Beranda Artikel Alergi Hubungan Antara Alergi Tungau dan Udang pada Si Kecil

Hubungan Antara Alergi Tungau dan Udang pada Si Kecil

2025/12/31 - 11:37:31am     oleh Morinaga Soya
Hubungan Antara Alergi Tungau dan Udang pada Si Kecil

Si Kecil yang memiliki alergi tungau sangat mungkin juga mengalami reaksi alergi saat mengonsumsi udang. Kondisi ini dikenal sebagai reaksi silang (cross-reactivity), yaitu saat tubuh Si Kecil mengenali dua pemicu alergi yang berbeda sebagai ancaman yang serupa, sehingga memunculkan reaksi alergi yang mirip.

Hal ini terjadi karena struktur protein pada tungau dan udang memiliki kemiripan, sehingga sistem imun Si Kecil bisa salah mengenali keduanya. Dengan memahami hubungan ini, Bunda bisa lebih waspada dalam memilih makanan dan menjaga lingkungan Si Kecil, sehingga penanganan alerginya menjadi lebih tepat sasaran dan risiko reaksi alergi dapat diminimalkan.

Mengapa Alergi Tungau Bisa Memicu Alergi Udang?

Tungau debu rumah dan udang sebenarnya masih “berkerabat” dalam dunia hewan. Keduanya termasuk dalam kelompok besar artropoda, yaitu hewan dengan struktur tubuh dan protein tertentu yang mirip. Karena hubungan inilah, tubuh anak yang sensitif terhadap tungau bisa saja bereaksi saat terpapar udang, meskipun pemicunya terlihat berbeda.

Kesamaan reaksi ini terutama disebabkan oleh adanya protein bernama tropomyosin. Protein ini terdapat baik pada tungau maupun udang. Pada Si Kecil yang memiliki alergi tungau, sistem imun sudah mengenali tropomyosin sebagai musuh.

Saat ia mengonsumsi udang, tubuhnya bisa salah mengira protein udang tersebut sebagai protein tungau yang biasa memicu alergi, lalu langsung memunculkan reaksi pertahanan seperti gatal, ruam, atau gangguan pencernaan.

Waspadai Gejala Reaksi Silang yang Muncul Tak Terduga

Pada reaksi silang antara alergi tungau dan udang, gejala pada Si Kecil bisa muncul secara tiba-tiba dan sering kali dimulai dari tanda yang ringan. Bunda mungkin melihat gatal di mulut atau bibir, kulit tampak kemerahan, bentol, atau gatal setelah Si Kecil mengonsumsi seafood. Pada beberapa anak, reaksi juga bisa menyerupai alergi debu, seperti bersin-bersin, hidung terasa gatal, batuk, atau napas terasa tidak nyaman.

Hal yang perlu Bunda perhatikan, reaksi ini bisa terjadi meskipun Si Kecil tidak sedang berada di lingkungan berdebu. Artinya, pemicunya bukan paparan tungau secara langsung, melainkan karena tubuh Si Kecil bereaksi terhadap protein makanan yang strukturnya mirip dengan protein tungau, seperti tropomiosin pada udang. Kondisi inilah yang membuat reaksi silang sering terasa membingungkan.

Tak jarang, kondisi ini luput dari perhatian, karena Bunda mengira pemicu alerginya berbeda, satu dari debu, satu lagi dari makanan. Padahal, sistem imun Si Kecil mengenali keduanya sebagai ancaman yang sama. Dengan memahami kemungkinan reaksi silang ini, Bunda bisa lebih sigap mengenali gejala sejak awal dan mengambil langkah yang lebih tepat untuk melindungi Si Kecil.

Langkah Pencegahan untuk Anak dengan Riwayat Alergi

Jika Si Kecil memiliki riwayat alergi tungau, langkah pertama yang bisa Bunda lakukan adalah mengurangi paparannya di rumah. Bunda disarankan mencuci sprei, sarung bantal, dan selimut dengan air panas secara rutin, serta membersihkan kasur dan sofa menggunakan vacuum cleaner agar tungau tidak mudah berkembang. Lingkungan tidur yang bersih dapat membantu mengontrol gejala alergi dan mengurangi beban tubuh Si Kecil dalam merespons alergen.

Selain dari lingkungan rumah, Bunda juga perlu lebih berhati-hati saat mengenalkan menu seafood seperti udang, kepiting, atau lobster. Pada anak yang sudah terdiagnosis alergi tungau, makanan laut tertentu berpotensi memicu reaksi silang, sehingga sebaiknya diperkenalkan dengan pengawasan ekstra atau dikonsultasikan terlebih dahulu. Langkah ini penting untuk mencegah reaksi alergi yang muncul secara tak terduga.

Tak kalah penting, biasakan Bunda untuk mencatat setiap reaksi alergi yang muncul, baik saat bersih-bersih rumah maupun setelah Si Kecil makan makanan tertentu. Catatan sederhana ini dapat membantu Bunda melihat pola alergi yang dialami Si Kecil, sehingga penanganan ke depannya bisa lebih tepat dan terarah.

Pentingnya Memastikan Pemicu dengan Tes Alergi yang Akurat

Bunda, membedakan apakah Si Kecil mengalami alergi murni udang, alergi murni tungau, atau justru reaksi silang di antara keduanya memang tidak mudah jika hanya dilihat dari gejala luar. Keluhan seperti gatal, ruam, bersin, atau sesak napas bisa tampak serupa, padahal pemicu utamanya bisa berbeda. Karena itu, menebak-nebak penyebab alergi tanpa pemeriksaan yang tepat justru berisiko membuat penanganannya kurang efektif.

Untuk memastikan pemicu alergi secara lebih akurat, diperlukan pemeriksaan medis khusus, seperti tes tusuk kulit (skin prick test) atau pemeriksaan IgE spesifik melalui darah. Tes ini membantu dokter melihat dengan lebih jelas alergen apa yang paling memicu reaksi tubuh Si Kecil, termasuk apakah ada hubungan antara alergi tungau dan makanan laut seperti udang. Dengan hasil yang tepat, langkah pencegahan dan pengelolaan alergi pun bisa dilakukan lebih terarah.

Penting juga untuk diingat, Bunda, bahwa setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, jenis tes alergi yang dilakukan sebaiknya didiskusikan bersama dokter ahli, agar metode yang dipilih sesuai dengan usia, kenyamanan, dan kondisi Si Kecil. Pendekatan yang tepat sejak awal akan membantu Bunda merasa lebih tenang dan percaya diri dalam mendampingi Si Kecil yang memiliki alergi.

Setiap jenis tes alergi memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda, tergantung pada kondisi Si Kecil. Agar Bunda lebih siap sebelum membawa Si Kecil menjalani pemeriksaan, penting untuk memahami perbedaan jenis tes alergi serta peran dokter dalam menentukannya.

Yuk, Bunda, pelajari penjelasan lengkapnya di sini: Memahami Tes Alergi untuk Memastikan Pemicu Gejala Si Kecil.

Referensi:

  • World Allergy Organization.World Allergy Organization Anaphylaxis Guidance 2020. Diakses 24 Desember 2025. https://www.worldallergyorganizationjournal.org/article/S1939-4551(20)30375-6/fulltext
  • NIH. Shrimp sensitization in house dust mite allergic patients. Diakses 24 Desember 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7065430/
  • American College of Allergy, Asthma & Immunology (ACAAI). Shellfish Allergy. Diakses 24 Desember 2025. https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/food/shellfish/
  • American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI). Dust Mite Allergy. Diakses 24 Desember 2025. https://www.aaaai.org/tools-for-the-public/conditions-library/allergies/indoor-allergens-ttr




medical record

Berapa Besar Risiko Alergi Si Kecil?



Cari Tahu
bannerinside bannerinside
allysca