Beranda Artikel 13-36 Bulan 6 Jenis Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Mengatasinya

2022/10/05 - 01:38:00pm     oleh Morinaga Soya
6 Jenis Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Mengatasinya

Alergi kulit pada anak nyatanya rentan terjadi. Menurut Academy of Family Physicians (AAFP) Menjelaskan bahwa gangguan kulit adalah salah satu keluhan yang paling sering dialami oleh bayi dengan jumlah kasus mencapai 70% dari keseluruhan kasus yang dilaporkan. Kulit bayi ataupun anak masih memiliki sensitivitas yang tinggi karena sistem imunnya yang belum sempurna.

Penyebab alergi kulit pada anak dapat terjadi karena dua hal. Pertama, karena kulit Si Kecil bersentuhan langsung dengan pencetus alergi (alergen). Kedua, adanya zat asing ataupun alergen yang masuk ke dalam tubuh sehingga membuat sistem kekebalan tubuh menganggapnya sebagai ancaman. Ketika terjadi, sistem imun akan melepaskan zat histamin ke kulit sebagai salah satu respon.

Benda asing yang disebut sebagai alergen ini bisa berbentuk apa saja. Mulai dari makanan, serbuk sari, kondisi udara yang kotor, suhu terlalu dingin, ataupun panas. Jika Bunda ingin tahu lebih dalam mengenai alergen dan apa saja yang bisa menjadi alergen, Bunda bisa Baca artikel berikut ya: Alergen, Pemicu Alergi yang Perlu Bunda Hindari

Kenali berbagai jenis alergi kulit dan cara mengatasinya berikut.

Jenis Alergi Kulit

Penyebab alergi kulit serta gejalanya bisa bervariasi pada setiap anak. Merangkum dari American College of Allergy Asthma and Immunology (ACAAI) berikut adalah penjelasan dari berbagai jenis alergi kulit yang umum menyerang bayi dan anak-anak:

1. Gatal-gatal dan Bengkak

Gatal-gatal dan bengkak yang dimaksud adalah munculnya bercak atau benjolan berwarna merah dan terasa gatal di permukaan kulit. Gatal-gatal akibat alergi umumnya akan langsung muncul usai Si Kecil memiliki kontak langsung terhadap alergen dan akan berangsur menghilang dengan sendirinya dalam hitungan jam atau dalam beberapa kasus dalam hitungan hari.

Reaksi alergi kulit yang muncul juga bisa berupa angioedema, pembengkakkan pada jaringan di bawah kulit. Kondisi ini bisa terjadi di berbagai bagian tubuh seperti bibir, kelopak mata, ataupun organ kelamin. Bila pembengkakan ini terjadi di tenggorokan, angioedema bisa menyebabkan Si Kecil mengalami sesak napas.

Gatal akibat angioedema ini bisa terjadi karena dipicu oleh gigitan serangga, infeksi virus, antibiotik, atau getah tanaman. Selain itu ada juga beberapa makanan seperti telur, susu, kacang gandum, atau makanan laut yang bisa mengakibatkan kondisi ini.

Cara Mengatasi Gatal dan Bengkak:

Untuk mengatasi gatal-gatal dan bengkak yang terjadi pada Si Kecil, Bunda bisa melakukan beberapa hal simpel berikut di rumah

  • Menghindarkan Si Kecil dari sumber pencetus alergi
  • Mengompres dengan air hangat area kulit yang terasa gatal dan terlihat bengkak
  • Mengoleskan krim yang sudah disarankan oleh dokter
  • Selalu pastikan Si Kecil tidak menggaruk area kulit yang teriritasi karena bisa membuatnya infeksi

2. Eksim

Eksim atau dermatitis atopik merupakan reaksi peradangan pada kulit yang ditandai dengan munculnya ruam kemerahan yang akan terasa semakin gatal bila digaruk, kulit menjadi kering, serta penebalan kulit yang kasar. Penebalan ini akan akan semakin terbentuk secara bertahap akibat kulit sering digaruk.

Menurut Seattle Children’s, setidaknya ada lebih dari 10% anak-anak di dunia menderita eksim. Penyakit ini sering dialami oleh Si Kecil yang berusia 1-5 tahun. Reaksi alergi bila Si Kecil menderita kondisi ditandai dengan munculnya ruam merah di area pipi, bagian belakang leher, punggung, dada, dan perut. Ada beberapa gejala lain yang menyertai seperti:

  • Biang keringat yang berwarna kemerahan
  • Kulit gatal yang akan terasa semakin gatal bila digaruk
  • Kulit kering
  • Kulit berkerak mirip korang yang muncul di bekas garukan
  • Infeksi kulit berulang yang kemungkinan bisa muncul akibat bekas garukan

Belum ada penelitian pasti mengenai penyebab munculnya eksim pada bayi dan anak. Namun dalam kebanyakan kasus, eksim terjadi lantaran dipicu oleh berbagai hal seperti udara kering, keringat, debu, serbuk sari, bulu hewan, sabun, dan deterjen. Selain paparan oleh alergen, beberapa makanan tertentu mulai dari telur, susu, kacang, gandum, dan makanan laut bisa menjadi pencetusnya.

Bunda bisa melakukan hal simpel untuk mencegah kambuhnya eksim pada Si Kecil dengan cara menghindari penggunaan sabun mandi atau deterjen pakaian dengan bahan kimia yang keras. Hindari juga menggunakan handuk dan pakaian yang bahannya kasar pada Si Kecil agar eksimnya tidak semakin parah atau makin terasa tidak nyaman.

Cara Mengatasi Eksim:

Ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan di rumah untuk menangani reaksi alergi pada Si Kecil yang satu ini untuk meredakan rasa nyaman yang dirasakan Si Kecil atau untuk mencegahnya kambuhnya eksim, antara lain:

  • Pastikan agar Bunda mengetahui penyebab Si Kecil menjadi alergi dan meminimalisasi kontak atau menghindarkan Si Kecil dari sumber alergen
  • Pilih produk khusus yang cocok untuk kulit Si Kecil dan selalu perhatikan label “hypoallergenic” atau produk khusus untuk kulit sensitif. Kandungan dalam produk ini telah diformulasi agar aman digunakan dan tidak akan mengiritasi kulit bayi
  • Hindari produk yang memiliki kandungan alkohol maupun wewangian yang menyengat
  • Menggunakan pelembab khusus untuk bayi pada Si Kecil guna mengurangi ruam merah dan sensasi gatal yang ia rasakan

Bila ruam semakin meradang atau disertai tanda infeksi lainnya, tentu hal ini akan membuat Si Kecil semakin rewel dan tidak nyaman. Bila sudah seperti ini sebaiknya Bunda segera berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

3. Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak merupakan salah satu jenis alergi kulit yang sering terjadi. Keadaan ini bisa muncul akibat kontak langsung dengan faktor pencetus atau alergen. Bila kulit Si Kecil menjadi kemerahan setelah memakai pakaian atau memegang sesuatu maka besar kemungkinan ia mengalami dermatitis kontak.

Pemicu dermatitis kontak sangat beragam, misalnya saja sabun, minyak telon, ataupun losion bayi. Beberapa partikel lain yang terdapat di udara seperti serbuk sari, cairan parfum, atau tidak sengaja terpapar abu atau asap rokok saat berada di luar ruangan bisa juga menyebabkan reaksi alergi pada Si Kecil loh Bunda. Tak luput bahan kimia yang terdapat di pasta gigi, obat kumur, deterjen, logam, ataupun obat-obatan yang digunakan untuk kulit bisa menjadi zat pemicu dermatitis kontak.

Gejala dermatitis kontak yang dialami Si Kecil bisa ringan tapi kadang juga berat. Gejala -gejala tersebut bisa berupa munculnya:

  • Bercak merah di kulit
  • Bengkak
  • Kulit pecah-pecah
  • Muncul rasa seperti terbakar di area kulit yang memiliki ruam
  • Muncul kutil atau benjolan
  • Kulit bersisik
  • Munculnya biang keringat.

Bila reaksi alergi terjadi di seluruh tubuh bayi, maka kemungkinan besar sabun atau deterjen yang digunakan untuk mencuci pakaiannya lah yang menjadi alergen. Gejala ini bisa langsung muncul setelah anak terpapar dengan alergen atau baru muncul beberapa hari kemudian. Gejalanya juga bisa menetap selama hitungan minggu pada Si Kecil.

Cara Mengatasi Dermatitis Kontak:

Karena dapat dipicu oleh banyak hal, ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan sebagai penanganan pertama untuk Si Kecil yang terkena dermatitis kontak:

  • Secara disiplin menghindarkan anak agar tidak berkontak langsung dengan sumber pencetus alergi
  • Bila terlanjur terekspos terhadap sumber alergen, maka segeralah basuh area kulit yang terkena zat iritan dengan air bersih dan sabun bebas kimia
  • Kompres area kulit yang teriritasi dengan kain yang sudah dibasahi untuk meredakan gejala radang
  • Bila ada area kulit yang mengeluarkan cairan karena terpapar zat alergen, segera balut dengan perban basah dan bawa Si Kecil ke dokter anak untuk dievaluasi lebih lanjut.
  • Oleskan krim yang dirujuk oleh dokter

4. Papular Urtikaria

Papular Urtikaria adalah reaksi alergi yang terjadi pada bagian tubuh tertentu akibat gigitan serangga. Beberapa jenis serangga seperti nyamuk, tungau, ataupun kutu dapat menyebabkan kondisi ini pada Si Kecil. Biasanya Urtikaria papula ini menyerang anak-anak dengan rentang usia 2 sampai 10 tahun.

Alergi satu ini disebut juga bentol-bentol, dan ditandai dengan sejumlah besar benjolan berwarna merah (papula) yang muncul dan pergi setiap beberapa hari dalam jangka waktu beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Beberapa benjolan juga dapat menjadi melepuh dan berisi cairan.

Di samping itu, ada beberapa gejala yang timbul dan menjadi pertanda bahwa Si Kecil mengalami urtikaria papula. Pertanda ini akan memudahkan Bunda untuk mengidentifikasi alergi apa yang tengah dialami Si Kecil:

  • Munculnya benjolan merah atau kulit yang melepuh di bagian atas kulit dan diikuti dengan rasa gatal
  • Beberapa lepuh dapat muncul secara berkelompok, namun terbagi secara simetris pada tubuh Si Kecil. Tiap benjolan umumnya memiliki ukuran antara 0.2 hingga 2 sentimeter.
  • Gejala ini bisa muncul di bagian tubuh mana saja
  • Setelah menghilang, terkadang benjolan ini akan meninggalkan bekas hitam pada kulit.
  • Gejalanya bisa saja kembali muncul selama berminggu-minggu atau selama beberapa bulan

Bentol-bentol ini pada dasarnya merupakan reaksi alergi berlebihan pada kulit dan jaringan bawah kulit akibat gigitan serangga. Alergi ini bukanlah jenis alergi menular. Kemudian melansir dari raredisease.org, terdapat beberapa penyebab lain dari alergi ini:

  • Akibat alergi obat
  • Suntikan alergi
  • Konsumsi makanan tertentu (terutama makanan seperti telur, kerang, kacang-kacangan, atau beberapa jenis buah)

Cara Mengatasi Papular Urtikaria:

Sebelum khawatir, ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk menangani ataupun mencegah kambuhnya urtikaria papular ini terhadap Si Kecil. Salah satunya adalah dengan menghilangkan sumber masalah dan juga memeriksa secara teratur manifestasi serangga yang mungkin saja berada di sekitar lingkungan rumah. Cara lainnya juga meliputi:

  • Menggunakan perawatan pestisida dan insektisida untuk mengurangi nyamuk ataupun serangga lain di sekitar rumah
  • Menggunakan obat-obatan dan perawatan pengendalian kutu pada hewan peliharaan di rumah
  • Batasi jumlah waktu yang akan dihabiskan Si Kecil di luar rumah terutama daerah yang yang rawan akan banyak serangga
  • Hilangkan keberadaan kutu ataupun tungau di rumah dengan membersihkan rumah serta perabot secara berkala
  • Sering memandikan hewan peliharaan
  • Bersihkan seluruh area dalam ruangan di rumah, terutama kandang atau tempat tidur hewan
  • Membersihkan ranjang agar terhindar dari kutu kasur

5. Alergi air liur

Sesuai dengan namanya, alergi air liur ini terjadi karena adanya kontak dengan air liur atau bisa disebut dengan drool rash. Keluarnya air liur dari Si Kecil terutama saat masih berusia di bawah 2 tahun merupakan hal normal karena mereka belum mampu menahan keluarnya air liur.

Air liur yang membasahi mulut dan dagu ini ternyata bisa menyebabkan terjadinya reaksi alergi kulit. Beberapa hal yang menandakan bila Si Kecil mengalami alergi ini adalah:

  • Muncul ruam merah di area mulut, dagu, ataupun dada
  • Adanya benjolan kecil di mulut atau dagu ketika terkena air liur
  • Ruam merah juga sering terlihat di sudut bibir

Karena masih umum terjadi pada balita atau anak-anak yang masih menyusui, maka langkah pencegahan yang bisa Bunda lakukan adalah segera membersihkan mulut Si Kecil sesaat setelah menyusu atau setelah makan. Bunda juga perlu memperhatikan agar menghindari sebisa mungkin air liur yang menetes ke bagian kulit seperti leher atau dagu agar ruam nya tidak semakin parah.

Bila ruam yang muncul malah terlihat berkerak dan berwarna kuning, hal ini bisa menjadi adanya tanda infeksi. Baiknya, Bunda segera memeriksakan Si Kecil ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan medis.

6. Ruam Popok

Ruam popok ini kemungkinan adalah salah satu alergi paling sering ditemui pada bayi atau anak-anak yang masih menggunakan popok. Gejala paling umum adalah dengan munculnya ruam kemerahan di daerah bokong ataupun kelamin karena alergi terhadap produk baru atau iritasi akibat kulit memiliki kontak terlalu lama dengan urin dan feses sehingga area bokong dan sekitarnya menjadi lembab.

Bila tidak segera ditangani dengan baik, maka ruam popok bisa menimbulkan infeksi sekunder, baik bakteri maupun jamur. Untuk mencegah terjadinya ruam popok dan menghindari memperparah ruam popok pada Si Kecil, maka ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan:

  • Ganti popok Si Kecil sesering mungkin untuk mencegah area bokong dan sekitarnya menjadi lembab
  • Pastikan Bunda membersihkan area bokong, kelamin, serta lipatan paha saat mengganti popok
  • Setelah dibersihkan, keringkan dengan handuk secara perlahan atau dengan menepuk-nepuk pelan Si Kecil
  • Oleskan krim untuk ruam popok. Pilih krim yang bersifat hypoallergenic untuk mengatasi iritasi atau kemerahan pada kulit Si Kecil.

Obat Alergi Kulit Pada Anak

Setelah mengetahui jenis alergi kulit pada anak dan cara mengatasinya. Solusi terakhir yang bisa diberikan pada Si Kecil ialah dengan memberikannya obat. Tapi, hal ini sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter ya. Lalu, apa saja obat alergi kulit pada anak? Berikut pilihannya:

1. Hidrokortison

Hidrokortison adalah obat yang biasa digunakan untuk mengurangi gejala reaksi alergi pada kulit dan meredakan peradangan. Obat ini tersedia dalam bentuk krim yang bisa dioleskan ke area kulit yang alergi..

2. Antihistamin

Antihistamin, sekalipun tidak menyembuhkan alergi, obat ini bisa mengurangi reaksi gejala alergi yang terjadi. Contoh antihistamin adalah: Diphenhydramine dan Doxylamine. Karena antihistamin bisa membuat Si Kecil mengantuk, sebaiknya berikan obat ini saat mereka hendak tidur. Selain kedua obat di atas, Bunda juga dapat menggunakan obat alergi alami lainnya di sini: 5 Obat Alami untuk Mengatasi Alergi Makanan pada Si Kecil.

Demikian beberapa jenis alergi kulit yang bisa saja menyerang Si Kecil beserta obat yang bisa diberikan. Bila keadaan Si Kecil tidak kunjung membaik, Bunda disarankan untuk membawa Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Bila masih ragu apakah Si Kecil mengalami alergi atau tidak, Bunda bisa mengecek resiko alergi Si Kecil menggunakan tes alergi Morinaga Soya ya . Setelah Bunda mengetahui seberapa besar resikonya, Bunda bisa menentukan langkah yang tepat dan berkonsultasi langsung dengan ahlinya untuk mengatasi alergi yang mungkin sedang terjadi pada Si Kecil.





medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu