Beranda Artikel 0-12 Bulan Penyakit Asfiksia Neonatorum: Penyebab, Ciri-ciri, dan Penangannya

Penyakit Asfiksia Neonatorum: Penyebab, Ciri-ciri, dan Penangannya

2022/01/26 - 10:59:51am     oleh Morinaga Soya
Penyakit Asfiksia Neonatorum: Penyebab, Ciri-ciri, dan Penangannya

Istilah asfiksia mungkin masih asing di telinga kebanyakan Bunda, Asfiksia sendiri cukup berkaitan erat dengan gangguan pada bayi, khususnya pada bayi yang baru lahir. Bila bayi tidak menangis, warna kulitnya kebiruan dan sulit bernafas setelah dilahirkan, maka kemungkinan besar Si Kecil mengalami apa yang disebut dengan asfiksia neonatorum. Ini adalah kondisi dimana bayi tidak mendapatkan cukup oksigen selama proses persalinan hingga persalinan usai.

Asfiksia sendiri bisa menyebabkan gangguan cukup serius yang akan mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil hingga dewasa nanti. Terutama karena pasokan oksigen cukup krusial dan sangat dibutuhkan untuk kinerja sel-sel tubuh bayi, jika kurang terpenuhi, maka jelas akan berdampak cukup fatal. Hal ini membuat asfiksia menjadi salah satu kondisi yang tidak boleh diremehkan oleh Bunda. Simak lebih lanjut apa saja penyebab, pengaruh, dan penanganan yang dapat dilakukan bila hal ini terjadi.

Pengertian Penyakit Asfiksia

Penyebab asfiksia menurut Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah kondisi dimana pengangkutan oksigen ke dalam jaringan tubuh mengalami masalah yang diakibatkan adanya gangguan pada fungsi pembuluh darah, paru-paru, atau jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang tidak mendapatkan cukup pasokan oksigen ketika kondisi ini terjadi umumnya adalah otak.

WHO juga mengestimasi ada sekitar 90.000 bayi yang meninggal setiap tahunnya akibat asfiksia dan sebagian besar kasus asfiksia tercatat terjadi di negara berkembang. Sementara di Indonesia sendiri, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyebab kematian neonatus 0-6 hari yang diakibatkan oleh asfiksia memiliki persentase sebanyak 37 persen.

Tidak semua bayi berisiko tinggi mengalami asfiksia neonatorum, kondisi ini umumnya ditemukan pada bayi yang lahir prematur ataupun bayi yang lahir dari Bunda yang memiliki komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional dan preeklampsia, serta bayi dengan berat badan rendah cenderung beresiko tinggi mengalami asfiksia. Beberapa penyebab yang memicu asfiksia pada bayi antara lain adalah:

1. Penyakit membran hialin

Penyakit membran hialin adalah penyakit paru-paru pada bayi baru lahir yang terjadi akibat belum matangnya paru-paru bayi. Pada saat masih dalam kandungan, paru-paru bayi mengempis dan tidak dapat menerima cukup oksigen. Lalu pada usia kehamilan 34-35 minggu, paru baru akan menjadi lebih matang sehingga bisa mengembang dan menerima cukup pasokan oksigen. Namun, bila bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 34-35 minggu akan ada kemungkinan paru-parunya belum matang sehingga kemungkinan besar akan lahir dengan penyakit membran hialin

2. Sindrom aspirasi mekonium

Sindrom aspirasi mekonium merupakan sesak napas pada bayi yang terjadi akibat feses bayi baru lahir (mekonium) terhisap ke dalam saluran pernapasan sehingga masuk ke area paru-paru. Dalam kondisi normal, mekonium baru dapat dikeluarkan dari dalam tubuh Si Kecil dalam jangka waktu 24 jam setelah kelahiran. Keadaan ini sering terjadi bila bayi mengalami gawat janin, yaitu kondisi kehamilan yang menyebabkan kesehatan janin terganggu, misalnya karena lilitan tali pusar atau infeksi di dalam rahim.

3. Transient tachypnea of newborn (TTN)

Transient tachypnea of newborn adalah sesak napas yang terjadi pada bayi baru lahir akibat paru paru masih terisi air ketuban. Dalam kondisi normal, ketika dalam kandungan, bayi akan terendam oleh cairan amnion (air ketuban). Saat proses persalinan normal, karena melewati jalan lahir yang sempit, maka paru bayi akan terasa diperas hingga cairan amnion keluar dari paru. Situasi ini tidak terjadi pada bayi yang lahir melalui persalinan sesar.

4. Pneumonia

Pneumonia atau infeksi di paru pada Si Kecil yang baru lahir tidak memungkinkannya untuk dapat mengambil oksigen dan terhambat membuang karbondioksida. Hal ini biasanya diakibatkan oleh infeksi di dalam rahim ketika bayi masih berada dalam kandungan

Beberapa hal lain yang mendorong timbulnya asfiksia juga antara lain kondisi Bunda yang tidak mendapat cukup oksigen dan mengalami tekanan darah tinggi atau rendah selama proses persalinan. Kondisi bayi dengan jalan napas terhalang dan menderita anemia juga bisa berkontribusi memicu kondisi ini. Selain itu, kondisi plasenta yang terpisah dari rahim terlalu cepat juga bisa memberi andil.

Ciri-Ciri Penyakit Asfiksia

Gejala asfiksia dapat terlihat dan dirasakan baik langsung maupun tidak langsung usai persalinan. Denyut jantung bayi yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah bisa menjadi acuan untuk memastikan apakah Si Kecil mengalami asfiksia atau kekurangan oksigen setelah lahir. Beberapa hal juga yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Kulit bayi dan bibir tampak pucat atau kebiruan

  2. Kondisi terlihat sulit bernapas yang ditandai dengan napas cuping hidung atau pernapasan perut

  3. Otot-otot di dada nampak berkontraksi untuk membantu pernapasan

  4. Denyut jantung terlalu cepat atau terlalu lambat

  5. Bayi tampak lunglai, anggota tubuhnya kaku dan lemas

  6. Respon yang buruk terhadap stimulasi

  7. Bayi terdengar merintih

Ada atau tidaknya asfiksia neonatorum ini akan langsung diketahui oleh dokter sesaat setelah bayi lahir dengan menghitung skor APGAR atau singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration (warna kulit, denyut jantung, response reflex, tonus otot/keaktifan, dan pernapasan). Skor APGAR atau nilai APGAR adalah sebuah metode pengecekan dokter yang diperkenalkan oleh Dr. Virginia Apgar pada tahun 1952. Penjelasan dari masing masing poin adalah sebagai berikut:

  1. Appearance, apakah bayi tampak biru atau tidak.

  2. Pulse, untuk menilai denyut jantung bayi.

  3. Grimace, menilai respon bayi bila diberikan rangsangan.

  4. Activity, guna melihat kontraksi otot bayi.

  5. Respiration, mengecek bunyi napas bayi apakah terdengar atau tidak.

Masing-masing komponen penilaian tersebut akan diberi skor 0,1, atau 2. Makin baik kondisi bayi, skor APGAR akan semakin tinggi. Bila lahir dalam keadaan normal tanpa gejala asfiksia, skor APGAR akan berada di angka 10 atau dalam keadaan normal, skor APGAR di angka 7-9 menandakan bahwa Si Kecil terlahir normal atau memiliki sedikit gejala asfiksia. Sementara bayi yang memiliki asfiksia rendah skor APGAR nya adalah 4-6, dan bila memiliki gejala asfiksia berat skor APGAR adalah 0-3.

Tidak hanya melalui skor APGAR, foto rontgen dada juga akan dilakukan untuk mengetahui lebih detail apakah Si Kecil mengalami asfiksia dan apa penyebabnya serta pemicunya.

Cara Penanganan Penyakit Asfiksia

Jika asfiksia sudah terdeteksi semenjak Si Kecil berada dalam kandungan, maka dokter akan menyarankan persalinan segera dengan prosedur operasi sesar agar nyawa bayi dapat segera tertolong. Bila lahir dengan kondisi ini, bayi yang baru lahir kemungkinan akan memiliki skor APGAR di bawah 3.

Setelah lahir, penanganan asfiksia pada bayi baru lahir akan disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Bila sudah terdeteksi sebelum persalinan, maka Bunda akan diberikan tambahan oksigen guna meningkatkan kadar oksigen pada bayi. Bila terdeteksi usai proses melahirkan, maka akan diberikan bantuan sampai Si Kecil bisa bernapas sendiri dengan baik. Penanganan yang umumnya akan diberikan dokter kepada Si Kecil berupa

  1. Penggunaan alat bantu pernapasan yang membantu untuk menyalurkan udara ke paru-paru. Dalam beberapa kasus, sebagian bayi mungkin akan membutuhkan tambahan gas nitric oxide melalui tabung pernapasan.

  2. Pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah dan meredakan kejang bila terjadi

Namun, salah satu kunci terbaik untuk menangani asfiksia adalah antisipasi yang dilakukan oleh Bunda selama masa kehamilan. Penting bagi Bunda yang tengah mengandung untuk selalu memeriksakan kehamilan dengan USG agar kondisi kesehatan Si Kecil selalu dapat dipantau dengan baik dan berkala. Identifikasi faktor resiko Bunda dan bayi selama masa kehamilan akan membantu seluruh tenaga medis yang terlibat untuk mempersiapkan tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan melakukan resusitasi bayi.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan Bunda dengan mengkonsumsi makanan bernutrisi dan vitamin prenatal anjuran dokter untuk menghindari asfiksia dan menjaga kondisi kesehatan janin selama masa kehamilan ya Bunda.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu