minum mengkonsumsi obat untuk meredakan gejala batuk dengan cepat. Bahkan, Bunda sangat mungkin tidak disarankan untuk memberikannya obat karena memiliki efek samping yang mungkin berbahaya. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk mengatasi batuk pada bayi.

Jenis batuk pada bayi

Sebelum mengetahui lebih lanjut cara mengatasi batuk pada bayi, Bunda perlu mengetahui beberapa jenis batuk yang mungkin saja dialami Si Kecil untuk dapat menentukan penanganan yang terbaik baginya.

Ketika mengalami kondisi batuk, Si Kecil pasti merasa tidak nyaman, cenderung menjadi lebih rewel, tidak memiliki nafsu makan dan sulit tidur. Selain itu ada juga gejala lain yang akan menyertai ketika Si Kecil terserang batuk seperti hidung tersumbat, mata merah dan demam. Berikut beberapa jenis batuk yang dialami oleh bayi:

  • Batuk Gejala Pilek Atau Flu Pada Bayi

Hidung beringus diikuti dengan sakit tenggorokan dapat menjadi indikasi bahwa Si Kecil akan terserang flu, pilek, atau bisa saja batuk. Batuk sendiri secara umum terbagi dua yakni

Batuk Berdahak

Merupakan jenis batuk yang disertai dengan keluarnya dahak. Pada bayi, penyebab utama batuk berdahak umumnya adalah infeksi virus dan bakteri yang terjadi di saluran pernapasan. Infeksi ini menyebabkan saluran pernapasan memproduksi lendir berlebih sehingga menghambat udara mengalir di saluran pernapasan. Kelebihan dahak ini juga merangsang terjadinya batuk. Saat terkena pilek atau flu, bayi juga akan lebih rentan mengalami batuk berdahak.

Batuk Kering

Lain halnya dengan batuk kering, batuk jenis ini tidak disertai dengan keluarnya dahak dan seringkali dipicu oleh alergi dan virus pilek atau flu. Kondisi ini menyebabkan terjadinya post-nasal drip, dimana hidung menghasilkan lendir berlebih yang jatuh ke bagian tenggorokan sehingga merangsang terjadinya batuk kering.

  • Batuk Croup

Batuk croup adalah infeksi pernapasan yang terjadi ketika laring (kotak suara), batang tenggorokan dan bronkus, yaitu saluran udara ke paru-paru mengalami iritasi dan membengkak. Pembengkakan pada saluran pernapasan dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan sehingga bayi sulit untuk bernapas dan akan mengeluarkan batuk seperti gonggongan. Gejalanya biasanya meliputi demam, panas, adanya ingus dalam hidung. Bahkan pada kondisi tertentu, ketika semakin parah, batuk ini bisa menyebabkan Si Kecil sesak napas yang menyebabkan kulitnya lama kelamaan memucat atau membiru akibat kekurangan oksigen. Batuk ini bisa menyerang bayi umur 3 bulan, tapi rata-rata dapat menyerang anak usia 5 sampai 15 tahun.

  • Batuk Rejan

Bayi merupakan golongan usia yang rentan terkena batuk rejan (pertusis) atau lebih populer dengan sebutan batuk 100 hari. Selain batuk berkepanjangan, batuk ini juga ditandai dengan tarikan nafas yang mengeluarkan suara bernada tinggi. Batuk ini disebabkan oleh bakteri bordetella pertussis yang menginfeksi saluran pernafasan. Gejala akan berupa panas, demam, adanya ingus di dalam hidung. Bakteri ini biasa menjangkit bayi berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Saat mengalaminya, Bunda harus berhati-hati karena berpotensi untuk menyebabkan komplikasi yang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti paru-paru basah pneumonia, epilepsi, atau bahkan pendarahan pada otak. Pastikan untuk segera memeriksakan Si Kecil ke dokter bila mengalami batuk rejan.

  • Batuk Gejala Bronkitis

Polusi dan iritan yang berasal dari lingkungan sekitar bisa mengakibatkan terjadinya infeksi di saluran pernapasan yang biasa kita sebut bronkitis. Bronkitis umumnya menyerang bayi yang berusia sekitar satu tahun. Gejala yang muncul ditandai dengan adanya ingus di dalam hidung, batuk kering, infeksi telinga, batuk croup, dan pneumonia. Selain polutan dan iritan, batuk pada bayi ini bisa dipicu oleh cuaca dingin yang disebabkan saluran udara kecil ke paru-paru terinfeksi dan berlendir.

  • Batuk Gejala Pneumonia

Pneumonia adalah peradangan paru-paru yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun bisa juga disebabkan oleh virus. Kondisi ini bisa membuat paru-paru memproduksi dahak atau lendir berlebih sehingga terjadi penumpukan dahak di area paru-paru. Oleh sebab itulah pneumonia juga dikenal dengan sebutan paru-paru basah. Penyakit ini bisa memicu gejala batuk pada bayi yang umumnya disertai dengan dahak yang cukup pekat dan memperlihatkan warna hijau kekuningan. Dalam kasus yang parah, batuk pada bayi bisa disertai dengan darah sehingga memerlukan tindakan medis sesegera mungkin.

  • Batuk Akibat Asma

Batuk ini biasanya dialami bayi yang mengidap penyakit asma. Asma sendiri terjadi karena adanya penyempitan saluran udara akibat peradangan. Faktor yang memicu batuk ini biasanya sama dengan faktor yang memicu kambuhnya asma. Gejalanya meliputi kesulitan bernapas, hidung gatal dan tersumbat, dan mata berair.

Cara Mengatasi Batuk Pada Bayi

Batuk yang diakibatkan oleh infeksi virus sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menggunakan obat-obatan. Tapi seringkali, ketika terserang batuk pilek, Si kecil cenderung lebih rewel dan sulit tidur. Untuk mengantisipasinya ada beberapa cara mengatasi batuk pilek pada bayi yang bisa Bunda praktikan

Memberi Lebih Banyak ASI

Cara cukup sederhana yang dapat Bunda lakukan adalah dengan memberikan ASI lebih banyak. Bayi berusia di bawah 6 bulan umumnya masih diberi ASI eksklusif. ASI mengandung zat yang dapat membantu membentuk kekebalan tubuh untuk perlindungan ekstra terhadap infeksi, virus, atau bakteri penyebab batuk.

Selain itu, ASI membantu melegakan tenggorokan, mengencerkan dahak, menenangkan kerewelan Si Kecil, dan juga memastikan bahwa Si Kecil tidak akan kekurangan cairan. Bila tidak dapat memberikan ASI, maka berikan susu formula yang mengandung bakteri baik untuk saluran cerna Si Kecil sebagai alternatif pengganti dan pastikan atas petunjuk dokter jika Si Kecil masih berusia di bawah 1 tahun.

Meneteskan Cairan Saline

Cairan saline sering digunakan sebagai obat tetes hidung yang terbuat dari larutan air garam steril yang bisa didapat di apotek. Cairan ini bisa digunakan untuk mengeluarkan lendir di hidung atau tenggorokan bayi. Bunda hanya perlu meneteskan larutan saline sekitar 2-3 tetes ke rongga hidung Si Kecil menggunakan pipet, lalu bersihkan hidung bayi dengan lembut. Pastikan untuk menggunakan cairan saline ini setelah mendapat petunjuk dan persetujuan dari dokter ya, Bunda.

Menggunakan Pelembab Udara

Menggunakan alat yang membantu melembabkan udara atau humidifier merupakan langkah yang dapat Bunda lakukan untuk menghilangkan batuk pada bayi. Menambah kadar kelembaban udara dapat membantu mengendurkan lendir sehingga membuat batuk reda dan hidung tidak lagi tersumbat. Selain menggunakan humidifier, Bunda juga bisa memandikan Si Kecil dengan air hangat. Uap dari air hangat dapat terhirup sehingga membantu mengencerkan dahak dan membuatnya bisa bernapas lega. Pastikan suhu airnya tidak terlalu panas bagi Si Kecil ya Bunda.

Mengoleskan Minyak Esensial

Minyak esensial seperti halnya minyak eucalyptus dipercaya sejak lama dapat mengatasi batuk pilek pada bayi serta nyeri meredakan otot ketika dioleskan langsung ke kulit atau disebarkan melalui udara lewat humidifier misalnya. Bunda dapat memijatnya pada kaki, dada, punggung, atau telapak tangan bayi. Tapi pastikan untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu ya Bunda karena ternyata tidak semua minyak esensial aman digunakan oleh bayi.

Memberi Madu

Bila Si Kecil telah menginjak usia 1 tahun, maka Bunda bisa memberikannya madu untuk mengatasi batuk. Madu memiliki sifat antibakteri yang mampu melawan infeksi dan cocok digunakan untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan. Cukup berikan satu sendok teh madu untuk bayi atau bisa diberikan dengan cara dicampurkan ke dalam air hangat untuk menenangkan batuk Si kecil. Namun apabila bayi berusia di bawah satu tahun, jangan diberikan madu dulu ya Bunda. Cukup berikan air putih hangat atau ASI.

Istirahat

Batuk cenderung membuat Si Kecil tidak memiliki nafsu makan yang akan membuatnya gelisah serta sulit tidur, terlebih batuk akan membuat Si Kecil merasa tidak nyaman. Salah satu obat terbaik untuk batuk pilek adalah memberikan waktu istirahat yang cukup. Coba menidurkan bayi ketika waktunya beristirahat. Bila tertidur di gendongan, pastikan Si Kecil tertidur lelap sebelum membaringkannya.

Posisi Tubuh Si Kecil

Bila Si Kecil terserang batuk berdahak atau karena asam lambung, berbaring malah bisa memperburuk keadaan. Jika ia batuk di siang hari, biarkan Si Kecil menghabiskan lebih banyak waktu berdiri dengan menempatkannya di kursi goyang, kursi tinggi, atau bersama di gendongan bayi. Bila Si Kecil batuk di malam hari, coba meletakan bantal atau sprei yang dilipat di bawah bagian kepala bayi akan dibaringkan. Posisi kepala lebih tinggi ini akan membantunya bernapas lebih mudah.

Jika usai melakukan langkah di atas Si kecil masih menunjukan tanda seperti batuk selama 10-14 hari, demam selama 3 hari, batuk darah, batuk berlendir dengan warna kekuningan atau kehijauan, maka merupakan salah satu pertanda gejala batuknya menjadi lebih parah dan Bunda harus memeriksakannya ke dokter. Hal ini bisa jadi pertanda ada hal lain yang lebih serius pada Si Kecil dan butuh penanganan medis sesegera mungkin.

Bila Bunda merasa batuk yang dialami Si Kecil memiliki kaitan dengan gejala reaksi alergi, Bunda bisa memastikannya di https://www.cekalergi.com/id/test-alergi untuk memeriksa seberapa besar resiko alergi yang dimiliki oleh Si Kecil dengan gejala yang terdeteksi. Ketika sudah mengetahui seberapa besar kemungkinan resiko alergi, akan lebih mudah bagi Bunda untuk menentukan penanganan lanjutan bagi Si Kecil.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu